AES038 - berhenti menyesal / musim hujan
Ara Djati
Tuesday September 10 2024, 6:59 PM
AES038 - berhenti menyesal / musim hujan

Tiap kali musim hujan bergulir masuk, kebun rumahku dipenuhi kodok muda. Mereka berlompat-lompat dari kolam ikan, puluhan, mungkin ratusan, kecil dan ceria, seperti jentik-jentik nyamuk atau popcorn yang meledak. Setelah mendengarkan nyanyian kodok tiap malam, sepanjang musim semi, melihat makhluk-makhluk ini muncul tiba-tiba berbulan-bulan kemudian selalu menyenangkan.

Mereka kecil sekali, lebih kecil dari uang logam 50 perak yang kutemukan terselip dalam dompet ibuku. Warnanya coklat lumpur. Sulit sekali membedakan yang mana kodok dan yang mana lumpur. Kupikir, kamuflase yang terlalu bagus justru akan membahayakan. Mungkin memang efektif menjauhkan predator. Tapi bagaimana dengan makhluk-makhluk besar seperti manusia? Mudah sekali untuk menginjak mereka tanpa sengaja, memperpendek hidup mereka yang dari awal sudah pendek, dan kita tidak tahu apa-apa. Berapa banyak kodok yang pernah kuinjak?

Saat malam, kodok-kodok kecil ini berlompatan riang masuk ke dalam rumah. Anjingku selalu senang menyambut mereka, mengajak main. Tapi kakinya yang ceroboh, kukunya yang tajam, tenaganya yang besar, akan selalu menyakiti mereka. Dia duduk sedih dan mendengking ketika kodok temannya berhenti bergerak. Dia mencari kodok lain dari belasan yang masuk ke rumah. Berapa banyak kodok yang pernah kuinjak?

Sejak dulu aku memiliki rasa bersalah yang terlalu besar. Sampai bertahun-tahun aku masih menyesali segala dosaku. Sarang laba-laba yang hancur, pensil yang patah, kertas yang tercoret. Tiap musim hujan, aku senang melihat kodok-kodok kecil berlompatan masuk. Tiap musim hujan, aku berjinjit-jinjit setiap ke luar rumah. Tiap musim hujan, aku khawatir lumpur yang tadi bukanlah lumpur. Berapa banyak kodok yang pernah kuinjak? Seharusnya aku tidak terlalu banyak menyesal, jadi aku menyesal karena terlalu banyak menyesal. Kata orang, aku perlu belajar membiarkan yang sudah lewat.

You May Also Like