Mungkin teman-teman pernah membaca dalam bahasa Inggris sebuah pribahasa bagaimana kita beradaptasi ketika menghadapi situasi yang tidak diharapkan dalam hidup sehari-hari: If life gives you lemon, maka lemonade. Lemon di sini adalah istilah yang biasa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang tidak baik. Saya berikan contoh percakapan dibawah ini:
A: How's your new laptop? Do you like it?
B: Nope. I got a lemon! I returned it. I will get a different one.
Saya belum berhasil menemukan peribahasa dalam Bahasa Indonesia yang memiliki arti yang mirip dengan yang saya ungkapkan di atas. Pada dasarnya peribahasa tersebut berusaha menggambarkan situasi ketika kita menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, tidak menguntungkan, maka usahakan mengubah situasi itu menjadi sesuatu yang bisa kita nikmati. Improf! (itu bahasa kekinian? hahaha) Maksudnya kita menyesuaikan diri, beradaptasi dengan melakukan improvisasi. Begitu.
Saya seringkali menulis hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan. Bukan berarti saya sudah jago, sama sekali tidak. Justru tulisan-tulisan itu sebagai bentuk refleksi saya dan seringkali dijadikan pengingat buat diri sendiri. Seperti misalnya kemarin saya menulis tentang set back and reflect. Itu merupakan pengingat pada diri saya sendiri bahwa saya seringkali begitu judgmental dan bereaksi secara emosional. Dengan menulis itu, saya sengaja mengingatkan pada diri sendiri bahwa lain kali kalau saya menghadapi situasi seperti itu, saya sebaiknya mengambil napas dalam-dalam, jeda sejenak dan berusaha se mindful mungkin sebelum bereaksi. Jeda semacam itu sangat baik sehingga kita dapat bertindak dengan lebih baik.
Dulu saya tukang ngamuk jika berada di jalan raya, di Bandung. Saya bahkan pernah menulis, baru 3 menit keluar dari rumah sudah beruap ubun-ubun saya karena harus menghadapi banyak orang yang seenaknya di jalan. Sekarang saya mulai banyak memikirkan hal-hal semacam itu sebagai upaya menyiapkan diri ketika saya akan kembali menghadapi situasi semacam itu dalam keseharian saya. Selama hampir 7 tahun terakhir saya "istirahat". Saya tidak menghadapi kemacetan, pengemudi sangat santun di sini dan sebagainya. Nah tentunya saya tidak mau keenakan, saya harus bisa mempersiapkan diri sehingga nanti saya bisa menyesuaikan diri lagi. Biar tidak ngamuk-ngamuk lagi maksudnya. Capek khan? Hahahaha
Ini merupakan bagian dari latihan saya untuk mengolah stress. Katanya dengan mengenali tekanan atau stress yang dihadapi, kita bisa mengolahnya dengan baik sehingga dalam bertindak tidak selalu emosional melainkan dengan kesdaran penuh dan mindful.
Bagaiman satu orang bisa mengubah situasi di sekitar kita? Sepertinya hampir tidak mungkin apalagi jika ruang lingkupnya sangat luas, mialnya saja lalulintas di jalan. Kita tidak bisa berharap semua orang lain dapat bertingkah laku sesuai dengan keinginan kita, bukan? Alangkah idealnya jika semua orang taat lalu lintas, mengemudi dengan baik tanpa berebut atau serabutan, serta bertanggung jawab tidak membahayakan orang lain. Nah itu idealnya, tapi pada kenyataan tidak begitu. Bayangkan berapa juta masyarakat di Bandung yang menggunakan fasilitas jalan raya, jika kita menemukan satu, dua atau puluhan orang yang serabutan, itu hanya sebagian kecil dibandingkan dengan jutaan orang yang harus berangkat ke tempat kerja pada saat yang bersamaan. Nah mungkin daripada berusaha mengubah orang lain yang hampir mustahil, adalah lebih baik jika cara pandang kita yang diubah. Ubahlah yang mungkin diubah, bukan mencari-cari yang tidak mungkin. Itu sih cari gara-gara sendiri dan akhirnya frustrasi karena harapan kita pasti akan gagal. Choose your battle. Nah ini yang harus selalu saya ingat.
Ada kalanya kita mengalami kebocoran, maksudnya kita sudah berusaha tapi ada saja saat kita lengah sehingga kesadaran kita terganggu, awareness kita ter-compromised. Nah sampai di sini saya harus melatih untuk mengenali saat ada pikiran atau perasaan negatif. Jika kita mengenali maka kita bisa mengantisipasi tindakan kita. Itu yang harus saya latih. Begitu masuk jalan raya dan diserobot orang saya harus mulai sadar ketika mulai timbul rasa jengkel. Nah di sini saya harus melakukan sesuatu. Kejengkelan itu jika tidak diolah maka jadinya pasti nanti ngamuk-ngamuk, seperti saya dulu. Yang rugi siapa? Tentu saja saya sendiri, sebab orang yang nyerobotnya entah sudah di mana sementara saya masih sibuk ngomel-ngomel, hari saya dimulai dengan sebuah kesalahan dan akan mempengaruhi keadaan selanjutnya. I am in control of my own happiness dan it is not stirred by other people, especially the bad one!
Yang terakhir yang sedang saya latih adalah memfokuskan diri pada suatu yang menyenangkan. Nah ini akan terus saya upayakan. Ketika sedang di tengah kemacetan, daripada ngomel-ngomel dan mengutuki kondisi di jalan lalu memupuk perasaan negatif, mungkin akan lebih baik jika saya putar musik kencang-kencang dan bernyanyi. Mungkin lebih seru begitu daripada misuh-misuh lebih baik ikutan nyanyi bersama Meghan Trainor:
I could have my Gucci on
I could wear my Louis Vuitton
But even with nothin' on
Bet I made you look (I made you look)
Ya khan? Ya khan? hahahahaha...
Foto credit: thebicyclestory.com