Saya hampir tidak pernah menulis tentang anggota keluarga secara khusus. Kalau cerita tentang Kano dan pengalaman-pengalaman lainnya ya sering menyebut mereka, tetapi secara khusus menulis tentang mereka, tidak pernah. Kenapa? mungkin ini terlalu pribadi dan juga menyangkut pribadi yang bersangkutan, yang mungkin tidak suka atau tidak mau orang-orang membaca tentang dirinya. Jadi ya memang kadang tulisan saya disamarkan sebagai orang ketiga yang lebih anonymous. Hanya saja kali ini keinginan saya sulit dibendung walau hingga saat ini ketika jari-jari mulai menari di atas keyboard saya belum tahu akan menulis apa tentang beliau. Ya, saya ingin menulis tentang figur seorang ayah, ayah saya, yang sudah sepuh, sudah mulai sakit-sakitan dan yang sudah sekian tahun saya tidak jumpai karena berada sangat jauh dan dibatasi oleh waktu dan jarak.
Ayah saya orang yang sangat luar biasa! Beliau memiliki karakter yang sangat kuat tapi memiliki sensitivitas yang juga sangat amat kuat. Tipe orang yang selalu memikirkan orang lain sebelum kepentingan dirinya. Orang yang secara fisik sangat kuat dan mengagumkan. Saat kecil malah saya menganggap beliau seperti Hercules. Mau tau ceritanya?
Begini. Sesudah kami pindah dari Bandung, saat itu saya mungkin masih balita, tapi sudah mulai bisa mengingat beberapa hal kecil yang sampai sekarang selalu saya kenang. Kami pindah ke sebuah kota kecil di pesisir pantai di bagian utara pulau Jawa. Ada sebuah rumah kuno di daerah yang dikenal sebagai pecinan, karena penuh dengan bangunan-bangunan Cina kuno yang temboknya sangat tebal, pintunya dari kayu jati yang sangat amat besar dan berat, dengan jendela yang juga super besar. Kuncinya memakai balok, bukan lubang kunci atau anak kunci. Nah, kami diijinkan untuk menebeng di loteng salah satu bangunan itu. Loteng itu bukan untuk ditinggali tapi di desain untuk storage, gudang, jadi seperti semacam ruangan yang luas penuh dengan beams, atau balok raksasa yang membentang dari satu dinding ke dinding lainnya. Garis tengah balok itu bisa lebih dari 50 cm, karena saya ingat kedua tangan saya tidak bisa merangkul balok-balok itu.
Agar dapat kami tinggali, beberapa buah balok itu harus dipotong, jika tidak kami tidak akan pernah bisa berjalan tanpa harus membungkuk-bungkuk. Ayah saya memotong balok-balok raksasa itu sendirian, hanya bermodal gergaji dan 2 utas tambang! Balok-balok itu juga diturunkan ke lantai bawah dari teras depan. Percaya atau tidak ini jadi tontonan orang di sekeliling rumah kami. Kenapa? Karena ayah saya mengerjakannya seorang diri, juga dengan 2 utas tambang! Bayangkan balok raksasa dengan diameter lebih dari 50 cm sepanjang lebih dari 15 meter! Diturunkan dari lantai atas seorang diri. Saya yang masih kecil berdiri menonton dengan puluhan orang lain sambil bertepuk tangan dan menganggap saya punya ayah keturunan dewa matahari, Hercules! Banyak kejadian ajaib lainnya tentang ayah Hercules ini yang selalu saya simpan dalam-dalam dengan penuh kekaguman.
Ayah saya serba bisa. Beliau bisa masak jauh lebih hebat dari Ibu saya, beliau bisa menjahit pakaian sendiri, beliau jago urusan listrik, jago dalam trik-trik untuk melakukan banyak hal, memindahkan benda besar dan berat, beliau selalu punya ide. Saya yakin bapak saya ini jago fisika praktis! He is a perfect handyman! Bapak saya jago matematika walau punya istilah-istilah yang aneh ketika mengajari saya aljabar. Sering membuat saya menangis sebab istilahnya saya anggap sebagai bahasa aliens karena saya diajarkan disekolah pakai bahasa Indonesia sedangkan ayah saya pakai bahasa Inggris. Saya frustrasi karena ketika ditanya guru di sekolah saya menjawab dengan istilah ayah saya yang ibu guru tidak mengerti.
