Sebagai warga baru di SMIPA, yang punya anak yang baru saja masuk TK A tahun ini, saya masih sampai pada tahap terkagum-kagum akan banyaknya hal keren yang ada di sini. Salah satunya yang mau saya sharing di tulisan ini adalah buku yang dipinjam Mosha di perpustakaan.
Pertama-tama, ide seorang anak TK punya minat untuk meminjam buku di perpustakaan saja, sudah cukup membuat saya amazed. Rasanya pas saya sekolah dulu, pertama kali saya pinjam buku ke perpustakaan sekolah itu waktu SMP, itu pun karena diwajibkan oleh guru, di jam pelajaran bahasa Indonesia
. Mungkin jaman memang sudah berubah banget ya.
Saya tidak tahu sejak kapan, tapi kalau tidak salah memperhatikan kira-kira sudah selama satu bulan ini Mosha senang sekali pinjam buku ke perpustakaan SMIPA. Tidak tahu juga apa yang membuat Mosha tiba-tiba jadi mau pinjam buku, mungkin dikomporin kakak, atau ikut-ikutan teman-temannya, tapi yang jelas menurut saya dan mamanya ini adalah kegiatan yang bagus banget.
Kita memang merasa membaca itu suatu hal yang sangat penting, dan sangat perlu dibiasakan dari kecil. Dan ketika pertama kali datang ke SMIPA, kebetulan waktu itu kelihatannya hari Jumat, kita sangat terkesan dengan semua anak-anak dan kakak-kakak yang "bertebaran" di berbagai lokasi di SMIPA, semua duduk asik membaca buku masing-masing. Baru setelah masuk kami tahu kalau hari Jumat memang harinya baca buku bareng-bareng, atau JABAWASKITA (Jam Baca Wawasan Kisah dan Cerita, semoga benar ya arti singkatannya
).
Kembali ke topik pinjam buku ke perpustakaan, awalnya saya tidak terlalu memperhatikan buku-buku yang dipinjam. Tapi lama kelamaan saya merasa, buku-buku yang dipinjam Mosha itu bagus-bagus sekali! Salah satunya ya buku "Aku suka caramu" ini. Bukunya bercerita tentang Rano, seorang anak tuna netra yang mau pergi ke pesta ulang tahun temannya. Di jalan Rano bertemu dengan Wuri, yang sama-sama mau pergi ke pesta ulang tahun. Wuri mau membantu Rano untuk pergi ke pesta ulang tahun karena takut Rano tersesat, tapi Rano ternyata bisa pergi sendiri tanpa perlu bantuan, dengan caranya sendiri.
Wuri yang tadinya khawatir, lama-lama jadi paham bahwa Rano bisa menemukan jalan yang benar ke pesta ulang tahun, dengan caranya sendiri. Wuri selalu bilang: "Wah caramu bagus juga" atau "Wah, hebat juga caramu, Rano".
Di akhir cerita, Wuri pun paham dengan "cara" Rano dalam menavigasi tanpa bisa melihat, dan berkata: "Aku suka caramu, Rano!"
Sebelumnya juga Mosha pernah pinjam buku tentang Jojo dan Vava. Dua orang anak laki-laki yang bermain sepakbola bersama. Jojo tidak tau kalau Vava adalah seorang anak tuna wicara dan tuna rungu. Di akhir cerita, Jojo bilang kalau ia senang main bola dengan Vava, dan Vava mengajari Jojo bahasa isyarat agar mereka bisa berkomunikasi dengan lancar. Jojo pun dengan senang hati belajar.
Di dunia di mana banyak stigma negatif tentang orang-orang difabel, buku-buku di SMIPA sudah mengajarkan sejak dini untuk melihat difabilitas sebagai suatu hal yang "biasa saja". Tidak perlu dikasihani, apalagi dihindari. Saya pernah lihat di suatu tulisan lain entah di mana saya lupa
, bahwa orang-orang difabel tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh kesempatan yang setara. "We don't need your pity, we just need equal opportunity".
Semoga semakin banyak buku-buku bagus seperti ini yang bisa kita baca dan pinjam dari perpus SMIPA, dan semoga Mosha (dan juga tentunya papa mamanya) bisa belajar lebih banyak lagi dalam mengolah rasa, raga, dan pikirannya di SMIPA.
Terima kasih Christian sudah berbagi. Eh mestinya ini AES002 ya? 🙏🙂 Sekalian titip ganti Profile Picturenya dong biar saling kenal.
Terimakasih kak udh dibimbing kemarin..Ini yang pertama kak, yang kemarin masih draft..entah kenapa malah sudah terposting, yang kemarin belum jadi kak..haha..