Walau dalam kondisi nambru, keinginan saya untuk menulis menggebu-gebu. Entah mengapa, mungkin karena terdorong oleh situasi rumah yang penuh dengan pekerja. Pada saat ini ada yang sedang memasang wall panel di kamar, ada yang sedang menutup salah satu dinding karena saya menghilangkan 2 buah jendela yang hampir tidak pernah saya fungsikan, dan ada yang sedang memperbaki anak tangga akses ke mezzanine.
Saya tiba-tiba memikirkan masalah keadilan. Nah ini mungkin membingungkan dengan istilah keadilan yang saya gunakan. Maksudnya begini, saya melihat para pekerja ini melakukan tugasnya dengan sangat luar biasa. Ada satu pekerja yang saya perhatikan memiliki skill yang bukan main. Dia mulai bekerja sejak saya mulai mengganti pagar, pintu garasi, dan memasang kanopi. Namanya mas Rudi. Profesi utama dia sebetulnya perbesian, menggunakan mesin las (welding) dan sebagainya. Entah mengapa sesudah pekerjaan pagar, pintu garasi dan kanopi selesai dia masih terus bekerja, membongkar kamar mandi, memasang semua perlengkapan kamar mandi hingga memperbaiki lantai dan atap yang bocor. Tidak berhenti di situ, ketika saya melanjutkan proyek perbaikan rumah dengan mengganti plafon, mas Rudi ini juga yang selalu hadir dan menjadi penanggungjawab. Mas Rudi ini sangat luar biasa. Dalam hati saya menyayangkan dia lahir dan bekerja di Indonesia. Jika dia berada di Amerika, misalnya, dengan kemampuan dan ketrampilan sebanyak ini dia akan menjadi orang yang sangat sukses. Nah, sampai di situ saya memikirkan soal keadilan.
Penasaran, saya mencari tahu soal keadilan. Ini yang saya peroleh
"Fairness is a principle we can apply in our actions. Being conceived in a particular place is not an action."
Kita tidak dapat mengatakan seseorang lebih baik dari yang lain berdasarkan dimana dia dilahirkan. Sama seperti diskusi saya dengan Nina tentang the Accident of Birth yang saya tulis hampir di waktu yang sama 3 tahun yang lalu AES 183 Accident Of Birth
Pada intinya kita tidak dapat mengatakan seseorang lebih baik dari yang lain berdasarkan warga negara, tempat kelahiran atau warna kulit. Yang lebih penting adalah karakter, integritas dan harga diri sebagai manusia daripada penampilan fisik, tempat dilahirkan, warna kulit, agama atau warga negara.
Memang jika saya bandingkan ada banyak sekali ketimpangan, tapi ya itulah hidup, itu cara kerja dan sistem yang sudah diatur oleh semesta. Mungkin saya termasuknya yang sangat beruntung pernah mengenyam banyak pengalaman bahkan sedikit tabungan pensiun yang saya peroleh dari bertualang dapat memberikan kesempatan mas Rudi untuk berbuat baik pada saya, pada tempat tinggal saya.
Cara saya berpikir tentang keadilan sama sekali tidak tepat. Ini bukan masalah adil atau tidak. Hidup memang begitu adanya. Yang tidak adil adalah jika saya memperlakukan mas Rudi yang sudah menunjukkan kualitas dia sebagai skillful worker dengan tidak baik. Saya harus menghargai dia, mengapresiasi kualitas dia sebagai pekerja. Terlebih lagi, seandainya dia dilahirkan di tempat lan, belum tentu hidupnya akan menjadikan dia sebagai orang yang sangat skillful seperti ini, diferent life, diferent outcome, different reality. Jadi bukan merupakan hal-hal yang bisa dibandingkan. Ide pemikiran saya bisa diluruhkan sekarang.
Jika seandainya saya membahas masalah keadilan, coba saja bandingkan dengan masa sejak ribuan tahun sebelum masehi, dimana perbudakan terdapat dimana-mana. Lihat semua piramid di mesir, itu kerja siapa? Lihat beberapa jalan di pulau jawa, itu dulu adalah hasil dari kerja paksa jaman kolonial tahun 1800-an! Nah itu baru bisa kita menggugat keadilan karena kita memperlakukan sesuatu yang buruk pada orang lain.
Ya obrolan ini memang hanya sekedar obrolan ngawur dari saya yang sedang tumbang karena batuk pilek dan kepala yang super cekot-cekot! Hahaha... Salam!
Foto credit: foreignpolicy.com