Saya pikir semua warga Semi Palar kenal Bubur Valentine. Mudah-mudahan juga sudah pernah mencicipi bubur ayamnya yang enak itu. Minggu lalu saya berangkat ke Smipa menggunakan ojek online. Karena belum sarapan, mendadak muncul ide untuk berhenti dulu di bubur Valentine dan mengisi logistik pagi dulu. Akhirnya saya bilang sama driver Ojeknya untuk berhenti saja di bawah. Sayapun melangkah menuju ke warung bubur Valentine.
Di depan warung saya melihat pak Supar sedang mempersiapkan dagangannya hari itu. Melihat saya datang, pak Supar tersenyum lebar dan menyapa saya, "Eeh, pak Andy... Selamat Taun Baru!." Sayapun bersalaman mengambil tempat duduk di meja warung dan mulai mengobrol sambil pak Supar menyiapkan pesanan saya. Memang sudah lama sekali saya tidak ngobrol dengan beliau.
Ada yang sedikit berbeda, karena hari ini hanya pak Supar yang berjualan. Dia bilang, "Muhun pa Andy, ayeuna mah icalana nyalira". Sekarang dia hanya berjualan sendiri. Beberapa waktu lalu, putrinya meninggal dunia karena sakit. Istrinya yang juga biasa membantunya sepertinya kurang sehat juga. Beliau bilang, "Pada sarusah diajak olah raga!" Sejauh saya kenal pak Supar beliau rajin berolahraga, termasuk bersepeda. Hobi yang sama dengan saya. Beliau selalu melambai dengan semangat saat melihat saya gowes ke atau sepulang dari Smipa.
Obrolan bergeser ke asal mula dia berjualan. Ternyata warung ini dimodali oleh salah satu warga jalan Sukamulya (yang sekarang sudah pindah ke Jakarta). Beliau mengenal pak Supar sebagai seorang yang jujur. Kalau saya tidak salah, 25 tahun yang lalu pak Supar diberi modal berjualan oleh beliau. Gerobak yang jadi tempat pak Supar menyiapkan pesanan untuk para pembeli adalah gerobak yang dibelinya dari modal usaha itu. Beliau cerita bapak itu orang yang sangat baik hati. Di suatu titik, pak Supar bilang pernah ditawari motor juga. Tapi karena satu dan lain alasan pak Supar menolak pembelian bapak itu.
Tapi begitulah sekilas cerita tentang pak Supar dan bubur Valentine. Di tahun awal Semi Palar, warung bubur ini selalu jadi patokan saat ada yang mau pergi ke Semi Palar. Cari aja pertigaan Sukamulya dan kalau sudah ketemu bubur Valentine, sudah dekat, tinggal mengikuti jalan menanjak dan Semi Palar akan ketemu lokasinya. Saya lupa bagaimana persis ceritanya, malah sempat muncul istilah khas di obrolan kami para kakak yaitu Smilentine. Kombinasi antara Smipa dan Bubur Valentine.
Demikian tulisan saya pagi ini. Mohon maaf fotonya saya ambil diam-diam sewaktu pak Supar bercerita. Waktu saya liat hasilnya, ternyata mata pak Supar lagi merem. Punten ya pak. Mudah-mudahan berkesempatan untuk saya perbaiki. Salam.