AES 1164 Memulai Yang Baru
joefelus
Sunday August 4 2024, 12:00 AM
AES 1164 Memulai Yang Baru

Saya bangun agak siang. Untuk pertama kalinya sejak beberapa saat saya dapat tidur dengan sangat nyenyak. Mungkin tubuh saya begitu lelah, tidak hanya tubuh tapi juga mental dan itu saya yakin menguras hampir seluruh energi. Kondisi itu begitu terasa semalam ketika saya tetap memaksakan diri menyelesaikan keinginan memasak saya untuk dibawa ke pesta hari ini. Semalam saya menyiapkan isi lumpia semarang. Rencananya siang ini akan saya bawa ke pesta. Nah dalam kondisi lelah, kegiatan memasak saya menjadi tantangan tersendiri. Untung saja memasak adalah hobby saya yang berada di urutan paling atas, sehingga saya tetap dapat menjalaninya hingga menjelang tengah malam.

Ketika saya terjaga, saya langsung disadarkan akan fakta bahwa saat ini saya sudah tidak memiliki rumah maupun pekerjaan. 2 hal esensial untuk dapat menjalani hidup yang "normal". Saya juga menyadari mulai hari ini saya tidak perlu lagi bangun pagi dan tergesa-gesa menyiapkan siri untuk pergi ke kantor. Saya juga jadi ingat ritual pagi hari berangkat bekerja berdua dengan mas Aris sambil menyanyi lagu-lagu jadul tidak akan terjadi lagi. Pagi ini saya akan mulai kehilangan hal-hal kecil yang biasa saya lakukan, dan percaya atau tidak, justru hal-hal ini sangat penting bagi saya.

Ini sebenarnya yang sangat menbedakan antara waktu saya tinggal di Bandung dan di sini. Sama-sama bangun pagi, tapi dalam perjalanan keluar dari rumah saya sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal kecil seperti merenung dan sebagainya. Bandung menurut saya merupakan kota yang tergesa-gesa. Nah ini adalah pekerjaan rumah yang akan saya targetkan beberapa saat mendatang yaitu menyiapkan diri untuk menghadapi dunia yang tergesa-gesa.

Saya yakin kuncinya ada pada diri sendiri. Selama ini saya lebih sering terbawa arus dan segala sesuatu seringkali ditentukan oleh berbagai faktor di luar diri saya. Namun ketika sekeliling sama begitu tenang dan damai, saya bisa jauh lebih menemukan nilai-nilai kehidupan dalam keseharian saya. Nah ini yang mungkin merupakan hak yang perlu saya capai.

Sekali lagi yang membedakan kehidupan saya di sini dan di Bandung adalah "speed". Begitu saya mulai menginjakkan kaki dan berbaur dengan arus kecepatan di masyarakat, saya mulai merasa kehilangan jati diri dan menjadi satu dengan kondisi di luar saya. Ketika semua gegap gepita terjadi, saya menjadi bagian dari itu. Kondisi demikian yang membuat saya tidak aware dan tidak mindful, sebab saya menjadi bagian dari chaos itu.

Ralph Waldo Emerson pernah berkata: "We are always getting ready to live but never living."

Kita selalu tergesa-gesa melakukan banyak hal. Inging cepat ini dan itu, ingin cepat berkarya, ingin cepat berhasil dan sebagainya. Kita lupa bahwa tergesa-gesa menumpuk stress dalam menjalani hidup, semakin lama kondisi ini akan semakin menggerogoti diri kita. Ketika kita tergesa-gesa, seolah-olah kita berada dalam kodisi "kurang". Kita mempercepat untuk segera meraih sesuatu. Ketergesa-gesaan membentuk kondisi yang menghambat kita hidup in the present. Sangat logis bukan? Karena bergegas mengimplikasikan bahwa kita ingin segera berada di depan, lebih cepat bukannya berada di "saat ini". Ini yang tidak ingin saya lakukan lagi. Pada intinya saya harus bisa mebil mindful, lebih aware terhadap kondisi sekarang and live in the present.

Foto credit: berkeleywellbeing.com

You May Also Like