Jujur, pemikiran ini tiba-tiba lewat di kepalaku setelah aku selesai membaca ulang buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela dan Laskar Pelangi. Aku ngerasa ada perbedaan perasaan yang lumayan kontras setelah membaca kedua buku itu. Di buku Totto-chan, walaupun sekolah mereka emang unik dan punya tantangannya sendiri, tapi kalau dilihat-lihat, Pak Kobayashi dan murid-muridnya sebenarnya datang dari kondisi finansial yang cukup baik. Memang sih, di akhir cerita ada krisis ekonomi dan sosial akibat Perang Dunia II di Jepang, tapi itu kan karena kondisi negaranya, bukan karena mereka dari keluarga yang kekurangan sejak awal.
Beda banget sama Laskar Pelangi. Di sana, kita bener-bener dihadapkan sama perjuangan yang dimulai bahkan dari minus. Sekolah yang mau roboh, anak-anak buruh timah yang miskin, dan keterbatasan fasilitas yang ekstrem banget. Dari perbandingan dua buku inilah aku jadi merenung: sebenarnya lebih terkesan mana, sih? Mencapai sesuatu karena dibantu oleh kekayaan atau yang terdesak oleh keterbatasan?
Kalau ditanya secara jujur, siapa sih di dunia ini yang mau ada di posisi yang susah kayak Laskar Pelangi? Jawabannya pasti nggak ada. Secara logika, kita semua pasti pengennya kayak murid-murid di Tomoe yang hidup serba cukup, fasilitas lengkap, dan kalau butuh apa-apa, biayanya ada. Nggak perlu pusing, nggak perlu bersusah payah. Rasa puas dan senang pas semua hal berjalan mulus karena disokong modal atau kekayaan yang cukup itu emang nyata, dan jujur aja, itu posisi paling nyaman buat semua orang.
Tapi, pernah nggak sih kepikiran?
Kenapa ya, hal-hal yang paling menakjubkan, paling indah, dan paling membekas buat dikenang justru selalu lahir ketika kita lagi terdesak sama keterbatasan? Pas kita dipaksa buat memeras otak, memaksimalkan apa aja yang ada di tangan kita biarpun cuma modal nekat atau alat seadanya kayak Lintang dan teman-temannya.
Ada beda rasa yang tipis tapi nyata di sini. Kalau kita mencapai sesuatu karena jalannya udah dibukain pakai uang atau fasilitas, rasanya emang bangga. Tapi ya udah, bangganya "normal" aja. Ceritanya jadi kerasa flat pas mau diceritain ulang ke orang lain, karena ya... semua orang juga tahu kalau jalurnya emang sewajarnya bakal sukses. Kurang ada bumbunya.
Tapi coba bayangin pas kita ada di posisi yang serba terbatas. Pas semua orang mikir kita bakal gagal, atau bahkan pas kita sendiri ragu sama kemampuan kita karena nggak punya modal apa-apa. Terus, dengan segala keterbatasan itu, kita pelan-pelan merangkak, putar otak, kreatif pakai cara-cara yang nggak masuk akal, sampai akhirnya boom! Kita berhasil mencapai garis finish.
Nah, di momen itulah rasa bangganya bakal terasa SANGAT.
Pencapaian yang dibantu kekayaan itu emang bikin hidup jadi lebih gampang dan menyenangkan. Tapi pencapaian yang lahir dari keterbatasan, dari usaha yang maksimal bikin hidup kita jadi punya "cerita". Itu yang bikin kenangannya jadi karya yang epik banget pas kita tengok ke belakang nanti di masa tua. Kita nggak cuma bangga sama hasil akhirnya, tapi kita jatuh cinta sama versi diri kita yang berhasil bertahan dan menang di tengah badai.