Pernah tidak memikirkan apa yang terbaik dalam hidup kita ini? Entah ada bebegig apa yang merasuk kedalam diri saya hahaha.. yang jelas pagi ini juga saya tidak menemukan bacaan atau bahan untuk merenung. Yang ada dalam otak malah keinginan membuat roti keju! Hahaha.. Kacau! Ya sudah, begitu bangun saya langsung ke dapur mengeluarkan susu dan telur agar tidak dingin dan mencapai suhu ruang juga butter supaya tidak keras. Saya akan membuat dinner rolls dengan isian keju yang lumer dan mulur-mulur. Itu nanti untuk makan siang dan malam. Hari ini libur nasi!
Eniwei, sambil menunggu telur dan butter mencapai suhu ruang, saya duduk di depan komputer dan ingin menulis. Ada rasa bahagia bahwa sebentar lagi akan membuat roti. Aneh! Kok hal seperti itu membuat bahagia? Lalu muncul pertanyaan tadi, apa yang terbaik dalam hidup. Kemarin malam saya juga merasa bahagia ketika duduk di meja makan berdua dengan istri, menikmati sedikit nasi hangat, goreng tahu sumedang yang krispi dan oseng paria. Begitu saja sudah membuat saya begitu berbunga-bunga! Aneh!
Yang saya alami yang membuat bahagia itu hal-hal sangat sederhana. "Ngapain jalan-jalan keliling Eropa, posting di IG dan FB agar kelihatan bahagia, padahal perjalanan dengan tour semacam itu seringkali sangat hectic! Tubuh mengalami jetlag, menarik-narik koper besar ketika masih mengantuk, dipaksa makan ketika jadwal tidur, lihat pemandangan ketika tubuh lelah." Kata saya sambil melahap tahu krispi. Saya memejamkan mata, menikmati rasa asin, gurih, serta tekstur tahu sumedang yang khas, kopong ditengah ditambah bunyi kriuk.. "Ini kenikmatan sejati!" Gumam saya sambil terus mengunyah berlama-lama memanjakan semua titik rasa di lidah.
Personal well-being and growth, tiba-tiba beberapa kata ini muncul dalam pikiran saya. Mungkinkah ini yang mengakibatkan saya dapat berbahagia atas hal-hal simpel? Mampu melihat diri sendiri berjuang untuk mencapai sesuatu seumur hidup hingga akhirnya mengerti bahwa yang saya kejar adalah sesuatu yang tidak terlalu berarti dan kadang begitu absurd? Memang sangat memuaskan ketika dapat mencapai sesuatu. Berprestasi di dalam perjalanan karir, misalnya. Itu sudah saya alami, berkali-kali malah. Itu sangat memuaskan, membanggakan, menebalkan ego bahwa saya mampu, bukan orang yang biasa-biasa saja, bukan lagi anak kampung dengan celana robek dan penuh tambalan yang selalu merasa malu ketika dipanggil guru untuk membayar tunggakan uang sekolah, bukan lagi seorang anak yang bingung nanti akan ngapain. Prestasi-prestasi itu memang menyembuhkan luka-luka batin, tapi tidak membahagiakan. Jenjang karir yang tinggi memang sepaket dengan beban yang luar biasa serta tanggungjawab yang sering membuat saya hampir muntah-muntah karena sangat stressful. Saya akhirnya lepas, cari yang baru, mulai dari awal lagi dengan penuh semangat. Ada yang dikejar ada yang diperjuangkan, kembai merasa menjadi diri sendiri. Tiba di atas, lalu bosan. Ada kepuasan tapi hanya sesaat.
Sekarang tidak ada yang saya kejar. Saya mempertahankan kesehatan agar dapat menjalani sisa hidup dengan penuh kesadaran, penuh harapan untuk bisa melihat anak sukses dan mungkin keturunannya jika dia memutuskan untuk berkeluarga. Saya merenungkan bagaimana ketika saya memulai hidup, menyaksikan bagaimana saya belajar dan berkembang dari waktu ke waktu dan semua itu sungguh sangat memuaskan. Bukan hasilnya yang saya lihat, karena jika itu yang saya lihat saya tidak akan pernah merasa puas karena kata orang dulu, di atas gunung masih ada awan, di atas awan masih ada langit dan seterusnya. Saya cukup puas dengan yang seadanya.
Semua perjalanan itu memang akhirnya memberi semacam kepuasan. Tidak seberapa, tapi memuaskan, itu yang penting! Bisa duduk menikmati tempe atau tahu sudah membuat saya begitu bahagia. Kata kuncinya menikmati. Saya diberi anugerah untuk dapat menikmati. Itu anugerah luar biasa. Dan menikmati tidak harus sesuatu yang luar biasa, yang sederhana saja seringkali sudah sangat lebih dari cukup. Apa yang terbaik? Salah satunya kemampuan untuk menikmati. Percuma berhasil dalam semua hal tapi tidak pernah dapat menikmati.
Foto credit: clintbyars.com