Saya suka dengan perkampungan. Dalam benak saya perkampungan ideal yang saya sukai adalah perkampungan yang berjarak. Hmmm.. sulit juga menjelaskannya. Singkatnya, saya senang daerah yang asri, hunian yang tidak terlalu besar tapi memiliki ruang terbuka yang lumayan luas dan tidak berdempetan dengan tetangga. Itu maksudnya berjarak.
Salah satu alasan saya tinggal di daerah timur Bandung, karena saat saya memilih lahan untuk hunian, disekitar situ masih kebun. Dari rumah saya bisa langsung melihat persawahan dan gunung. 20 tahun yang lalu tampaknya sangat ideal. Di samping kiri kebun singkong, jagung, cabe dan sebagainya. Di samping kanan juga kebun. Oleh sebab itu saya membangun rumah dengan teras di lantai atas lengkap dengan mezzanine. Rumah hampir selesai, saya harus pergi merantau. Begitu kembali 10 tahun kemudian, kebun samping rumah hilang, depan rumah penuh bangunan dan saya kehilangan pemandangan sawah dan gunung. Kecewa! Bandung menjadi sesak dan sulit bernapas. Akhir pekan saya gunakan untuk diam di rumah mengistirahatkan mental.
Kok mengistirahatkan mental? Ya, sungguhan! Tiada hari buat saya tanpa rasa jengkel ketika di jalan raya. Oleh sebab itu saya selalu keluar rumah sebelum matahari terbit. Dulu Kano adalah murid pertama yang tiba di Smipa, seringkali bapaknya (saya) yang buka gerbang biru hahaha. Kenapa kok rajin? Bukan masalah rajin, kalo nuruti hati, saya penginnya bangun siang. Tapi demi kesehatan mental dan tidak misuh-misuh di jalan, paling nyaman berangkat subuh. Lalu baru pulang ketika lewat magrib di mana kebanyakan orang sudah pulang dan jalanan lebih lengang.
Nah saat ini saya sudah istirahat hampir 5 tahun. Tinggal di kota kecil yang penduduknya kalau dibandingkan dengan Bandung yang hampir 2.5 juta jiwa di sini hanya 7%-nya saja yaitu sekitar 175 ribu. Saya bisa tidur sampai agak siang dan jalan kaki ke kantor 20 menit, mirip seperti waktu jaman sekolah di kampung, kemana-mana jalan kaki atau naik sepeda. Sayang sepeda saya di sini dicuri orang.
Kembali ke soal kampung, saya pernah singgah di Truro, kampung kecil dekat Province Town di Cape Cod, Massachusset. Sebuah rumah yang dengan tetangga berjarak mungkin 100 meter atau bahkan lebih. Kamar mandinya pakai pancuran di luar rumah dengan lantai batu-batuan. Rumah dikelilingi kebun mulai dari depan, samping kiri kanan dan yang di belakang sangat luas dengan pemandangan laut! Ini memang rumah peristirahatan. Kalau musim.panas baru ada penghuninya, musim dingin kosong karena penghuninya ngungsi ke tempat lebih hangat. Bayangan saya, ini adalah kampung ideal apalagi jumlah populasinya kurang dari 2000 orang, karena hanya ada sekitar 500-an keluarga!
Saya juga pernah tinggal beberapa waktu di Woodstock, New York. Juga di kampung yang terkenal dengan festival musik jadul tahun 1969. Ini kota nyentrik penuh dengan artis dan seniman. Jangan heran kalau siang hari ada orang sedang berpuisi di perempatan jalan atau opa dan oma melukis di pinggir hutan. Penduduknya hanya 5000-an. Mungkin malah lebih banyak rusa dan kalkun jika dibandingkan dengan manusianya. Saya makan buah cherry termanis seumur hidup di kampung ini!
Satu lagi kampung yang saya sukai adalah di Blue Jay, California. Daerah pegunungan, sama seperti di kota saya sekarang yang elevasinya di atas 5000 kaki. Tapi bedanya penduduk di sana hanya 2000an! Saya tinggal di rumah kayu yang dikelilingi hutan pinus. Dekat sana ada sebuah danau yang sangat Indah kalau tidak salah namanya Bear Lake!
Sepertinya, jika memang saya ingin tinggal di kampung ideal, dengan referensi dari pengalaman saya tinggal di kampung, tampaknya harus di luar pulau Jawa. Ini sepertinya bakal sangat menantang!