AES 016 Seri Review Semesta: Sendal Jepit
maulrest
Tuesday August 2 2022, 3:04 PM
AES 016 Seri Review Semesta: Sendal Jepit

Aku adalah sendal sejuta umat, burung walet yang diubah ke dalam B. Inggris dijadikan merkku. Warnaku putih untuk bagian yang diinjak kaki manusia, dan warna-warna lainnya untuk tali dan bagian bawahku. Warna yang legendaris tentu warna biru dan hijau, memang sekarang sudah banyak warna lain namun belum mendapat label legendaris seperti dua warna sebelumnya.

Tidak aneh untuk disebut sendal sejuta umat, buktinya banyak sekali laporan kejadian sendal tertukar di masjid ataupun tempat umum lainnya di mana manusia harus melepaskan sendal. Banyak yang bilang diriku ini murah, namun pada kenyataannya banyak yang meradang ketika sendal para manusia ini tertukar atau hilang. Membuktikan aku berharga di hati mereka tanpa butuh pengakuan lisan ataupun label harga.

Untuk mengakali hilangnya sendal mereka, banyak manusia yang kreativitasnya muncul karenaku. Ada yang dengan sederhana menuliskan inisial nama mereka, sampai ada yang membuat ukiran karya seni yang dibentuk sedemikian rupa agar sendal mereka tidak tertukar. Aku tidak keberatan bila manusia memakaiku sampai rusak, putus, bahkan dipaksa berjalan dengan sambungan. Ini malah pertanda aku sebegitu berharganya sampai dipertahankan sampai lapisan karet penghabisan. Aku tidak banyak diapresiasi namun diriku sudah cukup puas karena aku tahu aku berharga tanpa harus diapresiasi.

***

Aku hanyalah sendal jempit yang tak pernah dipakai oleh pemilikku. Memang aku adalah bagian dari sendal legendaris burung walet di negaraku, namun di negara ini mereka hanya membeliku karena nama besar keluargaku. Awalnya aku ramai dibicarakan di negara ini karena ada seorang artis dan musisi yang memakaiku. Lalu hargaku pun melonjak jauh melampaui harga teman-temanku di negara asal.

Awalnya aku sangat senang bahwa aku bisa merintis karirku di tempat baru dan bisa bermanfaat dipakai oleh semua orang di negara ini. Namun nyatanya mereka membeliku hanya karena nama besar keluargaku. Aku dipakai hanya untuk koleksi dan tak digunakan sesuai fungsiku. Padahal aku sudah menantikan injakan para manusia dan juga perjalanan yang mereka lalui, membawaku ke banyak tempat di bumi ini.

Memang di sini aku dilabeli dengan harga yang fantastis, orang-orang memujiku sebagai sendal legendaris. Aku pun tak perlu banyak bergerak dan hanya berdiam santai saja sebagai barang koleksi. Namun aku kehilangan identitasku, eksistensiku seakan layu. Sungguh aku hanya ingin bisa bermanfaat, bahkan tanpa harus diapresiasi oleh manusia sekalipun aku masih bisa mengapresiasi diriku sendiri.


*Foto hanya sebagai ilustrasi karena penulis tidak mendapat izin menampilkan foto sendal burung walet