Pengetahuan membuat kita semakin banyak melihat kemungkinan, lalu masuk ke dalam jebakan paradoks pilihan. Seringkali jadinya menutup peluang dari banyak kemungkinan tersebut, dan terpaku pada satu keseharusnyaan. Seperti judul film jadul pintar pintar bodoh rasanya, semakin pintar semakin bodoh semakin luas semakin sempit dan semakin dalam semakin dangkal.
Hal ini berlaku sebaliknya lho, semakin dangkal semakin dalam semakin sempit semakin luas dan semakin bodoh semakin pintar. Kalau dengan kesadaran bahwa dasar dari pengetahuan adalah ketidaktahuan bukannya pengabaian dan melanjutkan kemungkinan pada peluang, muncullah satu tindakan yang dapat menyatakan seribu gagasan.
Semakin banyak pencapaian untuk menyatakan satu gagasan, jadi penerus penanggung warisan keinginan dari masa lalu. Semakin sedikit tindakan untuk memenuhi satu kecukupan, jadi mendapatkan semua kebaruan yang diperlukan untuk masa depan. Masa kini tetaplah sebentuk wadah yang bisa diisi dengan jawaban, “masa bodoh!” Yang bikin sibuk. Atau diisi dengan pertanyaan, “masa bodoh?” Yang bikin santai.