Entah kenapa dari sejak umur dua ku tak pernah bisa berpisah dari tanah. Dinginnya tanah seperti hati ku, Mungkin juga karena aku juga menyukai tanaman. butiran coklat yang tak manis dan dianggap kotor. Setiap kali ku mengurus tanamanku, pasti ada saja kuku ini terselip tanah yang bersembunyi dari air yang keluar dari keran saat cuci tangan. Dari dulu aku jarang cuci tangan dengan sabun sehabis berkebun. Mungkin dari dulu aku sudah terbiasa dengan "kotor" nya cuci tangan tanpa sabun. Aku pun jarang sakit perut sampai saat ini walau makan sesudah selesai berkebun.
Entah mengapa aku senang dengan tanah tanpa kerikil dan batu sisa bangunan, setiap kali ku bertemu dengan kerikil pasti ku lempar jauh-jauh ke pembuangan limbah di belakang rumah. Setiap kali berkebun aku tak pernah memakai sarung tangan sekali pun. Aku bisa merasakan dinginnya tanah dan tekstur lembut tanah hitam di daerah Dago. Aku sangat senang jika bertemu dengan cacing, langsung diberi kura2 menjadi santapan nya. Tanah menjadi awal mula kehidupan meskipun terlihat kotor tapi sebenarnya menghidupi dan tanpa tanah "kehidupan" itu tak ada.