Ayah saya tidak pernah menyanyi atau bersenandung! Nah ini yang mungkin saya anggap aneh. Saya belum pernah seumur hidup mendengar ayah saya bersiul, bersenandung atau menyanyi walau beliau gemar mendengarkan lagu sejak matahari belum terbit. Saya terbiasa selama saya tinggal dengan orang tua terbagun di pagi hari dengan alunan musik instrumental Paul Mauriat, atau lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Pat Boone, Tom Jones, Connie Francis, Frank Sinatra, Dean Martin, Paul Anka dan banyak lagi. Pagi saya selalu indah dengan lagu-lagu. Tapi keinginan saya untuk mendengar sekali saja ayah bersiul atau bersenandung, tidak pernah terjadi!
Di kota kecil ini ayah saya dikenal sebagai Jango, cowboy atau si gondrong! Hahaha... Kenapa? Karena beliau yang pertama kali berambut gendrong sampai sebahu dengan sepatu boots tinggi selutut! Menurut "legenda" (hihihi) beliau katanya ditakuti, ketika oom saya punya masalah dengan beberapa pemuda di "kampung" tertentu, ayah saya, si cowboy gondrong, berjalan di satu sisi trotoar, dan oom saya di trotoar seberangnya, masuk ke kampung pemuda yang bermasalah dengan oom saya. Mereka berdua berjalan tanpa suara, dari ujung ke ujung. Kampung itu langsung senyap, semua orang masuk rumah dan pintu ditutup. Entah ini benar atau tidak, tapi oom saya yang cerita langsung kepada saya. Ya, mungkin ayah saya dianggap sebagai boss mafia, bebegig atau preman! Saya selalu membayangkan peristiwa ini seperti di film Western, kalau ada penjahat masuk kota semua orang menyingkir! Hahaha..
Ayah juga punya sebutan khusus, Cangklong! Kenapa begitu karena sepertinya di kota kecil itu ayah saya yang pertama kali merokok dengan cangklong. Beliau punya koleksi cangklong berbagai ukuran dan bentuk, bahkan ada yang memakai cincin dari emas hahaha.. Saya bahkan mengoleh-olehi beliau cangklong yang saya beli dari sebuah kota kecil di New York State, entah di Saugerties atau malah Woodstock. Saya tidak ingat.
Terlepas dari segala bentuk julukan sebagai orang berkaratker yang kuat, Beliau adalah pribadi yang tertutup, pendiam dan juga sangat perasa. "Jo, jangan pernah meminta tolong sebelum kamu mencoba sendiri." Itu selalu nasehat yang beliau berikan. Hingga saat ini meminta tolong adalah hal yang kesekian sebelum saya mencoba berkali-kali. Saya tidak tahu mengapa beliau menasehati saya seperti itu. Mungkin karena beliau terlalu perasa sehingga khawatir akan "ditolak" jika meminta tolong. Ya beliau memang super sensitive.
Ayah saya juga indigo! Beliau bisa merasakan dan mengetahui hal yang supernatural. Ini memang konon mengalir dari leluhur. Ayah saya tahu jika ada orang yang akan pergi menghadap Ilahi. Ini buat saya menyeramkan. Berkali-kali ayah saya berbisik dan mengatakan si A akan "pulang" si B akan menyusul dalam waktu dekat. Dan percaya atau tidak demikianlah yang terjadi. Saya sering berkata,"Dad, please don't tell me!" Semata-mata karena saya takut dan pikiran bahwa ada orang yang saya kenal akan segera meninggal terus menghatui saya. Banyak hal lain yang sebetulnya saya ketahui tapi mungkin terlalu horor jika saya ceritakan di sini.
Semakin memikirkan ayah, saya semakin kangen. Beliau sudah sangat menurun kesehatannya. Sebelum saya pergi merantau beliau berkata. "Jo, jangan kuatir. Dad akan tunggu sampai kamu pulang." Ya beliau masih menunggu, dan sesekali bertanya, "Kapan pulang?" semata-mata karena saya tahu beliau sudah lelah, apalagi sesudah ditinggal ibu saya sekitar 15 tahun yang lalu. Hidupnya semakin menyendiri hanya ditemani beberapa buah sepeda balap yang merupakan hobbynya. Hanya saja sekarang sudah tinggal pajangan, ketika Kano masih SD, beliau sering bersepeda sekitar 160 kilometer ke Bandung. memang beliau keturunan dewa, beliau masih merupakan hercules saya! Dan saya kangen sekali!