Seseorang pernah berkata," Expectation is the root of heartache." Kutipan itu menunjukkan bahwa ketika kita mengalami kekecewaan, artinya harapan dan keinginan kita lepas dari jangkauan. Hal semacam itu sering kita alami dalam hidup, dari hal kecil hingga sesuatu yang sangat luar biasa dan sulit kita lupakan. Kekecewaan itu seringkali tidak berarti banyak tapi ada kekecewaan yang mengubah arah hidup kita.
Kekecewaan, sebagaimana tidak menyenangkannya, selalu memberikan sesuatu bagi kita untuk belajar. Kita bisa saksikan atau mungkin mengalami sendiri bagaimana orang bereaksi terhadap kekecewaan dalam hidup. Tidak selalu mudah menghadapinya.
Banyak orang berusaha menghidari kekecewaan dengan tidak berusaha mencanangkan harapan mereka terlalu tinggi, ada juga yang menjadi underachiever, maksudnya tidak mau berusaha dengan keras, hanya seadanya saja, hanya asal mencapai target atau kalau pelajar pokoknya asal lulus. "Buat apa berusaha keras, toh hasil akhirnya ya begitu-begitu saja." Kalimat semacam itu sering digunakan oleh orang yang kecewa. Kecenderungan semacam itu kuat sekali bukan? "Buat apa kita berusaha keras, toh tetap tidak dihargai." Tidak ada lagi gairah, apatis.
Saya memang masih menghadapi kekecewaan. Belum bisa move on dari minggu kemarin hahaha.. Saya masih jengkel bahkan tadi pagi saya bilang ke Lauren, asisten manajer di Bakeshop,"Being forgoten is very disappointing. It doesn't matter if you go above and beyond, it won't change anything! Maybe it's time for me to move on and see other possibilities." Hmm... dalam hati saya menyesal juga mengatakan ini. Saya bukan tipe orang yang kalau jengkel lalu menjadi underachiever. Saya mengungkapkan kata-kata tersebut hanya karena kecewa dan jengkel dan berusaha mengungkapkan kemarahan saya dengan sedikit mengancam! Hahaha.. Kasarnya,"If you don't recognize me, then it's better not to have me at all!"
Itu cuma sedikit emotional outburst saja. Saya bukan orang yang seperti itu, atau setidak-tidaknya saya sekarang bukan orang yang seperti itu. Saya punya banyak pengalaman kecewa. Pernah berakhir dengan siatuasi yang destruktif bagi saya, tapi pernah juga justru destruktif bagi pihak lain. Pada saat itu mungkin saya merasa puas diri, tapi saya juga menyadari bahwa tindakan itu bukan hal yang patut. Pada intinya, kekecewaan itu sama sekali bukan untuk merusak kita karena jika dijalani dan dihadapi dengan baik, kekecewaan akan memperkuat dan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Terlepas dari dampak emosional yang "merusak" sebetulnya kita bisa mempertimbangkan bagaimana menghadapi kekecewaan ini sebagai bentuk perjalanan menuju kabaikan dan kebijakan, tapi untuk itu kita harus bisa refleksi diri dan mengevaluasi situasi yang kita hadapi dengan kesungguhan yang tinggi. Kita harus berani melihat dibawah permukaan dan dengan bekerja menghadapi rasa tidak nyaman dan sakit, kita akan terbebas dari kekecewaan itu.
Terlepas dari apapun peristiwa yang mengecewakan kita, tantangannya adalah tidak membiarkan kepahitan itu mengakar dan menguasai kita. Sebaiknya kita selalu ingat bahwa meskipun kekecewaan tidak terhindarkan dalam hidup, kita selalu memiliki pilihan! Nah asyik khan? Selagi kecewa saya menulis ini sekaligus mengingatkan diri sendiri dan jujur saja sekarang I feel fine! hahaha. Bener khan bahwa menulis itu media reflektif dan terapeutik? nah terbukti!
Foto credit: Pexels.com
Nice one Joe... semoga yg baca ini tergelitik untuk mencoba nulis... merasakan efek therapeutik dari menulis. 🤗🙏