Kabur artinya menghindari dari sesuatu. Berlari menghindari dan menjauh dari sesuatu. Kalau kabur dari ancaman, jelas baik. Tapi kalau kabur dari masalah, tidak baik. Tidak bisa dilakukan juga, karena pada akhirnya akan datang kembali masalahnya. Masalah harus dihadapi supaya selesai, dengan kabur kita tidak menyelesaikannya. Dengan kabur kita hanya menyerahkan tanggung jawab ke orang lain, dengan kabur kita hanya membiarkannya, berasa selesai padahal tidak. Tidak ada yang selesai, yang ada hanya 'tampak' selesai.
Ketika kabur dari masalah, biasanya ada pengalihan. Kalau aku kabur dari tanggung jawab, pengalihannya biasa gadget, kegiatan lain, tiduran mungkin. Pengalihan tersebut memberikan kita kenyamanan, memberikan kita ilusi sementara yang membuat kita merasa puas dengan diri sendiri dan merasa masalah sudah selesai.Tetapi pada akhir hari, hal tersebut harus dihadapi. Masa mengandalkan orang lain untuk membereskan apa hal yang perlu kita kerjakan. Jangan egois. Karena tidak enak pula, akhirnya kita tidak kerjakan. Karena dikerjakannya nanti, ditunda, dianggap beres, maka akhirnya terlantarkan. Nyesal mah belakangan, kalau sudah dikerjakan akan puas dan tidak menyesal untuk tidak kabur.
Padahal, semuanya butuh usaha. Butuh usaha untuk keluar dari zona nyaman, mengerjakannya butuh perjuangan. Hasilnya tidak akan layak, jika pengerjaannya juga tidak layak. Kalau pengerjaannya di-push, hasil pun ter-push. Kalau merasa enak dan nyaman saja, artinya selama ini belum ada usaha. Bahkan kalau sudah berusaha sebelumnya, lama-lama bisa jadi semakin biasa dan semakin nyaman dengan usahanya. Kalau begitu, perlu didorong lagi. Karena zona nyaman bisa berubah. Bisa jadi yang sebelumnya usaha, saat ini menjadi zona nyaman. Dan seterusnya, kita harus terus berusaha dan bergerak untuk tumbuh.
Bukannya kabur yak!
Mantap!