Denver International Airport terlihat sangat lengang. Belum banyak orang yang datang untuk antri security check in. Mungkin sekitar seratusan orang yang sudah ada di depan kami. Kano malah berkata dulu terakhir kali kami ke sini antrian hingga ujung dan ribuan orang membludak di sini. Wajar saja, kali ini kami berangkat tidak di musim liburan dan juga saat ini masih pukul 3 pagi.
Kami berangkat meninggalkan rumah pukul 1:30 pagi. Saya hanya tidur sekitar 2 jam, jadi tubuh ini memang sangat lelah dan memohon-mohon untuk tetap berbaring di tempat tidur. Tapi memang harus berangkat sebab butuh waktu sekitar 1.5 jam menuju airport melewati highway 25 dan jalan tol menuju bandara. Mengemudi di malam hari dengan rasa kantuk sangat berbahaya, sehingga saya mengemudi sehati-hati mungkin.
Pukul 3 lewat kami sudah di tempat parkir, lalu langsung diantar bus menuju bandara. Security check agak berbelit karena kami berempat, yaitu Nina, Kano, saya dan Simon, rekan dari Indonesia yang juga akan ikut konferensi, masing-masing membawa laptop dan banyak kabel, sehingga semua ransel kami harus dicheck ulang beberapa kali bahkan dibuka. Selesai itu langsung naik kereta yang langsung membawa kami ke terminal.
Di depan gate A33, kami harus berpisah. Kano akan berangkat bersama saya ke Detroit, Michigan, sementara Nina dan Simon akan menuju Los Angeles. Aneh rasanya. Terakhir Kano dan saya bepergian berdua ketika berangkat dari Indonesia menuju Denver, Colorado hampir 7 tahun yang lalu. Sekarang kami berdua ke Detroit, kemudian akan ganti pesawat dan bertemu dengan Nina dan Simon belasan jam kemudian di tempat rendezvous. Saya ijin cuti selama 9 hari, Kano juga ijin untuk tidak bekerja.
Red eye adalah istilah untuk berpergian malam hari, walau sebetulnya perjalanan kami kali ini bukan red eye, tapi karena sudah meninggalkan rumah tengah malam, saya menganggap ini sebagai hampir red eye. Biasanya penerbangan malam itu lebih murah biayanya. Saya memang memilih yang terjangkau, mangkanya kami harus berangkat tengah malam, apalagi Kano yang mentraktir saya membeli tiket liburan. Hahaha.. Dia terlihat begitu bangga bisa "mengajak" orang tuanya liburan dengan biaya dari hasil jerih payah dia bekerja selama berbulan-bulan. Tidak hanya dia yang bangga, saya sebagai ayahnya juga begitu bangga. Saya pernah merasakan bagaimana rasanya membuat orang tua bahagia dan bangga, sekarang memang giliran Kano.
Penerbangan kami masih lama. tempat duduk di gate A33 sangat lengang. Kami memilih salah satu tempat duduk lalu saya bisa menulis sementara Kano bisa bermain game di lapop yang dia bawa. Laptop itu juga dia beli dengan uang sendiri hasil dari keringatnya membuat hamburger. Anak jaman sekarang hahaha...
Rasa kantuk semakin tidak tertahankan, saya terpaksa harus cari kopi. Bandara bukan tempat murah untuk kudapan. Apa boleh buat, terpaksa antri dan bayar mahal. Kopi yang saya bawa terpaksa ditinggal di mobil karena tidak boleh masuk bandara, bahkan air minum saja dibuang oleh petugas. Gara-gara teroris puluhan tahun lalu, mangkanya bandara jadi ketat seperti ini.
Sudah lama sekali rasanya saya bisa berlama-lama berdua dengan Kano. Entah kapan terakhir kali bisa begitu. Hari ini saya diberi banyak kesempatan karena bepergian berdua. Di bandara Detroit kami harus menunggu selama sekitar 1 jam kemudian ganti pesawat. Untungnya gate nya hanya berbeda beberapa langkah saja, sehingga kami banyak waktu untuk membeli makanan. Ini menjadi perjalanan yang lumayan melelahkan karena kami tiba di tempat tujuan sekitar jam 5 sore. Tempat ini berbeda 3 jam dengan Fort Collins, sehingga jika dihitung sejak meninggalkan rumah, saya sudah melakukan perjalanan selama 20 jam. Sampai di kamar yang kami sewa, saya tidak mampu lagi bercerita. Akan saya coba cerita di tulisan yang berikutnya. Sekarang saya harus istirahat karena benar-benar lelah. Salam!