Waktu masih SD, kami pernah membuat kapsul waktu. Kami menulis surat untuk diri kami di masa depan, lalu menggulungnya dan menyimpannya di dalam kaleng Khong Guan. Dalam sebuah seremoni kecil, kami menggali sepetak kecil tanah di kebun sekolah, lalu menyaksikan merah Khong Guan perlahan tertutup oleh coklat, hingga menghilang sepenuhnya. Aku senang sekali waktu itu. Akhirnya aku bisa mengalami yang sama dengan tokoh-tokoh di dongeng dan film masa kecilku.
Kapsul waktu adalah cara yang indah untuk mengingat satu momen. Kita bisa mengintip ke dalam kotak kecil itu, persis mengingat masa lalu, dalam objek-objek yang seolah telah melintasi tahun-tahun dan mendarat di kebun belakang kita. Kapsul waktu juga punya peran penting untuk arsip sejarah — banyak sekali yang berusia seabad lebih, berisi potongan koran dan surat, menjadi penting untuk memahami kehidupan di masa itu.
Tapi buatku, kapsul waktu adalah bentuk refleksi. Aku bisa mengingat kembali diriku setahun, dua tahun, sepuluh tahun yang lalu. Aku bisa melihat seberapa banyak aku berubah, seberapa jauh aku berkembang: pandanganku, minatku, caraku membawa diri, apa saja yang dekat di hati dan pikiranku.
Kapsul waktu juga bisa menjadi cara untuk meninggalkan jejak. Seperti yang terlihat dalam banyak tema tulisanku, aku sangat ingin meninggalkan jejak dalam hidup orang-orang, dalam dunia. Setidaknya, butiran-butiran tanah yang mengelilingi kaleng Khong Guan, cacing-cacing tanah yang terbentur tembok besi, semut-semut yang bertualang; mereka akan tahu bahwa 27.000 centimeter kubik tanah kini berisi kapsul waktu.
Tadi, aku dan Seline mengubur sebuah koin di lapangan rumput Smipa yang sedang diganti rumputnya. Kami tidak menguburnya terlalu dalam, tapi cukup dalam untuk tahan beberapa tahun setidaknya. Kami menandai koin itu dengan inisial kami dan jepit rambut. Aku tidak tahu kapan kami akan mengambilnya lagi — atau apakah kami akan mengambilnya lagi — tapi aku tak sabar melihat berapa banyak diriku dan duniaku berubah di titik itu. Esai ini bisa menjadi pengingat!