Tepat pada sore hari Jum’at, Musik Sore dilaksanakan di Semi Palar. Beberapa hari sebelumnya, aku menulis tentang bagaimana babarengan menjadi sebuah istilah penuh makna di tempat ini. Begitu pula Musik Sore — bagiku, ia adalah puncak selebrasi bagi kakak-kakak, siswa, orang tua, dan seluruh warga Smipa.
Mengapa selebrasi?
Karena perayaan adalah bentuk apresiasi, cara untuk menghargai segala capaian dan menutup seluruh tugas yang telah dijalani dengan sepenuh hati. Maka, dengan hadirnya Musik Sore, berakhir sudah Semester 2 TP20 ini. Dan aku... merasa sangat senang hari itu.
Mengapa aku senang?
Karena ini adalah Musik Sore pertamaku di Smipa. Kehangatan yang kurasa di minggu itu bukan hanya dari babarengan, tapi juga dari semangat Musik Sore yang menjaga nyala api itu. Panitianya adalah teman-teman OSIS dari jenjang SMP. Aku menyaksikan langsung bagaimana mereka menyiapkan acara dengan penuh semangat—mendekorasi, tertawa, saling mengingatkan. Walau ada lelah yang sesekali mampir, tapi antusias tetap menyala.
Tahun ini, temanya adalah “Dunia Fantasi.” Kartu remi tergantung di lorong menuju Longpus, jamur-jamur buatan — dari bentuk alami hingga bergaya Minecraft — tersebar di taman rumput. Lorong Smipa berubah seperti dunia dari kisah dongeng.
Acara dimulai pukul 15.30. Namun sejak pukul 15.00, parkiran sudah penuh sesak. Kendaraan meluber hingga ke jalan luar. Orang-orang berdatangan, ingin menyaksikan anak-anak mereka menampilkan irama sore yang ceria. Stand-stand kuliner dan kerajinan menghiasi setiap sudut. Taman rumput berubah jadi area piknik. Sore itu sangat syahdu. Hatiku hangat. Begitu banyak cinta yang mengalir di sudut Sukamulya ini — cinta yang bersih, tulus, dan penuh harap. Aku yakin, matahari pun ikut tersenyum lebar sore itu.
Tepat pukul 17.00, aku tampil bersama kawanan Tor-tor, membawakan lagu dari dongeng musikal Ubi Pengacau — lagu yang mereka ciptakan sendiri. Sumpah, aku grogi dan malu. Tidak biasanya aku berkeringat saat tampil, tapi hari itu... keringat mengalir deras. Aku menatap wajah teman-teman Tor-tor, mencari kekuatan dari keberanian mereka. Dan ternyata, mereka membawakannya dengan begitu tenang. Penonton menikmati. Aku bangga. Sangat bangga.
Hingga sore berganti malam...
Tahukah kamu? Dingin malam di Bandung kala itu terasa hangat. Lampu-lampu temaram menghiasi panggung, lorong, dan taman. Kesyahduan makin mengental. Para penampil terus maju dengan semangat membara, mempersembahkan buah latihan yang tak ringan.
Di tengah alunan itu, dilangsungkan pula acara pelepasan siswa kelas 6 SD. Ini cukup sentimentil bagiku. Aku pernah magang di kelas itu — bersama pasukan Kecak. Aku menyaksikan dari balkon depan kelas, sementara pelepasan berlangsung di teater. Anak-anak mengenakan busana serba hitam, menyampaikan kesan dan pesan mereka selama berproses di Smipa. Orang tua pun berbicara, lalu ditutup oleh kakak-kakak yang pernah membersamai mereka sejak jenjang KB.
Mengapa ini begitu menyentuhku?
Bukan sekadar karena aku pernah magang di SD 6, tapi karena ia membawaku pada kenangan masa kecil. Saat aku sendiri berada di kelas 6 SD. Aku teringat betapa besarnya jasa guru-guruku. Jika aku bisa, aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka dari setiap hembusan nafasku. Bukan hanya guru SD, tapi semua guru — dari jenjang manapun. Tanpa mereka, aku tidak akan berada di sini, menyaksikan pelepasan ini dengan mata berkaca.
Ya Tuhan...
Jika profesi guru benar-benar adalah jalan keilahian...
Jika benar mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa...
Maka terangilah jalan mereka.
Berikan mereka keadilan yang bijaksana.
Berikan mereka kesejahteraan yang layak dan mencukupi.
Air mataku menetes hanya dengan memikirkan nasib para guru di negeri ini. Mereka orang-orang baik, Ya Tuhan. Aku bahkan rindu omelan mereka. Rindu tugas-tugas mereka. Rindu segalanya dari mereka.
Dan kini...
Semoga aku bisa meneruskan harapan mereka.
Semoga aku bisa menjadi “orang” — dan menuntun manusia lain untuk juga menjadi “orang.”
Bismillah.
Terima kasih, Musik Sore.
Terima kasih, guru-guruku.
Ketika aku melihat kakak-kakak kelas memeluk pasukan Kecak...
Dalam hati aku berkata:
"What a scenery."
.
Bandung 16 Juni 2025. (gambar: The sun is setting over a field of grass photo – Free Sunset Image on Unsplash)