AES 04 - Bu Soem
Arief Djati
Thursday February 24 2022, 8:30 PM

Saya sebetulnya tidak mengenalnya dengan dekat. Tidak kenal dalam arti tidak tahu persis namanya, tidak tahu persis rumahnya dan bagaimana keluarganya. 

Yang pasti kami sama² tahu, dia tahu kenapa saya kesitu, apa urusannya dan seterusnya. Kalau berpapasan, biasanya kami lempar senyum dan bertegur sapa. Kadang panjang, kadang pendek. Tergantung situasi yang ada pada saat itu.

Dia tahu nama saya, dia juga tahu anak saya. Dan saya juga tahu namanya serta putri²nya. Dia adalah Bu Soemiati, yang pagi² buta tadi menghadapNya.

Saya mengenal Bu Soem, tentu saja karena anak saya. Ara. Dia sekolah di Semipalar, dan karena sering menjemputnya, maka mau tidak mau akan mengenalnya. Sebab Bu Soem adalah salah satu penjual makanan di situ yang enak untuk didatangi. 

Walaupun hanya berjualan di situ, tetapi Bu Soem kenal (semua) siswa semi Palar berikut orang tua mereka. Tidak heran kalau dia kenal orang tuanya dulu, baru anaknya. 

Berkebalikan dengan menantunya, Pak Muklis, yang kenal anaknya lebih dulu, baru orang tuanya. 

Dari berbagai perjumpaan itu bisalah bercerita beberapa hal yang bisa menggambarkan sosok Bu Soemiati ini. Sebelum berjualan di depan Semi Palar, tempat itu kosong. Hanya jadi semacam "kuburan' mobil, yang dibiarkan teronggok bertahun-tahun.

Yang jualan makanan dan minuman, ada di depan pintu masuk Semi Palar, tempat wedding organizer itu, dengan tahu tauge isinya yang pedas. Sayang tidak ada tempat duduk di situ sehingga sering tidak nyaman kalau membeli makanan atau minuman di situ.

Baru kemudian Bu Soem membuka warung di "kuburan" mobil itu, menyiapkan tempat dan seterusnya, sehingga para orang tua siswa Semipa yang biasanya di tempat lain, jadi pindah ke tempat Bu Soem. Lebih dekat dengan sekolah. 

Sebetulnya saya tidak banyak mencicip makanan di sana, kecuali Es Jeruk, gorengan bala², tempe, tahu dan, yang istimewa, ketan goreng dan combro. "Gorengan² yang langka..", komentar seorang kakak di Semipa.

Tahu itu gorengan kesukaan, maka sering Bu Soem mengabari terlebih dulu kalau akan membuat gorengan itu. Dan selalu berusaha memesan mengingat rasanya yang tidak tertandingi. 

Selain itu juga kehangatannya kalau berbicara dengan orang tua murid semi Palar. Ibu Soem selalu berusaha untuk ramah dan hangat. Grapyak, kata orang Jawa. 

Masih teringat bagaimana Bu Soem melayani obrolan orang tua wali murid yang sekalian jajan di sana. Jajan gorengan dan kopi. Dan orang tua wali ini sukanya makan gorengan berteman -- bukan cabe -- melainkan cikur alias kencur. Bu Soem tetap dengan ramah menyediakan cikur yang dipunyainya. Padahal, bukankah cikur salah satu bumbu utama untuk loték? Dan, kita semua tahu, kalau loték merupakan salah satu menu andalan Bu Soem. Ketika ditanya soal ini, soal kalau nanti kehabisan cikur. Dengan santai dia menjawab. "Tak apa. Masih ada simpanan di belakang...". Lebih jauh lagi dia juga cerita kalau almarhum suaminya juga menyukai cikur dibandingkan Lombok yang dianggap lebih pedas. 

Kebaikhatian dan keramahan Bu Soem terkenal. Dia di sana tidak sekadar jualan, melainkan juga menjadikan kebaikan sebagai landasan utama berjualan. Sering, dengan tidak sengaja, dia mendidik anak² Semi Palar yang menjadi konsumennya.

Lantaran tahu bahaya gula, dan ada salah satu siswa Semipa yang agak² bermasalah dengan gula, maka Bu Soem menasihatinya ketika si anak datang lagi ke situ. "..Saya senang makanan atau minuman dibeli. Tetapi, saya tahu kamu akan bermasalah dengan gula kalau kebanyakan. Dan hari ini kamu sudah membeli beberapa gelas Es Jeruk (manis). Jadi, kalau kamu mau beli Es jeruk manis lagi, Bu Soem tidak akan layani. Bu Soem tidak akan jual. Kalau jeruk saja, tanpa gula, boleh...". Untungnya si anak mengerti dan tidak banyak membantah. 

Sayangnya kebaikhatian itu pergi bergegas tadi pagi. Walau sudah pergi, tetapi kebaikhatiannya akan tetap abadi...

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Terima kasih Arief sudah menuliskan tentang bu Soem di ruang ini.
You May Also Like