Saya hanya mampir sebentar di Malaysia. Kesan pertama karpet yang sudah pudar dan petugas yang tidak seramah petugas kebersihan di terminal 3 bandara Soetta.
"Selamat pagi bapak. Silakan." Kata petugas di dekat kamar kecil di bandara Soekarno Hatta.
"Terima kasih, Mas." Jawab saya.
"Dengan senang hati, Bapak." Katanya sambil setengah membungkuk dengan dua tangan di dada sambil melempar senyuman lebar.
"Waaaa" kata saya dalam hati. Tubuh yang lelah dan sangat mengantuk sejenak mendapat angin segar karena sapaan hangat dari petugas. Ini adalah sambutan yang luar biasa. Hampir tidak pernah saya terima di manapun. Saya takjub sekaligus bangga dengan pelayanan di Indonesia.
Tiba di Malaysia sangat berbeda. bandara terminal 1 yang terlihat mulai seperti ran down, petugas yang acuh tak acuh bahkan ketika saya tanya, dijawab." Refer to television upstairs." Dingin, tanpa senyuman dan terdengar angkuh. Berbeda total dengan yang saya alami di dekat toilet di Indonesia. "Wow!" kata saya dalam hati sambil berusaha tidak terpengaruh. Saya hamya punya waktu sekitar 30 menit menuju gate lain untuk mengejar pesawat berikutnya. Kesan saya: Tidak suka. Mudah-mudahan tidak mencerminkan negeri Jiran ini. Mungkin hanya petugas tadi yang sedang mengalami hari buruk.
Bandara Changi Singapura katanya merupakan salah satu bandara terbaik di dunia. Ini kali kedua saya mampir ke sini. Dua-duanya dalam kondisi kelelahan, yang pertama malah ditengah-tengah pengalaman terburuk dalam melakukan perjalanan udara. Kesulitan di sini adalah mencari informasi. Banyak orang yang saya tanya, sedikit yang dapat memberikan informasi yang akurat, malah ada yang tidak bisa bahasa Inggris. Karena sudah kelelahan akhirnya saya memutuskan untuk ke hotel daripada membuang-buang waktu.
Yang sangat saya sukai adalah menggunakan bus kota dan MRT (mass Rapid Transit)di sini. Saya belum pernah menggunakan kereta MRT di Asia dan saya sangat terkagum-kagum ketika menggunakan sarana transportasi di sini. Amerika yang sejak entah kapan dianggap sebagai negara adidaya, ternyata menurut saya sistem transportasinya kalah dengan Singapura! Akses untuk menuju stasion MRT sangat mudah dan sangat bersih. New York, salah satu kota yang menjadi tujuan favorit para traveller manca negara, bagi saya seperti tempat gelandangan jika dibandingkan dengan MRT di Singapura. Di New York akses menuju subway sangat kotor dan bau pesing! Saya merasa masuk ke WC umum. Bahkan Washington DC yang menurut saya merupakan tempat favorit jika berkaitan dengan subway dan bagi saya yang terbaik di Amerika, jika dibandingkan dengan Singapura ternyata masih kalah. Di Singapura semua lorong-lorong ber AC, sangat nyaman, bersih bahkan banyak yang harum. Sekarang saya jadi penasaran bagaimana kondisi MRT di Jakarta, selama ini saya belum memiliki keinginan untuk mencoba.
Bus kota di Singapura juga tidak kalah baiknya. Saya sudah mencoba banyak sistem bus kota di Amerika. Di kota dulu saya tinggal juga banyak menggunakan bus kota, Singapura termasuk yang layak diberi acungan jempol! Satu yang bisa ditingkatkan adalah informasi kedatangan bus kota bagi para penumpang yang menunggu. Akan sangat sempurna jika semua tempat perhentian bus memberikan semacam pengumuman melalui display ataupun suara yang memberikan informasi kapan bus akan tiba. Ini akan sangat membantu.
"I don't know how long we have to wait." Kata saya pada Nina. Kami berdua sudah sangat kepanasan dan penuh keringat karena suhu hari ini mencapai 35 derajat Celcius ditambah tingkat kelembaban mencapai di atas 80%, jadi bayangkan panasnya seperti apa. Sama sekali tidak nyaman.
"Oh, the bus almost get!" Kata seseorang yang menunggu bersama kami.
Saya senyum-senyum. Setelah sekian lama saya mendengar cara orang-orang Singapura menggunakan bahasa Inggris, akhirnya saya dapat mendengar secara langsung. "Almost get?" Hahaha... saya tebak artinya about to arrive, atau hampir tiba! Mulai besok saya akan coba lebih banyak ngobrol dengan orang-orang lokal, siapa tahu saya dapat memperoleh pengalaman seru lainnya. Hahaha...
Foto credit: executivetraveller.com