Proses evaluasi dan perencanaan pasca RTS-S2 TP17 di jenjang SMP telah selesai dilakukan tadi siang. Di ujung rangkaian kegiatan setiap Kakak kelas akan mempresentasikan hasil evaluasi tema sebelumnya dan perencanaan tema selanjutnya untuk mendapat tanggapan dan masukan dari Kakak kelas lainnya. Terutama juga mendapat koreksi dan arahan dari KJ. Sementara itu di waktu yang sama para murid diarahkan pada proses pembelajaran secara mandiri. Melalui arahan singkat dan dampingan yang longgar dari Kakak kelas membuat mereka sedari pagi telah minim berinteraksi dengan Kakak kelasnya. Momen ini nampak lumrah dihadapi oleh Kakak kelas dan murid saat fase proses evaluasi dan perencanaan alih tema di jenjang SMP khususnya.
Memang kemandirian merupakan aspek yang hendak dibangun pada diri murid saat berproses di jenjang SMP. Komponennya pun disesuaikan dengan periode usia perkembangan kedirian anak sebagai remaja, yakni kemandirian mengelola kebutuhan diri, kemandirian mengelola waktu, kemandirian mengembangkan diri. Pada proses pemunculan ketiga komponen tersebut pun saling terkait dan melengkapi satu dengan yang lainnya.
Bukanlah hal yang instan atau tiba-tiba sebuah kualitas karakter yang ideal seperti kemandirian ini dapat muncul pada diri murid. Mereka memiliki prosesnya masing-masing dan antara satu murid dengan murid lainnya pun mempunyai tantangannya sendiri. Namun demikian bukan berarti para murid selalu berkendala dalam membangun kemandirian pada diri mereka. Setidaknya hal ini yang saya amati tadi siang saat sesi tutup kelas, selepas presentasi evaluasi dan perencanaan alih tema.
Ketika sesi tutup kelas pada proses pembelajaran daring, seperti biasa kami dalam kelompok kelas akan berkumpul dalam Google Meet. Kakak akan mengawali jalannya sesi tutup kelas guna memastikan proses guliran pembelajaran kelas harian berlangsung sesuai agenda. Komite kelas yang terdiri dari dua murid akan lebih banyak menjelaskan proses pembelajaran di hari tersebut. Demikian pula pada siang tadi, mereka menjelaskan bahwa kondisi kelas selama proses pembelajaran cenderung kondusif. Salah satu komite kelas bahkan menyebutkan teman-teman kelompoknya cukup tertib. Seperti tidak percaya saya pun mengonfirmasi situasi tertib tersebut pada murid lain yang juga menjadi komite kelas. Ia pun menguatkan bahwa betul secara umum teman-temannya yang lain dapat bersikap tertib saat melibatkan diri pada proses pembelajaran yang minim dampingan dari Kakak.
Kemampuan mereka dapat tertib terlibat pada proses pembelajaran masih saja saya ragukan. Sehingga pertanyaan penggali pun saya ajukan pada salah satu komite kelas, "kira-kira hal apa yang menyebabkan proses pembelajaran di hari ini dapat tertib?" Nampak sedikit canggung bercampur bangga ia pun menjawab bahwa “mungkin kami telah besar”. Salah satu frasa singkat yang mengandung makna tersendiri. “Kami telah besar” bisa jadi mewakili arti bahwa kami telah mandiri. Bila hal itu benar maka nampak suatu harapan yang mulai mewujud. Seraya membuktikan bahwa pada titik tertentu mereka pun mampu memunculkan versi lain dari dirinya. Versi diri yang lebih memberdayakan dan versi diri yang lebih berkembang.
Satu pencapaian merupakan serangkaian daya dan upaya yang selalu diusahakan bahkan melibatkan variabel waktu yang cukup relatif. Seperti halnya kemampuan untuk bisa tertib pada diri murid bukanlah muncul dari rangkaian proses singkat yang mereka lalui. Sikap tertib yang mereka munculkan bukan juga bagian dari kekakuan namun bagian dari struktur yang secara bertahap sedang mereka bangun dan kembangkan.
Saya selalu kagum pada kakak-kakak Smipa yang selalu berusaha keras dalam merencanakan program belajar seperti ini. membuat lesson plan untuk satu bidang study saja sudah sangat sulit, tak terbayangkan menyiapkan rencana belajar yang holistik. Salut!
SELAMAT!!! Buat esai pertamanya kak Dwi. Langkah pertama memang harus selalu diapresiasi karena ini hambatan pertama yang berhasil dilalui. Rekan-rekan penulis AES pasti menyambut gembira anggota barunya. Nuhun pisan kak Dwi 🙏🏼😊👍🏼