Tuntutan orang tua tentunya bermaksud baik untuk kebaikan anaknya. Tapiiiii belum tentu sesuai dengan cita cita si anak, apa yang anak bayangkan, inginkan, cita cita kan, seringkali luput dari pengamatan orang tuanya. Mak'dar'it (maka dari itu), saya mencoba terus menggali isi kepala dan hati si anak, melalui obroln panjang, diskusi mendalam, eksplorasi minat, bakat, dan kemampuan anak. Kalau pemikiran saya, anak harus punya hobi, apapun itu, selama bisa kita dukung, pastilah bermanfaat.
Pengalaman masa kecil hingga saya kuliah, dari sd yg tdnya rajin masuk 5 besar, sampai jadi ranking 2 dari bawah, tekanan semakin besar dari orang tua, terutama alm ayah yg mengharuskan saya masuk IPA lalu ambil kuliah bidang teknik, yang tentu saja akhirnya saya mengecewakan dia krn masuk IPS dan kuliah ekonomi manajemen, kabur ke Jakarta pula karena makin tidak dianggap di rumah krn satu satunya orang yang bukan orang teknik (adik berhasil masuk teknik kimia UNPAR). Akhirnya seluruh waktu saya habiskan membuktikan ke ortu bahwa jalan yg saya ambil bisa berhasil untuk hidup saya, alhasil dengan IPK abal abal dr Unika Atmajaya Jakarta, diusia 23 karir saya cukup baik di manajemen menengah, makinlah saya tidak pernah mudik karena mau kasih lihat bahwa saya akan melampaui pencapaian alm papa di usia yang jauh lebih muda darinya. Saking asiknya kerja sampai sampai saya hanya sempat bertemu alm papa di hari terakhirnya di dunia, itu pun hanya setengah hari sebelum akhirnya beliau tutup usia. Terlambat, menyesal, sedih, ah campur aduk rasanya. Akhirnya saya lepaskan karir di Jakarta pd tahun 2008 untuk menemani alm mama di Bandung, takut kehilangan kesempatan berbakti. Mungkin kalau dulu saya nurut sama alm papa, saya sudah jadi teknokrat dan hidup lebih baik dari sekarang ini, mungkiiiin..... Yang pasti akan minim pengalaman hidup karena tidak merasakan kerasnya hidup ngekos dengan uang pas pasan di Jakarta (dr tahun kedua kuliah terpaksa kukiah sambil kerja di sebuah bar untuk biaya sekolah dan hidup). Ada pengalaman yg saya inget sampe kapanpun, dibelakang kosan saya adalah jalan tikus yg terkenal di area Karet Sawah belakang Sudirman, saya berkawan baik dengan pak ogah tikungan yang biasanya nongrong di tikungan membantu mobil mobil yang lewat di jalan sempit untuk motong masuk Sudirman, kadang mereka kasih saya kesempatan untuk gantian markirin mobil yang berpapasan di tikungan sempit itu lalu membiarkan saya menyimpan uang yang saya dapat. Saya pernah dikasi uang 50rb olah Hotman Paris yang suka lewat disitu dengan Mercy sport nya kala itu. Dari mereka pula saya bisa tau warteg mana yang paling murah. Bayangkan, tahun 2000 bisa makan siang denga menum nasi setengah, bbrp macam kuah bumbu di guyur ke nasi, pakai tempe orek, sambel, minumnya air dari ceret yg gratisan, saya hanya perlu bayar 900 perak untuk satu piring menu itu, hahahaha rasanya enak dan mengenyangkan. Murah gila kan?!
Long story short, adik saya yang koleksi pialanya segudang dibandingkan dengan saya yang cuma punya 1 piala kala itu, ya jadi bulan bulanan terus oleh orang tua saya. Itu membuat saya kuat tapi tidak memberi saya kesempatan untuk mengeksplor apa minat saya yang sesungguhnya, waktu dihabiskan untuk pembuktian diri yang tidak ada habisnya. Hal ini yang saya jauhkan dari anak anak saya, labeling yang saya alami dulu, saya jauhkan dari anak anak saya, karena saya sudah rasakan, hanya akan merusak, lebih banyak negatifnya dibanding positifnya. Kan jadi kepanjangan kesana kemari nulisnya, maaf yah. Karakter anak bisa berbeda beda, pendekatan pasti berbeda, tapi komunikasi yang baik, intens, mendalam, pasti bisa menggali apa minatnya, isi pikirannya, hatinya, maunya, cita citanya, jadi kita ada bayangan apa yang harus kita lakukan untuk anak ini. Ketika mereka terbuka sepenuhnya tanpa ragu dan takut, apapun yang kita mau tau ttg anak ini pasti mereka ceritakan, tinggal arahkan pada pilihan pilihan yang baik, sisanya kawal dengan baik perkembangan mereka, tentunya dengan pemberian contoh yang baik, naaaah ini yang susaaah hahahahha udah ah kepanjangan. Terima kasih sudah mau membaca ocehanku kali ini, sampai ketemu di ocehan berikutnya. Salam