AES 159 Refleksi Nurani 
bryann
Tuesday May 17 2022, 1:32 PM

AES 159 Refleksi Nurani 

Sebelumnya aku telah menulis sebanyak 2 tulisan mengenai nurani. Namun aku yakin masih banyak yang bisa dibahas mengenai nurani dalam kehidupanku. Semakin sini aku jadi lebih banyak memiliki pemikiran, dan pendapatku mengenai agama. 

Selama ini aku masih rutin mengikuti misa gereja, meskipun masih offline. Karena suka telat daftar sehingga tidak mendapatkan slot untuk mengikuti misa offline. Aku juga merasa bahwa aku orang yang positif, dalam segala masalah pasti bisa ditangani dan segala hal bisa berubah yang penting kita punya niat. Aku juga percaya seberapa buruk habit seseorang, dan semua nya bisa berubah. Jujur aku juga kadang merasa malas untuk mengikuti misa. Dulu aku masih suka ngantuk ngantuk pada saat mengikuti misa, namun sekitar 2 atau 1 bulan belakangan ini aku lebih fokus, dan ga ngantuk ngantuk lagi. Aku juga lebih sering doa sebelum tidur, dan sebelum makan. Aku juga bingung kesadaran ini berawal dari mana, namun ini adalah salah satu hal yang harus dipertahankan. Mungkin aku pernah merasakan yang namanya mujizat. 

Pada saat itu dimalam hari aku sedang mencari barangku, setelah mencari dikamar dan dirumah, ternyata tidak ketemu. Karena itu aku mencari dimobil, pada saat jalan ke mobil aku tersadar bahwa rumah belum dikunci sama sekali. Setelah itu aku lanjut mencari barangku yang hilang. Dan ternyata tidak ada sama sekali di mobil, setelah balik ke kamar ternyata aku menemukan barang tersebut. Dari kejadian ini aku percaya bahwa ini bukan hanya kebetulan namun hal yang “disengaja”

Terkadang aku dan teman teman dekatku suka ngobrolin tentang agama, terkadang serius, terkadang jadi bahan bercandaan. Terutama pada saat kemarin aku ke jakarta bersama Zacky yang beragama Budha, dan Althaf yang beragama Muslim. Yang dimana kita semua memiliki perbedaan, masih ada beberapa  hal yang belum aku ketahui dari agama teman teman ku ini. Begitu pula dengan teman temanku yang belum tahu banyak perbedaan kristen dan katolik. Kami juga sering membahas mengenai toleransi mengenai agama. Sebelumnya aku sempat bilang bahwa agama ini terkadang jadi bahan bercandaan, becandain agama kok dianggep toleransi? Well, menurut aku dan teman teman ku tersebut, saking toleransinya jokes berbau agama pun oke oke saja. Jadi bercanda tentang agama adalah the next level of toleransi, namun bercandanya juga bukan yang menghina dan menjelekan. Tapi ya mengingat tidak semua orang bisa begitu, kami harus ingat tempat dan waktu juga. 

Ngomong ngomong soal agama, banyak sekali individu dan komunitas, maupun kelompok yang fanatik dengan agama, Beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang dilontarkan oleh teman ku. “Mending fanatik sama artis atau sama agama” entah mengapa dengan spontan aku menjawab dengan artis. Karena sejauh ini mereka yang terlalu fanatik dengan agama jatuhnya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi agama lain. Seperti salah satu contohnya, aku tidak terlalu nyaman dengan orang yang menyambungkan segala hal dengan agamanya. Hal tersebut terlalu berlebihan bagiku. 

Aku sendiri tidak pernah tahu apa pandangan orang lain mengenai sisi Nuraniku, namun aku sendiri merasa bahwa dalam skala 1 sampai 5 sisi nurani ku masih di angka 3. Walau nurani ku selalu lari ke arah yang positif terkadang masih ada saja beberapa masalah yang menimbulkan pikiran pikiran negatif. Dalam 1 semester ini aku banyak berpikir mengenai apa saja yang ingin aku lakukan sebelum nanti masuk kuliah, dan apa saja yang harus aku lakukan agar aku bisa kuliah sesuai harapanku. Melihat usaha ku selama ini masih banyak kurangnya dibandingkan teman teman ku yang lainnya. Terkadang itu menjadi dorongan tersendiri, terkadang itu menjadi bahan “overthink” Beberapa waktu lalu, aku sempat bertanya kepada kakak, bagaimana cara mengatasi Overthink, dan salah satu solusi paling ampuhnya adalah membuat RTL (Rencana Tindak Lanjut). Dan ya benar saja, aku sudah menerapkan hal tersebut pada saat aku overthink sehingga aku gak banyak galau, dan langsung memikirkan langkah selanjutnya untuk dilakukan.