AES 1141 Tidak Berhenti Belajar
joefelus
Wednesday July 10 2024, 10:44 PM
AES 1141 Tidak Berhenti Belajar

Saya duduk menghadapi laptop sambil menikmati secangkir espresso yang dibuat oleh sahabat saya barusan. Pagi ini saya sangat lapar, sehingga sambil berusaha memikirkan apa yang harus saya tulis, saya melahap sepotong besar roti brioche. Habis sepotong roti ternyata masih belum cukup, saya ambil sebuah rondo royal, ini makanan tradisional Indonesia yang saya buat 2 hari yang lalu. Kebetulan ada seorang ibu yang membuat tape singkong, 2 hari lalu sepulang kerja kami langsung mengemudi sekitar 1.5 jam ke Centennial menjemput tape dan ketika tiba di rumah saya buat rondo royal. Saya tidak tahu mengapa diberi nama itu yang memberi kesan agak seronok hahaha..

Merenung ditemani rondo royal, terlintas ide untuk menjadikannya sebuah judul renungan hari ini. Tapi saya menganggapnya agak inappropriate, sehingga batal. Nanti saja saya pikirkan judulnya belakangan. Akhirnya itu yang saya putuskan. Sekarang saya harus memikirkan apa yang harus direnungkan pagi ini.

Ada kejadian tidak menyenangkan baru-baru ini. Sangat emosional, yang sebetulnya sangat wajar karena manusia adalah mahluk emosional. Emosi yang membuat kehidupan ini sangat berarti, sebab tanpa itu saya tidak dapat membayangkan apa jadinya semesta ini.

Ketika kita mampu mengembangkan emosi yang positif, kita akan mampu memunculkan tujuan hidup, memurnikan sense of meaning dalam menjalani hidup, mengembangkan relasi antar individu yang sangat baik, melancarkan berbagai bentuk komunikasi, serta mendukung perkembangan relasi yang sehat.

Mengelola emosi juga butuh latihan. Sejak kecil kita sebetulnya dalam pendidikan ditekankan dan dituntun bagaimana mengelola emosi dalam diri kita. Bagaimana kita bersikap ketika sedang marah, bagaimana kita menjaga diri ketika sedang menghadapi situasi emosional. Kita juga diajari bagaimana cara mengumbar emosi yang sehat bahkan ketika sedang bergembira. Ada tata krama sosial yang membatasi kita dalam menjalani keseharian karena segala sesuatu ada batas-batasnya. Ada ajaran sopan santun ketika berbicara dengan orang lain, dengan rekan sebaya dan juga dengan orang yang kita hormati. Bahkan bahasa di Indonesia, terutama bahasa daerah, ada berbagai tingkatan yang dapat digunakan untuk berkomunikasi. Dengan orang yang kita hormati, misalnya, dalam bahasa Jawa ada bahasa kromo, bahkan kromo inggil untuk yang jauh lebih resmi dan berbicara dengan orang yang kita lebih hormati, sementara bahasa ngoko bisa digunakan sehari-hari dengan rekan sebaya. Ini semua merupakan tatanan sosial dan budaya yang secara tidak langsung memiliki nilai "emosi".

Tidak semua orang dapat dengan mudah mengolah emosi. Saya yang sudah beruban tanpa kecuali. Ada titik-titik lemah yang jika tersentuh maka akan membuat saya secara emosional sulit mengendalikan diri. Ada luka-luka yang jika kemudian disentuh masih terasa sakit. Ini yang berusaha saya jaga. Tapi pada saat-saat tertentu ketika saya agak lengah dan ketika berada di titik terendah, segala sesuatu dapat terjadi dan tidak tertahankan. Belajar memang tidak pernah berhenti dalam menjalni kehidupan. Yang saya pikir sudah dapat dikuasai, ternyata masih banyak yang harus dipelajari dan dilatih.

Saya menyuapkan rondo royal, menikmati setiap gigitannya. Bagian luarnya terasa masih renyah sementara kelembutan dan aroma tape mulai memenuhi seluruh rongga mulut, lalu sedikit demi sedikit mulai terasa aroma dan rasa fermentasi yang sangat baik. Ini sebuah kemewahan, ketika kita berada jauh dari rumah dan disuguhi dengan kekhasan kampung halaman, rasanya tidak terperikan. Saya memejamkan mata dan berusaha menikmati detik-detik keindahan itu....