AES040 - Menerjemahkan Paus dengan AI
Ara Djati
Friday September 20 2024, 3:18 PM
AES040 - Menerjemahkan Paus dengan AI

Akhir-akhir ini, AI, terutama AI generatif, menjadi sesuatu yang kontroversial. Banyak orang yang mengatakan bahwa ini bisa melukai dunia seni dan menyulitkan seniman kecil karena ada kompetitor yang jauh lebih murah, cepat, dan mudah diakses. Ada juga orang yang memihak perkembangan AI: praktis, mudah, dan karena didesain untuk belajar, bisa beradaptasi dengan segala-galanya dengan kecepatan yang luar biasa.

Opini kita tentang AI bahkan bisa mudah menciptakan pecah-belah. Di komunitas menulis di internet, ada sebuah organisasi non-profit terkenal bernama NaNoWriMo. Setelah mereka menyatakan opini mereka tentang AI [1], banyak sekali orang yang jadi memboikot mereka, dan menimbulkan kontroversi dalam komunitas menulis. Ini semua karena NaNoWriMo menyatakan bahwa AI generatif adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penulis termarginalisasi yang sulit mengakses penerbit, atau penulis yang memiliki keterbatasan mental [2]. Aku pribadi kurang setuju dengan pernyataan ini, karena mereka tidak menyatakan dengan jelas apa saja bentuk-bentuk penggunaan AI yang mereka tolerir. Yang menjadi masalah bagiku adalah bahwa orang-orang di internet terlalu cepat men-cap NaNoWriMo sebagai ‘jahat’ hanya karena sikap yang mereka tunjukkan terhadap AI, dan membuat judul-judul clickbait tentang kasus ini. AI menjadi topik yang divisif.

Sebenarnya, AI punya banyak kegunaan yang sudah sering kita temukan dalam keseharian, seperti untuk seleksi iklan. AI juga bisa digunakan untuk banyak hal-hal mengasikkan: misalnya, yang paling membuatku tertarik, menerjemahkan bahasa paus [3]! Sudah bertahun-tahun ilmuwan menangkap suara-suara yang dihasilkan paus, baik dalam gelombang yang terdengar manusia maupun tidak. Kini, dengan bantuan AI, mereka bisa lebih cepat mendeteksi pola dalam suara-suara ini. Ini karena mereka bisa ‘mendengar’ frekuensi yang tidak bisa kita dengar, dan lebih cepat membedakan. Mereka juga banyak belajar dengan cara mengait-ngaitkan konteks dan kata-kata. Sejauh ini, AI juga sudah membantu ilmuwan mengidentifikasi phonetic alphabet versi paus [4].

AI generatif gambar juga memiliki relevansi kultural yang menarik untuk dibedah. Munculnya banyak meme, seperti kisah sedih kucing (dengan latar belakang lagu What Was I Made For versi ‘meow’) dengan ilustrasi AI, adalah salah satu contoh. Aku juga sering dikirimi video anak-anak berpakaian sayuran oleh nenekku. Tapi, dampak gambar AI bisa juga membahayakan, seperti ketika mencuri artstyle orang atau digunakan untuk membuat deepfake yang mencemari nama orang.

Aku sendiri sering menggunakan chatbot AI untuk memperbaiki tulisanku. Aku memintanya memberikan poin-poin revisi, dan lalu bisa kuperbaiki sesuai dengan saran yang telah diberikan. Aku juga melihat banyak berseliweran di internet tentang penggunaan bantuan chatbot untuk budgeting.

Ada banyak sisi buruk dan baik dari AI. Ada juga banyak pertimbangan moral dan kepraktisan dalam penggunaannya. Bagaimanapun juga, sisi budaya dari AI adalah sesuatu yang sangat menarik untuk didalami. Seperti banyak hal, AI adalah kreasi manusia, maka tanggung jawab manusia juga untuk menggunakannya dengan bijak.

[1] https://nanowrimo.zendesk.com/hc/en-us/articles/29933455931412-What-is-NaNoWriMo-s-position-on-Artificial-Intelligence-AI 

[2] https://slate.com/technology/2024/09/national-novel-writing-month-ai-bots-controversy.html

[3] https://blog.padi.com/talk-to-whales-with-ai/ 

[4] https://www.npr.org/2024/05/20/1198910024/ai-sperm-whales-communication-language

braja
@braja   2 years ago
kalau baca tulisan-tulisan Ara, kakak sering lupa Ara masih sangat muda. keren kawan tulisannya. :) kakak mengikuti AI dan mulai merasakan pengaruhnya yang luar biasa saat melihat Alphago mengalahkan pemain Go terbaik dunia Lee Sedol. (https://youtu.be/WXuK6gekU1Y?si=wDWVPt21Vy-fzE31 AlphaGo - The Movie)

Bisa dilihat dengan asupan data yang sangat banyak dan tepat, (ini kata kuncinya banyak dan tepat), AI barulah bisa melakukan sesuatu dengan baik. Jadi sangat setuju AI itu jika digunakan dengan baik akan bisa membantu manusia. Contoh selain bahasa paus, adalah penggunaan AI untuk bisa merevitalisasi bahasa daerah/bahasa yang sudah punah. Seperti yang dilakukan Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz hingga beliau masuk 100 Tokoh Berpengaruh versi Majalah TIME.

Ara ingin belajar dasar AI (LLM) itu seperti apa? Bisa cek Attention in transformers https://youtu.be/eMlx5fFNoYc?si=xCwOBF21EK6KABmo oleh 3blue1brown. Ya, AI yang mengagumkan dan menakutkan itu pada dasarnya hasil kreativitas manusia di bidang matematika :)
Ara Djati
@ara-djati   2 years ago
wah terima kasih responsnya sangat mendalam Kak! Oke nanti aku akan liat sumber2 itu