AE S144 Jejak
Zacky Hudaya
Monday July 25 2022, 8:20 PM
AE S144 Jejak

 Pada hari Senin pagi, saya dan teman-teman melakukan sebuah perjalanan dengan mengunjungi beberapa museum yang berada di tengah kota Bandung. Hari Senin adalah hari penting bagi kami kaum pelajar, semangat dan ceria adalah hal yang paling penting sebelum melakukan aktivitas menurut saya. Pagi hari di Taman Lansia saya melihat beberapa teman  dan Kakak sedang menunggu sembari duduk di meja panjang. Tidak lupa untuk mengucapkan salam dan sapa sambil menunggu teman-teman lain berdatangan. Saya dan seluruh teman kelas 12 memiliki kesepakatan rutin untuk membuat tulisan minimal 250 kata sebanyak tiga tulisan dalam seminggu. 

   Awalnya, tak terpikirkan untuk berbagi sedikit cerita perjalanan saya bersama teman-teman. Tetapi beberapa jam setelah itu, tatkala masih dalam perjalanan, saya berpikir lagi. Sangat disayangkan ketika saya mendapatkan sebuah pengalaman istimewa pada hari itu hanya disimpan sebagai kenangan semata lewat foto dan video dokumentasi saja. Saya pun mulai mencatat dan mengingat kembali tentang keindahan saat melakukan perjalanan ke beberapa museum, bukan hanya keindahan namun cerita pengalaman yang aku rasakan ketika melakukan perjalanan kecil hari Senin bersama-sama teman-teman.

   Kuangkat tas kecil yang berisikan buku catatan dan alat tulis sebagai bekal pada hari ini dan bergegas menuju Museum Pos Indonesia bersama teman-teman. Canda dan tawa kami alami bersama, sesampai lokasi ternyata museum tersebut masih tutup dan buka pada jam 10 pagi. Ternyata Kakak salah melihat informasi jam buka museum tersebut ketika sebelum adanya pandemi. Alhasil kami semua balik menuju Taman Lansia yang tidak jauh dengan museum. Kakak yang baik hati memberikan kami waktu untuk beristirahat dan diskusi kelompok terkait beberapa hal yang harus diamati dari kedua museum tersebut. 

   Melihat waktu yang cukup senggang, saya dan beberapa teman langsung bergegas menuju salah satu tempat ngopi asyik di daerah Cisangkuy. Lokasi bisa terbilang cukup jauh dari titik kumpul kami sebelumnya. Salah satu teman kami mengingatkan kami agar tetap melihat jam, sebelum jam 10 kami harus kembali ke titik kumpul awal sebelum melakukan perjalanan menuju Museum Pos Indonesia.

   Kami pun mulai masuk ke lantai dasar museum, impresi pertama mengenai museum ini cukup baik, namun sangat disayangkan ketika museum ini kurang dirawat dengan baik. Lantai yang terlihat kuno ternyata hanya Vinyl, lemari perangko yang sudah keropos dan bahkan ada pula yang rusak. Namun saya tidak peduli dan tidak terlalu memperhatikan hal seperti itu. Tujuan utama saya adalah menambahkan pengetahuan, wawasan, dan informasi baru terkait museum tersebut. Museum Pos Indonesia menampilkan beberapa koleksi dalam 3 tema besar yaitu koleksi sejarah, filateli, dan beberapa koleksi peralatan pendukung Pos Indonesia dari zaman ke zaman. 

   Setengah perjalanan tiba-tiba pemandu menyambut kami. Saya sedikit terheran-heran. Lantas mengapa mereka tidak dari awal saja memandu kami? Sudahlah mungkin memang skenario pemandu itu untuk menjelaskan sejarah singkat dipertengahan jalan. Selain Museum Pos Indonesia kami pun mengunjungi Museum Mandala Wangsit. Namun perjalanan kedua ini bersifat “opsional”. Kami pergi bersama-sama menaiki Gocar menuju museum yang berlokasi di Jl. Lembong. Museum yang terkenal sakral namun sangat menarik untuk kami datangi bersama.

   Tak lama kemudian Ibu yang menggunakan pakaian loreng itu menyapa kami dan menemani kami sampai pintu masuk museum ini. Banyak sekali perubahan mulai dari dekorasi museum hingga pencahayaan ruangan. Namun masih terasa sekali ada yang berbeda, kepala sedikit pusing, sangat aneh untuk dijelaskan sehingga membuat bulu kuduk merinding secara tiba-tiba. 

   Apakah hanya saya saja yang merasakan ini? Namun hal ini tidak membuat saya kapok mengunjungi tempat yang seperti ini. Saya merasa senang dan sangat tertarik melihat dan belajar mengenai gambaran dan saksi bisu peristiwa masa lampau khususnya yang berada di Bandung ini. Koleksi museum terdiri dari 3 tema besar yaitu  peralatan perang yang digunakan oleh pasukan Kodam Siliwangi mulai dari senjata tradisional Sunda , senjata modern, koleksi peralatan perang pada zaman perang kemerdekaan Indonesia.

 

 

 

You May Also Like