Selama pandemi kita sering kali melakukan setiap aktifitasnya di rumah saja. Begitu pula dengan para pelajar yang harus meluangkan banyak waktunya untuk belajar dan menatap layar hingga waktu yang bisa dibilang cukup panjang. Namun waktu terus berjalan banyak sekali purabahan kebiasaan seperti jika ingin keluar rumah wajib menggunakan masker agar setidaknya bisa lebih mengantisipasi penyebaran atau terpaparnya virus Covid-19 tersebut. Permasalahan yang terjadi bukan hanya dengan beradaptasi dengan kebiasaan baru namun dengan ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi bagi para pelajar saat melakukan pembelajaran secara daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.
Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat penting bagi para pelajar, jam berapa mereka harus belajar dan bagaimana dengan kuota internet yang mereka miliki. Hingga akhirnya hal seperti ini dibebankan kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti pembelajaran daring. Namun dengan melihat situasi ini yang sedikit mulai membaik dari angka jumlah yang terpapar di Indonesia. Pemerintah menganjurkan untuk melakukan pembelajaran bisa secara tatap muka namun dengan wajib mematuhi protokol kesehatan yang ada dan pasti akan dibatasi jumlah pelajar yang melakukan pembelajaran secara tatap muka. Memang banyak sekali kelebihan dan kekurangan dari keputusan ini. Antara lain bisa bertemu secara langsung teman-teman, berkomunikasi menjadi lebih baik secara tatap muka. Namun tingkat terkena virus pun lebih besar, kita tidak tahu jika pada saat di rumah, perjalanan menuju sekolah. Semoga aja virus Covid-19 ini cepat mereda dan para pelajar bisa melakukan aktifitas seperti semula dan bebas dari masker.