AES33 Jadi Tangguh Yuk!
wulan bubuy
Saturday March 19 2022, 9:39 PM
AES33 Jadi Tangguh Yuk!

Baru saja aku melihat sebuah video menarik dari Rhenald Kasali tentang healing yang lagi beredar di kalangan anak muda. Sebelumnya aku mau cerita tentang beberapa teman mahasiswa yang pernah hadir cukup dekat sehingga mereka merasa nyaman untuk berbincang denganku. Diantaranya ada sosok yang merasa bahwa dirinya mengalami "anxiety" tetapi ketika aku tanya lebih jauh ternyata tepat seperti apa yang disebutkan oleh Rhenald Kasali, bahwa anak-anak ini sangat mudah mencari informasi dan dengan kemudahan itulah mereka akhirnya mencocokan apa yang terjadi dengan dirinya, lalu mengambil kesimpulan sendiri kalau dirinya butuh self healing, self reward

Luar biasa ya? Sementara di lain kesempatan aku pernah bertemu dengan seorang mahasiswa yang betul-betul membutuhkan seorang pendamping untuk membantu menyembuhkan luka batinnya. Prosesnya kutahu sangat tidak mudah dan pandemi ini membuat dia mendapatkan banyak sisi pembelajaran untuk kembali bisa melanjutkan hidupnya. Untuk hal ini aku bisa ikut berbahagia, tetapi jika dibandingkan dengan pihak lain yang mengatakan di usia 25 tahun sudah mengalami quarter-life crisis? Ha? Sejujurnya kaget, tapi penjelasannya ternyata berkaitan dengan workshop Aisya Yuhanida Noor yang pernah aku ikuti mengenai munculnya generasi strawberry. 

Generasi ini konon muncul penelitiannya di Taiwan, adalah generasi yang rapuh meski pun dari sisi kreativitas sangat memikat. Singkat kata mereka bisa seperti itu karena kondisi orangtua yang mapan sehingga mampu memberikan apapun yang diminta oleh anak. Senada dengan Rhenald Kasali, Aisya Yuhanida pun menjelaskan bagaimana mengubah anak-anak kita untuk memiliki mental yang tangguh, yang bisa disebut sebagai bola karet yakni saat terjatuh mereka bisa melambung jauh lebih tinggi, mampu menghadapi tantangan, bertahan dalam kesulitan. 

Satu kata hamdalah yang aku ucapkan saat mendengar penjelasan dari orang-orang hebat ini; karena apa yang sedang dijalani anakku di jenjang kelas enam sudah mencakup semua. Aku teringat pesan kakak dan tim lingkung saat pertemuan orangtua yang mengingatkan dibalik proses ini tujuannya agar anak-anak memiliki kemampuan untuk mencari solusi bagi dirinya. Aku pribadi mengakui terlambat menyadari posisiku yang sudah harus segera bergeser menjadi "Coach", kemandirian yang dimaksud tentu untuk menyiapkan mereka bisa tumbuh tanpa kita nantinya. Dengan kata lain; mereka harus bisa berjalan pada poros optimisme yang lebih baik, serta membiasakan anak mau bergerak atas kesadarannya sendiri. 

Hm, mungkin masih sangat pelan sekali langkahnya untuk menuju kesana, tetapi aku percaya kalau anakku ini bisa bahkan lebih cepat prosesnya dibandingkan diriku sendiri. Maka kalimatku saat berdiskusi dengannya kuganti dengan, "Ok, aku percaya kamu bisa selesaikan semuanya". Rasanya disini akulah yang harus banyak berlatih agar semakin yakin kalau hubungan emosional membaik tentu akan mempermudah jalan menemukan potensi diri. Bismillah. 

Ohya, ada 3 keterampilan utama yang dibagi oleh Aisya Yuhanida jika orangtua menempatkan diri sebagai coach :

  1. Pause; tidak reaktif, tidak terjebak dalam konflik
  2. Emphatic Listening; mendengar dengan mata dan telinga sehingga bisa mendengar apa yang tidak anak ucapkan
  3. Quesioning; pertanyaan terbuka yang berfokus pada solusi 

Tentu sebagai ibu aku tahu tantangan di depan lebih komplek tapi aku yakin anak-anak ini jauh lebih adatif, mereka mudah sekali beradaptasi terhadap perubahan. Itulah sebabnya kusebut tantangan ini lebih banyak untukku, karena mengejar perubahan yang dialami anakku itu gak mudah. Aku baru paham satu hal, dia sudah berpindah lagi ke hal lain. Betul sekali apa yang disampaikan dalam POt lalu tentang literasi. Hanya itu satu-satunya yang bisa mengikat, menjadi batasan, serta membawa kesadaran anak-anak kita untuk lebih bijak dalam menemukan solusi. Bisa ya? Pasti. Insyaa Allah. 

You May Also Like