AES002- Mensyukuri Cahayamu Sendiri
Syahaarah
Tuesday February 25 2025, 9:10 AM
AES002- Mensyukuri Cahayamu Sendiri

"Mereka berkata kita harus menjadi seperti orang lain, namun sejatinya, kita harus menjadi diri kita sendiri."

Ada kalanya, langkah kita terasa begitu berat bukan karena kita tak mampu, tetapi karena suara-suara di sekitar yang tanpa sadar membebani. Ucapan yang terdengar sederhana, seperti "Coba lihat kakakmu, dia hebat, dia bisa ini, dia bisa itu," perlahan-lahan merayapi hati, membuat kita bertanya-tanya, "Apakah aku kurang baik? Apakah usahaku tak berarti?" Kita berusaha, namun seakan-akan usaha itu tak cukup di mata mereka yang mengharapkan sesuatu yang lebih. Perasaan takut melangkah pun tumbuh, bukan karena kita tak ingin mencoba, tetapi karena setiap langkah terasa tak pernah cukup.

Namun, beberapa tempo hari lalu sebuah berita mengajakku merenung. Pada tanggal 6 Februari 2025, seekor angler fish ikan laut dalam yang seharusnya hidup di kedalaman 200 hingga 2.000 meter untuk pertama kalinya ditemukan muncul ke permukaan laut.

Imajinasiku bergulir. Mengapa ia meninggalkan tempatnya yang sunyi? Apakah ia tergoda oleh cahaya di atas sana yang terlihat lebih terang? Mungkin ia merasa cahaya itu lebih indah, lebih pantas untuk dikejar. Mungkin ia melihat ikan-ikan lain yang hidup di perairan dangkal dan berpikir, "Mereka lebih baik dariku." Mungkin, tanpa sadar, ia mulai membandingkan dirinya, hingga akhirnya berusaha menjadi seperti mereka.

Tapi ada satu hal yang ia lupakan angler fish memiliki cahayanya sendiri. Tuhan telah menciptakannya dengan keunikan yang luar biasa, sebuah antena bercahaya yang menjadi penerang dalam gelapnya dasar samudra. Cahaya itu bukan sekadar miliknya, tetapi juga menjadi petunjuk bagi makhluk lain yang hidup bersamanya di kegelapan. Namun, mungkin ia merasa cahayanya tak cukup berarti dibandingkan cahaya lain di atas sana. Ia berpikir bahwa untuk bersinar lebih terang, ia harus meninggalkan tempatnya dan menuju ke permukaan.

Sayangnya, kenyataan berkata lain. Sesampainya di atas, angler fish tidak menemukan kehidupan yang ia harapkan. Tubuhnya yang terbiasa dengan tekanan tinggi di laut dalam tak mampu bertahan di perairan dangkal. Ia kehilangan kehidupannya di tempat yang bukan untuknya. Dan barangkali, di saat-saat terakhirnya, ia baru menyadari bahwa cahaya yang selama ini ia miliki sudah lebih dari cukup bahkan menjadi anugerah yang luar biasa—namun ia terlambat untuk menyadarinya.

Kisah ini membuatku berpikir, bukankah kita juga sering seperti angler fish? Berusaha keras untuk menyamai orang lain, mengejar cahaya yang tampak lebih indah, tanpa menyadari bahwa Tuhan telah memberikan cahaya-Nya dalam bentuk yang berbeda bagi setiap insan? Kita sibuk membandingkan diri dengan orang lain, menganggap mereka lebih baik, lebih hebat, lebih berharga, hingga lupa bahwa kita juga telah diberi kelebihan yang unik. Kita lupa bahwa mungkin, di tempat kita saat ini, kita sudah menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitar kita.

Maka, berhentilah melihat terang sinar orang lain dengan rasa iri. Mulailah melihat ke dalam diri sendiri dan sadari bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan keunikan yang luar biasa. Kita tak perlu menjadi seperti mereka, karena kita pun sudah memiliki cahaya yang bisa bersinar dengan caranya sendiri. Yang perlu kita lakukan bukanlah memadamkan cahaya itu demi mengejar milik orang lain, tetapi menjaga, menggali, dan memanfaatkannya untuk membawa terang bagi dunia di sekitar kita. Sebab, cahaya yang sejati bukanlah yang paling terang, tetapi yang mampu memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Bagus banget ini tulisannya. Adem banget bacanya 🤗🙏🏼
Syahaarah
@syahaarah   last year
wah!, terimakasih banyak kak Andy atas apresiasinya:)
joefelus
@joefelus   last year
Wah.. ini tulisan luar biasa. Terima kasih 🙏🏼
Syahaarah
@syahaarah   last year
waah, terimakasih banyak kak Joe atas apresiasinya :)