Kalau melihat di sekitar lingkungan, (di luar Smipa alhamdulillah 😂) atau ingat-ingat jaman kecil dulu, anak kerap kali dianggap tidak berdaya dan tidak tahu apa-apa. Anak “nakal” sedikit, orangtua langsung bereaksi memarahi, merasa perlu mengajari anak tersebut, atau bahkan memberikan label.
Padahal kadang bukan maksud anak juga untuk “nakal”. Dulu waktu kecil saya pernah membaca buku tentang Thomas Alfa Edison. Katanya dulu beliau waktu kecil pernah tidak sengaja membakar lumbung gandum di rumahnya. Hal itu ia lakukan hanya karena penasaran apa jadinya jika gandum tersebut terkena api. Kalau dilihat dari kacamata orang dewasa saja, tanpa bertanya kepada anaknya, beliau akan dianggap anak nakal. Tapi kalau orang dewasa tersebut mengetahui maksudnya, Edison kecil sebetulnya hanyalah seorang ilmuwan cilik yang ingin membuktikan teori yang ia miliki.
Beberapa minggu lalu, kami tim KBTK menonton film “The Beginning of Life” bersama-sama. Di awal film diceritakan tentang proses melahirkan, bagaimana proses keluar dari rahim juga merupakan perjuangan pertama seorang anak, bagaimana kemudian ia berjuang untuk membalikkan badan, merangkak, dan berjalan. Banyak sekali hal yang ia pelajari dalam awal-awal tahun hidupnya. Berbicara, mengenali emosi, memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mereka, dan juga, sama seperti Edison, bereksperimen dengan penemuan mereka.
Sayangnya di tahap tersebut, tidak banyak anak yang mendapat ruang yang cukup untuk belajar. Banyak sekali faktor penyebabnya, tapi kalau dilihat-lihat, dasarnya hampir sama. Orang dewasa cenderung melihat anak sebagai kertas putih, tidak berdaya, dan masih harus selalu orang dewasa yang mengisi kertas tersebut. Padahal sangat mungkin justru anak lah yang memberikan sesuatu kepada orang dewasa.
Bayi yang belum bisa berjalan, menggerakkan badannya sekuat tenaga, hanya untuk bisa menggapai benda yang menarik perhatiannya. Anak yang baru diberi sendok tidak hanya menggunakan sendok untuk makan tetapi untuk stick drum. (Mungkin ini yang ada di kepalanya,”Apa ini? Sepertinya sesuatu yang bisa di”ketrok-ketrok”. Eh, kalau di pukul ke meja ada bunyinya. Hahahah aku senaaaang.”) Hingga anak yang dapat langsung bermain kembali dengan temannya setelah berkelahi.
Banyak sekali yang orang dewasa bisa pelajari dari seorang anak. Dengan memposisikan diri, tidak hanya dengan kacamata dewasa, namun juga sudut pandang anak, berinteraksi dengan anak bisa jadi suatu proses yang luar biasa menyenangkan.
PS: Beneran harus nonton filmnya. Recommended. Luar biasa menyentuh hati. 👍
Halo Kak Sizi, tulisan ini telah terpilih untuk dibukukan, mohon izin tulisan ini diterbitkan di buku 5 Atomic Essay Smipa Pecah Telor [AES001], semoga berkenan ya. Terima kasih. 🙏🏻