AES040 MBG: Apakah Sebuah Langkah Tepat?
Rizalk47
Tuesday April 8 2025, 10:53 PM
AES040 MBG: Apakah Sebuah Langkah Tepat?

Sebuah kebijakan haruslah bersifat menguntungkan bagi sebuah golongan, namun setiap kebijakan terkadang memiliki kelemahannya tersendiri, dan dalam tulisan ini saya ingin membahas tentang program makanan bergizi gratis. Sehingga muncul sebuah pertanyaan yang mendalam di benak saya "Apakah sebuah langkah yang tepat?". Mari kita bahas.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah bergulir di berbagai sekolah di Indonesia. MBG merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan gizi bagi anak sekolah. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memberdayakan UMKM dan ekonomi kerakyatan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Program pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah telah dilaksanakan di sejumlah negara. Bahkan, pada tahun 2022, program ini telah menjangkau hampir 418 juta anak di berbagai penjuru belahan dunia. Pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah di Amerika Serikat dikenal dengan National School Lunch Program. Di India, program serupa dikenal dengan The Mid-Day Meal Scheme, sementara di Afrika dikenal dengan Homegrown School Feeding. (mediakeuangan.kemenkeu.go.id)

Sungguh terdengar seperti sebuah visi yang besar dan tujuan yang mulia memang, memperbaiki gizi anak sekolah, namun apakah siswa-siswa di perkotaan besar khususnya memang membutuhkan? Saya rasa orang tua mereka sudah cukup hafal untuk memberikan makanan yang terbaik pada anaknya (hipotesa saya), apalagi sekolah-sekolah favorit yang jelas-jelas telah difasilitasi oleh orang tua mereka, maksudnya dengan mendaftar ke sekolah yang prestisius masa tidak ada biaya untuk makanan bergizi?. Okay--katakanlah hipotesa saya disangkal dengan kalimat seperti ini "tapi kan itu memang programnya bagus, memberikan siswa makanan bergizi gratis, maka dengan itu membantu peran orang tua dong!" Eitsss, okay saya terima sangkalannya, namun apakah tidak lebih baik dana tersebut dipakai untuk memperbaiki "gizi" secara intelektual saja, dananya dipakai untuk meningkatkan kredibilitas guru dengan pemateri yang mumpuni, dan memberikan fasilitas secara sarana dan prasarana yang mendukung guna elemen pembelajaran, bukankah lebih baik begitu? (ah tidak tau juga, mungkin saran saya bisa saja salah, tapi saya tidak peduli). 

Dikutip dari liks.id, berbunyi sepert ini "Untuk mendanai program MBG dari Juli hingga Desember 2025, pemerintah berencana mengajukan tambahan anggaran Rp 140 triliun pada Juni mendatang. Selain itu, BGN juga berencana menambah jumlah anak penerima manfaat". Wow, dana yang fantastis bukan? 140 triliun bukan dana yang kecil loh, anggaran besar seperti itu dengan eksekusi yang tidak maksimal maka hanya akan membakar uang saja, bisa saja ada yang siswa yang tidak suka dan lebih memilih untuk jajan di kantin, atau siswa yang tidak hadir, atau makanan yang sudah terlanjur dingin, atau juga pihak katering yang keteteran dengan pemesanan yang begitu masif, dan bersifat kontinuitas secara berkala. 

