Braga yang kita kenal, adalah satu jalan searah yang sering di jadikan pilihan untuk "hangout" dengan teman-teman atau keluarga, dan di jadikan tempat wisata. Namun ternyata Braga lebih dari itu. Setelah aku pergi keliling Braga yang ternyata lebih dari hanya satu jalan searah, aku seperti pergi ke Bandung "nowhere". Banyak pemukiman warga yang sembunyi di belakang indahnya bangunan Braga di depannya. Dari sisi terang dan gelap aku dapatkan di Braga.
Pertama-tama, eksplorku di awali dengan keliling di jalan raya. Jl.Braga, Jl.Asia Afrika, dan sedikit jalanan di sekitarnya. Dari bangunan jaman dahulu yang masih indah terpampang, sejarah yang muncul dari tiap bangunan dan tempat, ramainya warga yang sedang berwisata di sekitar sana. Perasaan senang, kagum, dan penasaran tentang keadaan dulu kala muncul pada saat aku keliling di jalan-jalan tersebut. Nama orang-orang terkenal di sejarah pun muncul pada saat mengeksplor jalan tersebut.
Namun setelah aku pergi masuk ke belakang jalan-jalan yang terkenal tersebut, perasaanku langsung berubah. Diawali masuk ke salah satu gang di Jl. Braga, dengan warga yang sedang berbincang di luar rumahnya. Suasana masih ramai dan asik. Anak-anak ynag sedang bermain di satu lapangan. Lanjut jalan, mulai sepi. Tidak terlalu banyak warga ynag nongkeong di depan rumah seperti sebelumnya. Pencahayaan pun semakin mulai minim, dikarenkan rumah warga yang sangat padat. Saat mulai masuk lebih dalam lagi, pencahayaan lebih redup, tertutup dengan bangunan yang ada di atas kepalaku. Warga yang menyalakan lampu dari dalam rumahnya otomatis terlihat keluar, suara televisi yang nyaring, rumah yang padat, tidak ada warga yang berkeliaran seperti sepelumnya, dan lembab. Kemudian sedikit menyusuri sungai Cikapundung, dari pinggir pemukiman warga. Suatu pengalaman baru bagitu masuk kedalam pemukiman warga yang padat. Walaupun begitu saat kami jalan sering kali keluar masuk wilayah yang pencahayaannya minim, dan yang terang di jalan yang lebih besar. Perasaan takut yang baru dirasakan olehku. Takut, risih, dan sesak, yang kurasakan pada saat itu.
Setelah keluar dari pemukiman warga, dilanjut dengan mengunjungi Pasar Antik. Kerennya padasaat itu untuk mencapai lantai yang diinginkan kami naik lift. Lift di pasar. Saat mulai eksplor, aku mulai mencium bau apek, tua, balsam, lembab, masuk ke hidungku. Rasanya seperti saat aku masuk ke kamar kakekku. Anehnya aku merasakan perasaan campur aduk. Saat melihat beragam barang yang usianya lebih tua dari ku, aku merasakan kagum dan senang masih bisa melihatnya. lanjut lihat beragam patung dari wujud manusia dan hewan, membuatku takut, merinding, risih, tidak mau melihatnya tapi ingin melihat. Pusing karena bau, dan pusing karena perasaan ynag campur aduk senang, kagum, takut, risih, membuatku ingin segera keluar.
Dari 2 hari aku mengeksplor Braga, rasanya seperti telah jalan-jalan selama 1 tahun. Capek, banyak informasi baru, dan pengalaman yang ku lihat dan rasakan. Senang rasanya bisa melihat Bandung yang beragam, bisa keluar dari lingkunganku yang sudah ku kenal.