Hidup Wi-Fi ilegal!
Dalam perjalanan SMP Smipa, terutama jika mengarungi persawahan sebuah kampung adat; tentunya sudah merupakan hukum untuk tidak membawa telepon genggam yang fungsional. (Kecuali kakak, tentunya.) Hal ini dilakukan agar partisipan dapat lebih berfokus mengalami petualangan yang ada di hadapan mereka sekarang.
Nah, perjalanan kali ini tak terkecuali. Masalahnya, selaku pelajar kami juga punya kewajiban untuk membuat karya tulis, yang membutuhkan dokumentasi. Dan sayangnya tak semua orang memiliki kamera siap pakai. Alhasil, kakak memberi jalan tengah dengan memberikan kami izin menggunakan telepon genggam- dengan sim card dicabut terlebih dahulu. Tak ada internet tapi ada kamera. Sungguh sebuah kompromi yang sempurna. Kelihatannya takkan ada masalah, ya kan? Ya kan?
Kalau kalian kenal Wowei sedikit saja, kalian tahu jawabannya.
Sebelum kita lanjut; kalau ada kakak yang baca ini, anggap ini pengakuan dosa dari kami-kami yang memang bandel dari sononya. Dan kalau ada temanku yang baca ini- yah, gimana ya- bukannya saya ga solid, tapi kan saya butuh bahan tulisan. Ga marah, kan? Oke, ayo lanjut.
Alkisah, di Babakan Lama, rumor beredar tentang sebuah sumber internet *rahasia*. Hanya petualang yang paling berani dan berdompet yang bisa menguak selabut misteri dan menemukan harta karun tersebut. Hm… menarik.
Ternyata oh ternyata, ada sebuah warung yang menyediakan wi-fi umum di Babakan Lama. Wi-fi itu bisa diakses dengan menggunakan voucher yang dijual di warung tersebut. Tentu saja, seperti laron mengerubungi lentera, kami-kami anak kota yang tak berdaya tanpa internet segera membelanjakan uang kami di situ agar bisa- buka Tik-tok n’ stuff.
Ck, ck, ck. Generasi kami memang menyedihkan, benar adanya. Kecewa berat. Dulu waktu kakek kecil, ke sekolah harus berlayar lewatin tujuh samudra-
Dah; ga usah sok sepuh! Sendirinya juga beli wi-fi, kan? Ngapain komentar2? Hipokrit lu!
Eits, tunggu dulu- aku dengar kicauan sumbang kalian. Tapi saya kan tidak serendah itu. Gini-gini juga aku tetap ikut peraturan, ya.
Jadi, aku tak ikut beli wi-fi (Tepuk-tangan). Oke, aku akui, ada alasan di baliknya: pertama, saya gaptek- tak terlalu paham sistem begituan. Ya, simpel sekali sebetulnya, tapi (alasan kedua: saya pemalas. Harus siapin duit sama hp, harus jalan ke warung entah di mana, harus ngomong dan interaksi sama manusia entah-siapa cuma biar bisa ngintip Insta - dih, ribet. Aku memilih bahagia apa-adanya kalau begitu.
Walaupun begitu, kebosanan juga mulai perlahan-lahan merayap datang. Seperti yang sudah kubilang tadi, warga di sini siklus hidupnya lambat sekali. Dengan kata lain, mereka santai sekali melewati hari, jadi memang tak banyak kegiatan yang tersedia. Nangkep ayam juga bosan kalau terus-terusan. Main sama temen? Males. Walaupun kadang-kadang aku ikut nimbrung- kalau lagi mau- biasanya aku jarang betah di sana; ribut. Kalau sudah luntang-lantung begitu, biasanya aku ke masjid kampung- enak di sana, tenang, jarang ada orang lain; dan karpetnya empuk. Masalahnya, orang bangsa mana yang habisin waktu melamun berjam-jam? Gila, kurang kerjaan. Kalau sudah begitu, aku pergi dan keliling kampung lagi, mengulang siklus yang sama.
Ya, kuakui- aku sebetulnya juga memendam godaan wi-fi itu. Mungkin buat scroll apalah, buat buka Gdocs yang terabaikan gara-gara ketiadaan sim card, apapun. Tapi tetap saja, malas buat belinya. Jadi tetap tidak jadi.
Nah, melihat adanya sistem wi-fi yang tidak bisa kumanfaatkan dan menyalahi peraturan kakak tersebut; sebagai murid yang baik, terbetik gagasan buat melaporkan wi-fi ilegal ini ke kakak.
“Terserah, sih.” Ujar salah satu temanku ketika aku mengutarakan gagasan nan mulia itu kepadanya. Temanku, sama sepertiku, juga gabut tapi malas ikut ke teman-teman lain. Tapi, tidak sepertiku, dia sudah mempersenjatai telepon genggamnya dengan video hasil download-an dan gim video offline. Oh, dan dia juga sudah beli wifi ilegal itu. “Anda kurang solid saja kalau begitu.”
Kalau dipikir-pikir, malas juga laporin ke kakak. Harus mencari mereka dulu di tengah liak-liuk Babakan Lama, jalan ke sana, bicara. Capek. Gagasan itu mulai terkubur.
Setelah bolak-balik beberapa kali, juga berkali-kali mengulang gagasan soal lapor kakak yang tak kunjung jelasnya, teman saya turun tangan- antara iba atau apa.
“Ya sudah, nih.” Ujar teman saya, membagikan hotspot. “Males kok ngerepotin orang lain.”
Ah, sebuah jalan tengah! Betapa indahnya berbagi.
Haha. Selalu seru baca tulisan Farzan. Terima kasih banyak. 🙏🏼😊