AES 012 - Mereka itu awalnya Kita
Lovendria
Thursday December 4 2025, 9:55 AM
AES 012 - Mereka itu awalnya Kita

Hari Rabu kemarin, karena sedang libur mengajar coding, saya sempat menemani anak-anak, melihat mereka belajar parkour di Taman Film. Banyak sekali anak-anak bermain dan berlari di sana. Senang rasanya melihat energi mereka. Tapi, di balik keriuhan itu, ada hal yang membuat saya geram: sampah makanan di mana-mana. Bukan sampah murah—wadah ice cream cup yang jelas harganya tidak murah. Berserakan. Tidak ada kesadaran. Berduit bukan berarti beradab dalam menjaga lingkungan.

Saya punguti satu per satu. Selain agar anak-anak bisa beraktivitas dengan nyaman, saya ingin fasilitas umum ini tetap bersih. Karpet plastik di sini pun sudah banyak yang rusak: copot, sobek, bahkan hilang. Saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab memperbaikinya, tapi rasanya sedih melihat fasilitas umum yang tidak dijaga bersama.

Saya memang senang bermain dengan anak-anak. Mereka jujur dan apa adanya. Waktu itu saya sempat ngobrol dengan dua anak kecil yang tingginya bahkan tidak sampai sepinggang saya. “Umur kamu berapa?” tanya saya. “Empat tahun, Om,” jawabnya. Yang satu lagi bilang dua tahun.

Tiba-tiba tiga anak muda lewat. Mereka ikut menjawab pertanyaan saya, “Tujuh belas tahun!” Nah, ini dia yang perlu saya ajak bicara. Saya panggil mereka, “Wah, hebat kamu berani menyahut.” Mereka tertawa. Saya tanya sekolah mana, kelas berapa—ternyata kelas 11.

Kami duduk melingkar. Saya tes perkalian dasar. Butuh waktu lama untuk mereka menjawab. Ada yang bisa, tapi bisa dibilang… untuk usia segitu, ini masalah besar. 7 × 7 tidak tahu. 7 × 2 masih menghitung lama.

Saya tahu banyak remaja kita mengalami hal seperti ini. Tapi saya lihat mereka sopan dan baik. Hanya saja, sopan dan baik saja tidak cukup untuk masa depan mereka.

Saya memperkenalkan diri. Saya cerita bahwa saya sedang membangun komunitas catur untuk anak-anak, bukan hanya untuk mengajari strategi, tapi juga moral. Wajah mereka mulai serius. Apalagi setelah saya tanya tentang pekerjaan orang tua mereka, situasi ekonomi keluarga, dan bagaimana orang tua berusaha memberikan pendidikan terbaik—namun hasilnya seperti sekarang. Saya ajak mereka membayangkan: bagaimana kalau suatu hari mereka punya anak dengan perangai dan ilmu yang sama seperti mereka saat ini?

Wajah mereka berubah. Ada yang tertunduk.

Lalu saya tanya, “Kalian berani menegur orang yang buang sampah sembarangan? Seperti kalian berani menyahut pertanyaan saya tadi walaupun saya tidak tanya kalian?” Mereka saling pandang. Kompak menjawab: tidak berani.

Ini masalah besar. Banyak pembiaran yang kita lakukan. Kita tidak peduli, atau takut, atau malas. Selama bukan urusan kita, kita diam.

Saya lanjutkan. “Saya orang terpelajar, saya bisa berhitung. Kalau perusahaan cari pegawai kantoran, siapa yang dipilih: kalian atau saya?” Mereka menjawab cepat: “Om.”

Mereka sudah tahu alasannya. Dan dari situ saya jelaskan: kalau tidak bisa bersaing dengan otak, kalian harus bekerja dengan otot. Kerja kasar.

Salah satu dari mereka berbadan besar. Saya tantang pancoan. Mereka tertawa, mungkin berpikir: lawan orang tua bisa menang. Apalagi temannya memang kuat dan suka pancoan juga. Tapi saya menang. Kami tertawa, lalu saya ajak duduk lagi.

Sekarang saya tanya lagi, “Kalau ada yang cari pekerja angkat-angkat, siapa yang diterima? Kalian atau saya?” Mereka terdiam. Kami tertawa bersama. Mereka sadar: di otak kalah, di otot pun belum tentu menang.

Saya tanya satu hal terakhir: “Apa yang bisa membuat kalian menang dari saya?” Mereka diam lama. Tidak ada jawaban selain geleng kepala.

Saya jawab sendiri: kalian masih muda. Itu kelebihan kalian. Kalian masih punya waktu untuk berubah. Untuk belajar. Untuk Indonesia.

Tegurlah mereka yang salah, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk bertumbuh bersama. Belajarlah baik-baik agar kalian punya kemampuan berpikir yang layak. Agar kelak kalian bisa menggantikan mereka yang sekarang jadi pejabat dengan cara yang lebih bersih, lebih bermoral, lebih cerdas.

Karena mereka yang kita kritik hari ini… awalnya juga adalah kita. Mereka dulu membuang sampah kecil. Lalu ketika sudah berkuasa, sampahnya membesar—bukan lagi sampah plastik, tapi keputusan, amanah, moral.

Kita semua sebenarnya sudah sama-sama salah. Dari fasilitas umum ini saja terlihat: pemerintah tidak memperhatikan, dan masyarakat pun membuang sampah sembarangan. Tapi justru di sinilah kita belajar. Kita masih bisa berubah, bersama-sama, untuk Indonesia yang lebih hebat. Karena kalau kita tetap menjadi diri kita yang sekarang, yakinlah—ketika suatu hari kita berada di posisi mereka, tidak akan ada perubahan apa pun.

Mengenang untuk saudara-saudaraku yang tertimpa bencana di Sumatera sana. Semoga Tuhan menyertai kalian.

Andy Sutioso
@kak-andy   5 months ago
Wah sudah lama ga baca tulisannya Pen. Terima kasih ceritanya. Menarik! Banyak poin yang saya sepakati. 🙏🏼🤗
Lovendria
@lovendria   4 months ago
Terima kasih Kak. Sekali-kali ikut kumpul dengan bocah-bocah catur kami Kak.
You May Also Like