Berawal dari obrolan santai di warung bersama pak Mahesha, pak bagaimana kalau dalam hidup ini kita merasa tidak adil, apa artinya ini. Beliau singkat berkata itu "EGO" dalam diri kita yang merasa bahwa hidup ini tidak adil. Jika kita bicara keadilan, seluruh umat manusia ini dunia ini mengalami ketidakadilan yang turun menurun. Ketidakadilan dalam perjalanan hidup terjadi dari generasi generasi sebelum kita, sehingga kita ini adalah salah satu korban ketidakadilan yang menurun, pertanyaannya "apakah kita mau dan bisa menghentikan/mengubah ketidakadilan ini?"
Contoh-contoh sederhana dalam hidup ini jika kita menganggap hidup ini tidak adil, bayangkan anak yang terlahir dengan kondisi keluarga kurang mampu, apakah dia akan merasa hidup tidak adil? Ya, bagimana dengan anak yang terlahir hidup dengan kecukupan tapi memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tuanya, apakah dia akan merasa hidup tidak adil? Ya. Semua hal di dunia ini jika kita pikirkan dengan logika akan terasa tidak adil, namun, kita bisa mengubah atau menghentikan rasa tidak adil dengan apa, dengan "kebersadaran", kebersadaran dalam menyikapi dan kebersadaran dalam menerima apa yang sudah terjadi di masa lalu, dan kita selesaikan dimasa sekarang, untuk keadilan dimasa mendatang, keadilan untuk siapa? untuk diri kita, pasangan kita, dan tentu anak anak kita.
Menerima bahwa kita adalah korban dari ketidakadilan adalah hal yang sulit, mungkin saya sendiri masih sering merasa bahwa hidup ini tidak adil, namun, kita memilik kontrol untuk dirikita sendiri, untuk mengolah eneji negatif menjadi energi positif, terima ketidakadilan tersebut, akui ketidakadilan tersebut, perbaiki ketidakadilan tersebut, hilangkan ego dalam diri, agar kita dapat memeprbaiki hal yang dirasa tidak adil dalam hidup ini.
Dari dua contoh sebelumnya, jika kita sikapi dengan kebersadaran pasti akan ada hikmah atau ada maksud dari alam ini untuk diri kita, sehingga kita bisa ada dalam salah satu kondisi tersebut, mungkin, dia yang kurang mampu agar tidak terlalu berat apa yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat nanti, mungkin juga dia yang berkecukupan namun hubungan tidak baik, agar bisa belajar dari kondisi tersebut dan tidak mengulanginya kepada anak-anaknya kelak.
Tulisan ini hanya berdasarkan obrolan dan pemikiran saya yang masih belajar dalam memaknai hidup, kembali ke judul, hidup ini tidak adil? Ya, jika ego yang berbicara. Apakah kita mau dan bisa menghentikan/mengubah ketidakadilan ini? Ya, dengan kebersadaran dalam menerima dan memperbaiki hal-hal yang dirasa tidak adil, agar kita tidak meneruskan/menurunkan rasa ketidakadilan kepada lingkungan kita.
Wow seru nih tulisan keduanya. Sudah ada beberapa posting yang menuliskan tentang ego... Tulisan saya mengenai ini segera menyusul. ππΌπΏ
Seru ini! Kalau pendapat saya, keadilan itu seringkali dilihat dari kaca mata subjektif karena kita memiliki preferensi. Kalau preferensi kita tidak terpenuhi seringkali situasi dianggap kurang adil. Apalagi kalau dikaitkan dengan obrolan mas @gunawan-muhtar tentang soul contract, yang meyakini bahwa sebelum lahir kita sudah teken kontrak memilih orang tua, tempat, bahkan hal-hal yang masih harus dipelajari atau diulang kerena belum selesai. Mungkin yang dianggap kurang adil itu merupakan sesuatu yang harus dilalui, dipelajari dan diselesaikan. Betul tidak mas @gunawan-muhtar bahwa Gaia Philosophy beranggapan begitu? Saya masih belajar jd masih anak bawang soal ini, baru mulai sesudah mbak @sanya bagi-bagi referensi. Hehehehe
Rahayu Pak @joefelus, Pak Bangkit, terima kasih untuk tulisannya, memantik refleksi.
Adil tidak - adil itu, saya kira hanya tentang cara pikiran linier manusia menilai sesuatu dalam perspektif dualitas.
Dalam konteks kesemestaan, semua keberadaan dan kejadian di jagat raya hadir sebagai bentuk ekspresi / pengalaman kesadaran yang tunggal.
Jadi kalo kita labeli adil, maka sejatinya seluruh keberaan adil sesuai fungsinya masing masing.
Dalam tubuh kita misalnya, mana yang lebih adil, lubang mulut atau lubang anus, tangan kanan atau tangan kiri, mata atau telinga dll.
Realitasnya, semua diperlukan, menjalankan peran yang sama pentingnya dalam kesemestaan, sebagai bentuk pengalaman rasa kesadaran. Serupa kutub positif dan negatif yang diperlukan agar energi listik mengalir.
Mengalami menjadi yang miskin atau yang kaya, mengalami sehat atau sakit, menjadi laki laki dan perempuan dll hanyalah bentuk dualitas yang secara alami, akan dialami seluruh jiwa secara seimbang.
Tujuannya, jiwa mengalami semua sisi dualitas agar memahami, bahwa dibalik seluruh pengalaman yang nampak saling bertolak belakang itu, ada kesadaran tunggal yang menjadi segalanya.
Sudut pandang saya seperti itu Pak, mohon maaf kalo keliru.
Nah khan... bener seru! Terima kasih mas @gunawan-muhtar buat pencerahannya. Saya setuju sekali. Segala seuatu tidak ada yang kebetulan. Mungkin terdengar cliche, tapi saya percaya everything happens for a reason, apapun itu alasannya.
wah terimakasih banyak atas sharingnya, agak sulit mencernanya untuk saya yang masih belajar, saya coba pahami lebih dalam