Hari ini, aku melangkahkan kaki ke sebuah hotel di Surabaya, tempat berlangsungnya Pertemuan Evaluasi Tutor Kelas Minat dan Bakat. Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti evaluasi sejak bergabung beberapa bulan lalu sebagai tutor baru. Aku datang sendiri, merasa asing di antara mereka yang sudah saling mengenal, beberapa bahkan telah mengabdikan diri selama satu hingga dua tahun.
Saat memasuki ruangan yang masih sepi, aku mengisi buku tamu dan memilih tempat duduk di dekat pintu masuk. Suasana terasa canggung. Banyak orang sibuk dengan gawainya masing-masing, membentuk gelembung kecil di tengah keramaian. Namun, aku menyadari bahwa diam saja hanya akan membuatku semakin merasa terasing. Dengan sedikit keberanian, aku memutuskan untuk bergabung di meja bundar di tengah ruangan, tempat empat tutor lainnya sudah duduk.
Aku membuka percakapan dengan seorang tutor yang tampak lebih muda dariku. Benar saja, ia tiga tahun lebih muda dan telah menjadi tutor Bahasa Inggris selama hampir dua tahun. Kami berbincang ringan, berbagi cerita, dan perlahan rasa asing mulai luruh. Ada kehangatan dalam pertemuan ini—kehangatan yang lahir dari kesamaan tujuan: membimbing dan mendukung anak-anak menemukan serta mengembangkan minat dan bakat mereka.
Acara dimulai dengan sambutan hangat, diikuti sesi inti berupa evaluasi program. Ini adalah momen refleksi, tempat kami menelaah apa yang telah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki. Meski berlangsung cukup singkat, beberapa pertanyaan dari para tutor tidak semua terjawab tuntas, menandakan masih adanya ruang untuk menyelaraskan pemahaman dan persepsi di antara kami.
Yang menarik perhatianku adalah keberagaman usia di komunitas ini. Dari yang masih berusia 22 tahun hingga mereka yang sudah lanjut usia, semua hadir dengan semangat yang sama. Ada satu sosok yang benar-benar menginspirasi—seorang tutor Braille yang hanya memiliki satu murid. Meski dihadapkan pada keterbatasan, ia menunjukkan dedikasi luar biasa. Beliau bahkan menjadi orang pertama yang hadir di pertemuan ini, seperti tercatat di buku presensi. Ketekunannya mengingatkanku bahwa pengabdian sejati tidak ditentukan oleh jumlah murid, tetapi oleh kesungguhan hati.
Sebuah Kejutan yang Tak Terduga
Setelah sesi evaluasi usai, tibalah momen apresiasi untuk para tutor dalam berbagai kategori: Tutor Berprestasi, Tutor Terfavorit, Tutor Terkreatif, dan beberapa penghargaan lainnya. Jujur, aku tidak menaruh harapan besar. Sebagai tutor yang paling baru, rasanya mustahil namaku disebut. Aku hanya bersorak dan ikut merayakan teman-teman yang memenangkan penghargaan.
Namun, di luar dugaan, tiba-tiba namaku dipanggil untuk menerima penghargaan sebagai Tutor Terkreatif. Aku terpaku sesaat, tidak percaya bahwa di antara banyaknya tutor berpengalaman, aku yang masih hijau di komunitas ini justru mendapatkan pengakuan. Ada rasa haru dan bangga yang sulit diungkapkan. Penghargaan ini bukan sekadar hadiah, melainkan pengingat bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia.
Pelajaran di Ujung Perjalanan
Hari itu, aku pulang membawa lebih dari sekadar bingkisan hadiah. Aku membawa pengalaman, pembelajaran, dan rasa syukur yang mendalam. Aku belajar bahwa:
Belajar tak mengenal batas usia. Tidak ada kata terlambat untuk memulai atau terus berkembang.
Keterbatasan bukanlah penghalang. Seperti tutor Braille yang penuh dedikasi, kita bisa tetap berkontribusi meski dalam keterbatasan.
Proses lebih berharga dari hasil. Bukan berapa lama kita menekuni sesuatu yang menentukan keberhasilan, melainkan seberapa besar kesungguhan kita dalam menjalani proses tersebut.
Pertemuan evaluasi ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir bagiku di komunitas ini. Aku harus mengucapkan selamat tinggal karena akan melanjutkan perjalanan di tempat baru. Ada rasa sedih yang menggantung di hati, namun aku percaya setiap akhir hanyalah awal dari perjalanan lain yang penuh makna.
Seperti kata John Dewey, "Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri." Aku bersyukur telah menjadi bagian dari komunitas ini, walau sejenak. Setiap langkah, setiap interaksi, dan setiap pelajaran akan selalu melekat dalam perjalanan hidupku.
Terima kasih, Kelas Minat dan Bakat. Sampai jumpa di persimpangan yang lain.