I. LAUT
Merenung
Aku berdiri di pinggiran pantai. Celanaku sayup-sayup terbasahi ombak. Laut biru terhampar di depan, matahari panas di kepala, angin bertiup lembut. Sayang sekali di Bandung tidak ada laut, pemandangan ini bukan sesuatu yang dapat kunikmati tiap harinya. Namun mungkin kelangkaan itu membuatnya jadi lebih mudah dinikmati, lebih terasa istimewa dan indah dan berharga.
Siang itu adalah penghujung Ekspedisi Kampung Adat. Paginya, kami berangkat dari Babakan Lama, naik elf melewati jalanan berputar-putar yang sungguh membuat mual. Kami berhenti di restoran dekat Pelabuhan Ratu untuk makan siang, istirahat dan shalat. Aku begitu pusing seturun dari elf, sehingga langsung berbaring di karpet restoran. Namun, indahnya pantai membuatku pulih kembali. Aku senang berada di laut. Ini memberikanku kesempatan untuk diam, sendiri, merefleksikan pengalamanku beberapa hari ke belakang.
II. TERAKHIR
Rumah Bu Eem
Senin pagi, 23 Oktober 2023, Kelompok Wowei berkumpul di Terminal Leuwipanjang. Setelah Nyaba Lembur dan Perjalanan Besar, ini adalah perjalanan terakhir kami di SMP. Aku sangat senang tapi juga sangat khawatir. Aku ingin perjalanan terakhir ini bisa meninggalkan bekas yang indah dalam ingatanku.
Perjalanan ke sana sangat panjang, melelahkan, memusingkan… sembilan jam! Namun, sesampainya kita di tujuan, semua itu seperti terbayar. Kasepuhan Babakan Lama adalah sebuah tempat yang indah, berada dalam pelukan gunung di perbatasan Banten Kidul. Rumah-rumahnya disusun berdekatan, rasanya begitu ramah dan hangat. Setelah bertemu dan meminta izin pada Abah Uhay, ketua adat kampung, kami lantas dipertemukan dengan keluarga kami masing-masing selama di sana. Dan begitulah: Ekspedisi telah resmi dimulai!
III. BU EEM
Di leuit dengan kebaya yang dipinjamkan Bu Eem
Aku, Kalila dan Tatha tinggal di rumah Bu Eem. Beliau adalah seorang perempuan yang terlihat kuat dan tegas. Rambutnya disanggul dengan rapi, begitu pula kebaya dan samping-nya yang selalu mulus dan membuatnya gagah. Rapi, kuno, dan kuat: ini membuatnya terlihat berwibawa.
Hal ini tercermin juga dalam rumahnya. Berbeda dengan kebanyakan rumah di Babakan Lama yang sudah menggunakan semen di bagian depannya, rumah Bu Eem adalah rumah panggung, terbuat dari bilik dan kayu. Tempatnya sungguh nyaman: sangat bersih dan rapi. Kamar mandinya, ruang depannya (di sinilah kasur digelar untuk tempat tidur kami), dapurnya. Bu Eem tinggal di sini bersama suaminya, Pak Kandi. Sesekali kami dikunjungi pula oleh cucu-cucunya, Ranti (seumuran kami) dan Ria (adik Ranti yang masih kecil).
Bu Eem biasanya pergi tidur jam delapan malam. Subuh-subuh dia sudah bangun, mengakeul nasi untuk sarapan pagi kami. Kami sempat membantu, namun aku merasa sangat malu dengan kemampuanku yang terbatas. Namun Bu Eem dengan santainya mengipas-ngipas nasi dengan tangan kiri, mengakeul dengan tangan kanan, dengan amat lincah dan berpengalaman.
Dalam perjalanan-perjalanan kami mengitari perkebunan – menangkap ikan, memanen kacang tanah, memberi makan kambing, menumbuk beras – Bu Eem sesekali bercerita. Katanya, sambil menunjuk kerumunan rumah yang terlihat di seberang perkebunan, di zaman penjajahan rumah-rumah itu pernah dibakar habis. Kakek-nenek Bu Eem pernah berkisah tentang ini. Pak Kandi sempat bercerita juga tentang zaman Orde Baru, di mana ada beberapa orang di sana yang sempat ditangkap. Zaman itu mereka masih kecil, jadi belum paham.
IV. TERINGAT
Sawah di dekat saung
Salah satu momen kesukaanku adalah duduk di saung di pinggir sawah, bersama teman-teman sekelas, selepas menangkap ikan. Kami mengobrol bersama, tertawa bersama, lalu ngaliwet bersama hasil masakan beberapa warga. Ada pula saat kami bermain bola dan bermain voli bersama pemuda di sana. Ada pula saat kami bermain Uno hingga larut malam di rumah Kang Jedi. Di saat-saat itu kebersamaan ini sungguh terasa. Semua begitu hangat dan dekat, termasuk dengan warga Babakan Lama.
Itulah sebabnya, saat kami berpamitan di hari terakhir, begitu banyak yang menangis atau berkaca-kaca dari kedua pihak. Pengalaman-pengalamannya begitu menyenangkan dan indah, dan kami sudah bonding dengan cukup baik dengan warga. Berpamitan dengan keluarga kami cukup sulit. Bu Eem yang begitu mengkhawatirkan kami kalau belum pulang, begitu sabar mengajari kami hal-hal yang sudah jadi rutin baginya. Pak Kandi yang rendah hati. Ranti yang sering mengobrol, dan menangis dan berpelukan dengan kami saat pamit. Ria yang malu-malu.
Banyak yang bilang, kira-kria, aku tidak mau pergi tapi tidak mau terus di sini. Seandainya tempat ini ada di Lembang atau tempat yang lebih dekat, akan lebih mudah mengunjunginya lagi. Namun, setelah kupikir, mungkin kelangkaan inilah yang membuatnya berharga dan indah – seperti laut, seperti momen-momen cepat, seperti sekerlip bintang malam. Karena langka, justru jadi teringat, dan benar-benar membekas dengan indah.