AES #14 Now And Then
joefelus
Friday June 4 2021, 6:09 AM
AES #14 Now And Then

Karena ga ada ide yang bermutu, ya lagi lagi cerita santai saja! Pokoknya nulis ya khan?

Jaman sekarang itu hampir semuanya serba mudah diperoleh. Teknologi memungkinkan masyarakat berbagi informasi dengan mudah dan cepat. Jarak kadang kala bukan lagi menjadi halangan.

Saya berada di rantau dalam 2 kurun waktu yang jauh berbeda. Pertama kali ketika internet masih harus menggunakan dial up. Telepon rumah langsung tidak bisa digunakan jika sambungannya digunakan untuk internet, apalagi waktu itu belum banyak cell phone beredar di masyarakat, kalaupun ada mahal sekali biayanya. Saya di rantau harus pandai-pandai hunting kartu telepon, dari 25 sen per menit sampai akhirnya saya bisa dapat kartu yang di bawah 10 sen, tapi ada surcharge 1 dollar per sekali telepon. Repotnya kadang koneksinya buruk, sehingga harus hang up, begitu mencoba sekali lagi, kena lagi $1. Itu dulu! sekarang pake WA bisa video call tanpa bayar!!! nikmat! Dulu, habis $20 saja belum puas rasanya ngobrol.

Jaman itu kalau kangen makanan kampung halaman juga repot. Mau buat, bahan-bahan sulit diperoleh. Sekarang karena semua orang sudah pakai internet, maka kesempatan ini dipakai untuk usaha! Mau martabak manis tinggal buka internet, pasti ada yang jual, walaupun di vacuum pack, dan butuh beberapa hari untuk tiba pesanannya, tapi ya lumayan lah. Mau pisang molen Kartika sari, asal berani mengeluarkan kocek $20-an, akan dikirim walau rasanya agak berbeda karena tentu saja sudah berapa lama sejak di kirim dari Bandung ke penjual di sini lalu di vacuum pack dan di kirim ke pembeli. Karena standar saya memang tinggi kalau soal makanan, ya kecewa juga karena sudah tidak fresh lagi. Apalagi saya asal Bandung, tau bagaimana rasanya pisang molen Kartika Sari.

Saya penggemar jengkol dan petai. Percaya atau tidak, entah bagaimana caranya, ada saja yang berhasil menyelundupkan benda-benda ajaib ini. Dan mau tau harganya? 1 kilonya bisa lebih dari 500 ribu rupiah belum ongkos kirim!!!! Anehnya benda-benda ajaib ini laris manis karena banyak penggemarnya. Saya? hahaha... beli matangnya saja, itu juga sekali lagi kecewa karena saya tau rasa jengkol yang segar itu bagaimana! Mau masak sendiri agak ragu-ragu karena takut apartemen jadi bau jengkol!!!!

Sekali lagi sekarang sangat mudah memperoleh apapun. Ibu-ibu atau bapak-bapak yang di rantau banyak yang punya kerja sambilan, dari jual barang baku hingga masakan siap santap secara online. Saya rajin pesan gudeg dari New Jersey karena saya malas buat sendiri. Di Freezer selalu ada yang namanya gudeg karena Istri penggemar luar biasa. Harganya? hehehe.. mahal! $20. Isinya gudeg nangka sekitar 5-6 sendok makan, sambal kerecek sekitar 10 potong, 2 telur, 2 tahu dan 2 potong ayam. Banyak orang Indonesia yang punya bisnis sampingan sebagai penjual jasa barang-barang Indonesia dari pakaian, makanan, bahan baku hingga alat-alat masak. Mau beli cetakan martabak, coet dan ulekan, hingga sapu lidi, pasti ada yang jual! Mau tolak angin, indomie hingga teh kotak, siap dikirim. Tapi ya harus bayar dulu hahahaha...

Saya barusan kedatangan teman dari Jakarta. Dia tanya mau dioleh-olehi apa. Saya jawab: asam kandis! kenapa? karena susah cari di sini walaupun kadang suka ada yang ditawarkan online. Saya sering butuh asam kandis karena saya suka masak masakan padang. Gulai dan rendang tanpa asam kandis jadi kurang sedap dan tidak otentik lagi. Bahagia sekali ketika teman saya itu bongkar koper dan saya dibelikan asam kandis sekantong besar. Mau saya ganti, dia tidak mau karena cuma menghabiskan 10 ribu rupiah, tidak sampai 1 dollar hahaha..

Dulu ketika pertama kali di rantau, saya begitu sengsara karena sangat sulit membuat masakan kampung halaman yang otentik. semuanya dikarang sebisa mungkin dan saya harus menerima apa adanya. Ketika ada kesempatan mudik untuk berlibur, yang pertama saya datangi adalah warung nasi padang, dan tidak kira-kira karena saya kalap, saya borong sampai habis beberapa ratus ribu rupiah! Padahal waktu itu nasi goreng keliling cuma beberapa ribu rupiah saja! Bayangkan betapa kalapnya saya melihat nasi padang. Sekarang? semua bahan ada apalagi saya punya persediaan asam kandis! Daun kunyit saya bisa beli di internet! Bahan-bahan lainnya? Banyaaaaak! Jadi pendek kata, walau jauh di rantau, lidah dan perut masih tetap dekat di kampung! hehehe***