Awalnya kupikir bahwa akses baru yang kuketahui di kelas '6 Suara Penyembuh' itu akan diaplikasikan menurut apa yang terpahami saat dikelas itu yaitu dalam bentuk suara. Ternyata setelah mengintensikan diri untuk mulai menggabungkan akses itu dalam latihan, tubuhku merespon dengan caranya sendiri. Sudah dua hari ini saat di atas matras ajakan untuk mengeksplorasi itu terasa lewat cara hembusan napas dengan bentuk rahang yang berbeda-beda seperti ketika hendak mengucaokan suatu bunyi tetapi tanpa bunyi.
Tentu saja hal itu sangat menarik buatku. Aku memang berinteraksi dengan tubuhku seolah sebagai dua kesadaran berbeda. Banyak hal yang tidak kumengerti, tapi dimengerti oleh tubuhku ini. Tubuh ini justru sering mengajariku tentang banyak hal baru yang menarik untuk ditelusuri. Pastilah begitu ketika ada sesuatu yang tidak dimengerti, lantas jadi penasaran dan ingin tahu. Tak jarang aku mengatakan pula hal ini, 'Go within and find your inner guru'. Semata-mata karena aku memang merasa seperti itulah pengalamanku dan banyak bantuan yang kurasakan dari sana.
Kadang hal semacam itu bisa termaknai sebagai keterhubungan yang baik dengan diri sendiri sehingga relasi yang baik wajarlah jika bak simbiosis mutualisme, saling mendukung. Diri ini melakukan yang terbaik untuk tubuh ini, dan tubuh ini akan memberi yang terbaik pula pada diri ini. Masuk akal bukan?
Keseruanku hari ini terjadi di seputar rahang. Menarik sekali mengalami sesuatu yang baru dan memunculkan banyak tanya saat menghembus napas dengan mulut yang terbuka berbagai bentuk. Meski semuanya belum terjelaskan sama sekali, namun yakin sekali apa yang mulai terbuka ini adalah bentuk perluasan dari apa yang sudah dimulai di kelas itu.
Hal yang lebih membuatku kagum dengan cara semesta mendukungku adalah, keinginanku untuk membaca satu buku yang sudah terbeli sejak setahun lalu, namun saat itu aku merasa belum mampu membacanya.
Memang dorongan-dorongan dari dalam itu tak banyak yang bisa kumengerti alasannya saat pertama terasa, namun saat kupercayai dan kulakukan saja tanpa banyak bertanya, maka jawaban itu akan muncul dengan sendirinya. Ini pernah kutulis beberapa hari lalu juga dalam esaiku tentang pemandu.
Terbukti lewat 3 lembar yang kubaca dari buku itu hari ini. Hal baru yang kutemukan jadi melengkapi eksplorasiku di atas matras pagi tadi, dan menggenapi investigasinya sudut pandang yang berbeda lagi. Apa yang tertulis disana menjelaskan mengapa pergerakan rahang sangat berarti untuk sebuah terapi, dan berhubungan erat dengan susunan tulang tengkorak, dan lain sebagainya tentang tulang tengkorak itu sendiri. Buku itu berjudul The Heart of Listening, sebuah buku panduan tentang kerja terapi craniosacral.
Mungkin kalau dipikir-pikir, apa perlunya mempelajari hal yang terlalu jauh semacam ini. Beberapa kali aku juga sempat memikirkan hal itu dalam konteks yang berbeda, dan jawabannya adalah tentang koneksi. Semuanya dalam rangka pemahaman yang lebih luas. Bukan karena ingin menguasai sesuatu, melainkan karena ingin mengerti mengapa satu hal berhubungan dengan hal lain dan seterusnya. Aah... aku juga sudah pernah menulis tentang keterhubungan-keterhubungan di esaiku entah yang mana, hehee...
Baru beberapa hari yang lalu, karena kebutuhan untuk menulis aku jadi mempelajari lebih teliti tentang sistem saraf, dan hari itu akhirnya jelas kutemukan landasan dari hubungan erat antara tulang sacrum dengan tulang cranial yang kupelajari di kelas yoga terapi bertahun-tahun lalu. Pengalaman menemukan kejelasan-kejelasan semacam itu sangat membantuku saat berbagi sesuatu. Saat yang dibagi itu teryakini benar maka tak ada keraguan saat membaginya.
Nyaho memang can tangtu ngarti, dan dalam konteks berbagi, kita hanya bisa membagikan sesuatu dengan baik jika hal yang dibagikan itu telah menjadi bagian dari diri kita. Selain memerlukan waktu yang lama untuk bisa memahami sesuatu, ternyata proses menulis juga melengkapi proses belajar itu. Mungkin karena apa yang dipelajari berawal dari hal yang sifatnya praktek, dan apa yang diajarkan pun sifatnya praktek, sehingga menulis jadi kelengkapan teori yang melatari praktek itu tadi.
Wah...tulisan ini seperti tidak menjelaskan apapun dan seperti meracau, melompat kesana kemari, tapi biarlah tulisan ini jadi benih yang kutanam. Semoga suatu waktu nanti apa yang termulai di tulisan ini bisa tertulis secara lebih rinci sebagaimana hal lain yang telah kualami terlebih dulu.
Semoga....