"Hidup bukanlah tentang menemukan diri kita sendiri, tetapi tentang menciptakan diri kita sendiri." – George Bernard Shaw
Aku selalu takjub pada tulisan apa pun isinya, selama orisinalitasnya masih terjaga. Bukan sekadar teori yang mengawang, tetapi perspektif yang lahir dari pengalaman. Bagiku, membaca merupakan salah satu cara untuk memahami karakter seseorang. Saat membaca, aku selalu mencoba untuk memvisualisasikan setiap kalimat, seolah-olah penulisnya sedang menceritakan sebuah kisah secara langsung kepadaku.
Kita semua memulai sebagai orang asing, namun dengan saling menyapa dan berkenalan, kita mulai membangun hubungan. Beberapa di antara kita memilih untuk mengenal lebih dalam, sementara yang lain hanya sekadar mengenal. Namun, ada juga yang memilih untuk kembali menjadi asing, meninggalkan hubungan yang telah terjalin.
Semakin dewasa, kita mulai menyadari bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Bahkan, terkadang pertanyaan justru dibalas dengan pertanyaan. Ada pola yang terus berulang, seakan semesta ingin kita memahami bahwa tidak ada yang benar-benar kebetulan.
Kenapa aku diciptakan?
Kenapa kamu diciptakan?
Kenapa kita dipertemukan?
Pada akhirnya, hidup tidak selalu perlu dibawa pelik. Seperti kata Fiersa Besari di salah satu lirik lagunya, "Segala sesuatu yang pelik bisa diringankan dengan peluk". Entah pelukan dari seseorang, udara malam, kabut pagi atau sekadar dari cangkir kopi yang menghangatkan telapak tangan.
Zona Nyaman: Antara Rumah dan Penjara
Zona nyaman, tempat di mana ketenangan dan kebahagiaan bersatu, namun juga bahaya yang menyimpan. Di sana, kita bisa merasakan denyut nadi kehidupan, tetapi juga bisa terjebak dalam kenyamanan yang mematikan.
Beberapa orang memilih pantai untuk menenangkan riuh dalam kepala.
Ada yang mendaki gunung untuk menikmati teduh dalam kesunyian.
Ada pula yang lebih memilih bersembunyi dalam kamar kecil, memandang dunia dengan tatapan acuh tak acuh.
Baik, Jahat, dan Ruang Abu-abu
Ada yang tak sepakat dengan konsep benar dan salah, tetapi setuju bahwa baik dan jahat itu nyata.
Aku teringat film “The School for Good and Evil”. Kisah tentang Agatha dan Sophie, dua sahabat yang harus menerima kenyataan pahit saat mereka dipisahkan ke dalam sekolah yang berlawanan dengan dirinya masing-masing. Sophie, yang merasa dirinya lembut dan layak menjadi seorang putri, justru ditempatkan di sekolah kejahatan. Sedangkan Agatha, yang lebih berjiwa petualang, dikirim ke sekolah kebaikan. Seiring waktu, mereka menyadari bahwa baik dan jahat bukan sekadar label. Tidak ada manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Karena itu, melabeli seseorang hanya berdasarkan satu sisi kisahnya adalah hal yang tak adil.
Benar, Salah, dan Perspektif yang Berbenturan
Apakah hitam selalu gelap?
Putih selalu terang?
Ataukah hitam bisa memancarkan cahaya, dan putih bisa menyembunyikan kegelapan?
Hidup tidak sesederhana itu. Kadang, membela diri bisa berakhir dengan menjadi tersangka. Apa yang dianggap benar dalam satu perspektif bisa menjadi salah di mata hukum. Hukum memang mengatur, memaksa, dan melindungi. Namun, ia tak bisa selalu menentukan makna "benar" atau "salah” karena keduanya sering kali hanya soal sudut pandang.
Jangan percaya rating atau penilaian orang lain. Entah itu tentang film, musik, seni, buku, atau bahkan manusia itu sendiri. Pada akhirnya, hanya hati kita yang bisa menilai segala sesuatu dengan jujur.
Lantas, apa yang harus kita percaya?
Mungkin jawabannya sederhana: hidup itu sendiri. Tapi tentu saja, tak semudah itu memahami hidup, selama hati kita belum benar-benar hidup.