"Berapa nilai dirimu?" Ada seseorang yang seenaknya bertanya kepada saya.
Ini pertanyaan yang mudah tapi apakah semudah itu juga menjawabnya? Karena saya sedang tidak suka ngobrol yang dalam-dalam seperti itu, saya berusaha menghindar dan menjawab seenaknya," Very high, priceless!" Jawab saya sambil ngeloyor.
Sesudah itu baru saya diam termenung. Seumur hidup saya belum pernah memikirkan berapa nilai diri saya. Lalu saya jadi ingat obrolan dengan sesama rekan kerja ketika saya masih baru mulai bekerja di bagian facilities, bertahun-tahun yang lalu.
"Jo, you have a degree, you know a lot about computer and other stuff, why are you working like this?" Tanya salah seorang teman saya ketika kami sedang duduk beristirahat untuk makan siang.
Saya menjawab dengan jawaban klise yang paling saya suka, " I don't know, this is the least stressful job I have ever had in my life. Plus, job is the same everywhere, the people I work with make all the difference." Kata saya sambil lalu sambil tersenyum karena sudah menyebutkan kata-kata mutiara yang paling saya suka mengenai pekerjaan.
"Yes, but with your capabilities, you can make more money than what you make now." Katanya lagi.
Dalam hati ada benarnya juga yang dia katakan, tapi saat itu saya memang tidak butuh banyak, saya hanya butuh yang cukup saja. Apalagi itu merupakan pekerjaan saya yang pertama. Memang saat itu saya merasa seperti jagoan, walau ada boss saya, tapi jika ada masalah komputer atau program aplikasi tertentu, dia akan bertanya pada saya. Urusan listrik dan sebagainya saya juga lumayan jago karena seumur hidup saya berkecimpung dengan itu bersama ayah saya yang memang pekerjaannya soal listrik. Beberapa saat kemudian memang saya ditawari untuk posisi yang lebih baik. Saat itu saya tidak punya ambisi, namanya juga hanya menetap sementara, yang penting saya punya penghasilan cukup dan pekerjaan tidak membuat stress. Pengalaman dulu saya punya pekerjaan sangat baik, penghasilan sangat tinggi tapi stress tidak habis-habis bahkan menggerogoti diri saya. Tidak sepadan!
Pertanyaan tentang nilai diri saya terus terpatri dalam pikiran. Saya tidak bisa menjawabnya. Ukuran apa yang bisa digunakan untuk menentukan nilai seseorang? Kita akan lebih mudah menilai orang lain daripada diri sendiri. Jujur saja, begitu bukan? Ketika kita melihat seseorang dengan penghasilan tertentu dan jenis pekerjaan serta prestasi yang dia lakukan, kita bisa menilai bahwa orang itu sebetulnya tidak berhak memperoleh penghasilan seperti itu. Atau sebaliknya kita merasa prihatin ketika melihat seseorang yang sangat berdedikasi, mempunyai tanggung jawab tinggi, serta kapabilitas yang baik, tapi memperoleh apresiasi rendah. Jauh lebih mudah menilai orang lain, tapi apakah kita mampu menilai diri sendiri? Tidak sesederhana itu.
Membingungkan sekali bukan? Kadangkala kita bekerja keras dan kurang mendapat apresiasi. Kita merasa sudah memberikan lebih dari yang seharusnya, tapi atasan atau pihak perusahaan tidak melihat itu sebagai sesuatu yang bernilai. Kadang kita begitu dihormati, dijunjung tinggi dan menjadi orang yang dianggap mumpuni, tapi kemudian mendapat apresiasi seadanya. Itu juga berarti kita tidak memperoleh sesuatu yang setimpal dengan kemampuan. Saya tidak pernah berpikir secara khusus tentang value diri saya. Sejauh ini segala sesuatu saya nilai setimpal jika memperoleh kepuasan yang cukup dan apresiasi yang sesuai dengan kebutuhan. Tapi pertanyaannya kembali adalah apakah itu sudah optimal? Lalu mulailah kita membandingkan dengan jenis-jenis pekerjaan yang lain. Contohnya pekerjaan saya menuntut minimal gelar sarjana, tapi jika apresiasi yang diterima setara dengan mereka yang hanya mengenyam pendidikan seadanya dan tanpa skill, tentunya apresiasi yang diberikan pada saya ada ketimpangan. Nah mungkin itu yang paling mudah dilakukan.
Kadangkala faktor kebetulan juga menjadi sesuatu yang membedakan. Kita sering terjebak dalam zona nyaman. Karena merasa senang dengan lingkungan pekerjaan walau hasilnya tidak optimal, kita masih bisa berdamai dengan hal itu. Lalu tiba-tiba ada pintu lain terbuka yang sesuai dengan kemampuan kita, tapi seringkali kita enggan untuk berubah karena rasa nyaman itu tadi. Saya sering begitu, tapi untungnya saya menyukai tantangan jadi ini menjadi salah satu penentu keberhasilan.
Saya juga pernah berada dalam situasi dimana apresiasi yang saya terima tidak sepadan. Kalau kita menyadari itu, mungkin akan lebih mudah melihat bahwa nilai diri kita sesungguhnya tidak sesuai dengan tempat dimana kita berada. Nah kalau sudah mampu melihat itu, kita akan lebih mudah berupaya menuju suatu perubahan.
Ada sebuah cerita. Konon ada seorang ayah yang memiliki mobil tua, lalu menyuruh anaknya pergi ke pusat kota untuk menjajakan mobilnya. "Jangan dijual, tapi coba perhatikan berapa yang ditawarkan oleh orang-orang di pusat kota." Kata ayahnya itu.
Sorenya anaknya menghadap ayahnya dan berkata bahwa mobil tua itu hanya dihargai 5 ribu dollar. Lalu ayahnya menyuruh ke tempat pegadaian. "Coba kamu tanyakan di pegadaian, berapa yang akan mereka berikan jika kita menggadaikan mobil ini." Kata ayahnya lagi.
Besoknya anak itu kembali menghadap ayahnya dan mengatakan bahwa mobil tua itu hanya dihargai 10 ribu dollar. Ayahnya tersenyum dan berkata,"Besok kamu coba pergi ke klab mobil antik. Coba tanyakan berapa mereka akan menghargai mobil itu."
Besoknya anak itu kembali lagi menghadap ayahnya. "Yah.. yah.. coba tebak, berapa mereka menghargai mobil tua kita? 150 ribu Dollar!" Kata anaknya dengan sangat gembira.
Sang ayah berkata," The right place values you the right way. If you are not valued, do not be angry, it means you are in the wrong place. Those who know your value are those who appreciate you…Never stay in a place where no one sees your value.”
Nah ini sebuah nasihat yang sangat baik!
Foto credit: indianschoolofimage.com