Sebaran Yang Tidak Merata

Apabila saya masih SMA, atau katakan masih di jenjang sekolah dan lumayan memiliki nalar yang sadar akan keadaan di negeri ini, maka saya akan lebih rela jika makanan bergizi gratis saya dipakai dananya untuk menyokong daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), mengapa demikian? Sudah jelas secara kondisi objektif, merekalah yang lebih membutuhkan, bahkan bukan hanya soal makanan tetapi secara upah tenaga pendidik, akses jalan menuju tempat sekolah, serta infrastuktur sekolahnya itu sendiri, maksud aku peradaban tidak hanya berputar di perkotaan saja, mengapa begitu sulit untuk memberikan sebaran yang lebih rasional yaitu ke daerah 3T, bagi saya itu sangat adil--eh lupa keadilan disini cuman mitos yah..hehehehehe. Maksudnya, sebarannya tidak merata gitu loh, saya yakin yang pertama mendapatkan program MBG sudah pasti sekolah-sekolah yang ada di perkotaan, emang setidak mampu apa mereka, mesti dikasih makanan bergizi gratis? Mereka lebih butuh sistem pendidikan yang tidak kaku dan tidak bersifat memenjarakan kehendak, hemat saya daripada sibuk untuk memberikan program yang sifatnya berjangka pendek dan sudah pasti akan hilang karena diolah oleh lambung dan menjadi itu, lebih baik fokuskan di pembenahan cara belajar yang tidak memenjarakan murid secara halus. Memberikan "kemerdekaan" yang hakiki, bagi saya itu adalah hal yang paling mutlak untuk dilakukan, dan paling fundamental, perbaiki sistem upah untuk guru-guru yang baru lulus, agar mereka lebih semangat mengajar, bukan diberik cekokan nilai-nilai patriotisme "guru tanpa tanda jasa", guru juga butuh materi untuk merajut asa, hidup sejahtera, menikmati hidup setelah tua. 

Eksekusi Yang Belum Matang

Dalam sebuah kebijakan sudah pasti harus ada eksekusi atau tindakan, dan bisa kita lihat di bawah pernyataan tersebut:

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan pihaknya ragu apakah UMKM mampu melaksanakan secara individual. Ia menilai harus ada kajian yang lebih mendalam bagaimana UMKM bisa terlibat dalam program MBG karena secara kapasitas sulit diwujudkan.

“Saya cukup ragu apakah UMKM mampu melaksanakan secara individual. Selain itu, kapasitas usaha untuk memenuhi kebutuhan ribuan paket per hari juga meragukan untuk kapasitas UMKM. Maka, saya rasa seharusnya memang harus ada kajian lebih mendalam bagaimana UMKM bisa terlibat dalam program MBG karena secara kapasitas sulit diwujudkan,” ungkapnya kepada Fakta.com, Selasa (18/2/2025). 

Eksekusi yang belum matang juga hanya memberikan dampak yang sia-sia, memang beberapa murid menikmati, namun dalam praktiknya kan seperti demikian. Jadi? pengkajian mendalam bagi saya sangat diperlukan, jumlah uang yang dikeluarkan tidak sedikit, bahkan hingga hampir memangkas dana pendidikan itu sendiri. Saya tegaskan "gizi" disini bukan hanya makanan saja, tetapi program pendidikan yang efisien, fasilitas yang mendukung, pemerataan yang berasaskan keadilan (walau ga ada di negara ini), maka niscaya murid dan guru akan lebih sejahtera, dan terpenuhi gizi mereka secara faali dan batin.

Closing Statement

Mungkin sedikit keluar dari topik, hari ini hari kedua saya mengawali magang di smipa jenjang SMP, dan makin kesini saya makin mengetahui apa yang harus saya lakukan, dan mungkin saya berniat menulis seperti ini juga ada andilnya (tetapi tidak tau juga), cuman saya ingin bercerita sedikit saja, dan di perjalanan menuju Smipa saya berbincang kepada bapak gojek untuk mendoakan kelancaran saya selama magang, dia menjawab "ucapan adalah doa, kalau mengucap yang baik, maka akan demikian, kalau mengucap yang buruk maka akan demikian juga, sudah pasti saya doakan yang baik buat masnya". Terdengar bijaksana, bahkan lebih bijaksana dari pejabat-pejabat yang memangku keadilan, pejabat-pejabat yang hanya fokus untuk memenuhi GIZI utama mereka yaitu vitamin K (Keserakahan). Semoga para pejabat-pejabat itu senantiasa hidupnya tidak tenang amiin. Dan semoga untuk para guru dan murid di seluruh penjuru Indonesia, diberikan kesehatan, ketabahan, serta rezeki yang melimpah amiin. Makanan Bergizi Gratis? Apakah kita sudah bergizi secara spiritual?. Terima kasih. 

You May Also Like