Menulis sudah menjadi hobiku sejak dulu. Kalau merasa sesuatu aku menuliskannya di diary, saat memiliki ide aku menuliskannya menjadi sebuah cerita dan ketika aku mengalami sesuatu aku menuliskannya di sebuah buku. Rasanya ada yang kurang apabila dalam satu hari aku belum menulis, seperti ada yang hilang dan perasaanku jadi berat karena belum ada yang tersalurkan.
Sejak SMP, kalau ada proyek minat, pasti proyekku tidak jauh-jauh dengan menulis, entah membuat buku, membuat artikel tulisan atau lainnya, pasti berhubungan dengan merangkai kata. Aku sendiri tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam menulis, apalagi menulis sesuatu yang tidak formal, biasanya semua kata akan mengalir dan menjadi sebuah tulisan. Dalam waktu yang singkat, aku bisa menghasilkan tulisan berhalaman-halaman. Berbeda dengan saat aku mengerjakan soal matematika, bahkan yang mudah sekalipun aku membutuhkan waktu yang sangaaat lama.
Bahkan sampai KPB ini aku masih suka menulis di blog dan juga di ririungan pastinya di Atomic Essay. Karena minatku ini, aku jadi berminat untuk bergabung menjadi content writer di beberapa organisasi. Ceritaku mengenai organisasi sudah pernah aku coba ceritakan di tulisanku sebelumnya. Awalnya aku pikir akan mudah menjadi content writer di organisasi, toh hanya menulis pikirku. Aku tidak ada kesulitan dalam menulis jadi akan mudah dan cepat bagiku menulis. Ternyata tidak.
Menjadi content writer bukan sekedar menulis suatu hal, kita juga harus mahir dalam bidang copy writing, bagaiman amengemas sebuah konten menjadi menarik dalam bentuk tulisan. Bagaimana menyampaikan informasi dengan singkat, jelas dan padat serta menarik perhatian pembaca. Bahkan di beberapa organisasi, para content writer harus bisa mencari kontennya sendiri, bahasan apa yang mau ditulis, jadi bukan hanya kemampuan menulisnya tapi kita juga harus mahir melakukan riset dan menentukan konten mana yang akan tinggi peminatnya.
Hal itu tentunya menjadi tantangan tersendiri untukku, aku jadi perlu belajar dan pastinya memperbaiki banyak hal dalam sisi menulisku, karena setiap konten organisasi punya keunikannya masing-masing. Setiap organisasi juga pasti punya atasannya atau head of content jadi setelah kita menulis kita perlu minta proofread dari headnya untuk kemudian direvisi, bahkan bisa direvisi berkali-kali. Walaupun cukup melelahkan namun mneyenangkan karena itu merupakan passion dan minatku jadi mau ribet kayak apa juga akan tetep aku lakuin, hihi
wah menarik sekali ini.. menyampaikan sesuatu secara singkat, padat, jelas, dan perlu menarik. boleh punya gaya tulisan sendiri ga sih kalo content writer itu Ta?
Boleh banget kak, asalkan tetap sesuai dengan beberapa ketentuan organisasinya. Contohnya ada panggilan khusus bagi audiens/followers yang perlu kita sesuaikan dan tuliskan di kontennya. Tapi saat menulis kita bebas mengekspresikan dan mengemas konten tersebut