Beberapa hari ini di sebagian daratan Amerika Utara sedang heboh karena efek dari solar storm yang sangat kuat sehingga sudah 3 malam terakhir banyak sekali orang-orang yang menampilkan gambar Northern light yang indah sekali.
Tentu saja saya sangat iri sebab hingga sekarang belum pernah memperoleh kesempatan untuk menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini. Banyak orang yang sengaja pergi ke ujung dunia hanya sekedar untuk melihat ini. Nah, sekarang ada di depan mata, kenapa saya tidak memanfaatkan kesempatan ini?
Sejak hari Jumat, Nina sudah ribut dambil menunjukkan foto-foto yang diambil oleh teman-temannya.
"We should go." Kata Nina
"I agree. Let's go." Jawab saya.
Tapi Nina dan saya sudah terlalu lelah. Nina malah kakinya kesakitan sebab hari Jumat dia banyak berjalan kaki di acara wisuda. Kami akhirnya batal untuk pergi padahal jika sedikit dipaksakan kita bisa naik ke Horsetooth reservoir dan melihat dari situ.
Benar saja, hari Sabtu Nina menunjukkan lagi foto-foto yang dia lihat, sangat dekat dari tempat tinggal kami, tidak lebih dari 15 menit berkendaraan ke atas bukit Horsetooth dan bisa menyaksikan keindahan luar biasa itu. Lagi lagi kami kelelahan, dan hari sudah terlalu malam. Memang kenyamanan di dalam rumah tidak dapat tergantikan dengan hal lain, kalau sudah duduk manis dan santai di rumah, untuk keluar lagi, apalagi menjelang tengah malam, kita menjadi begitu malas. Daripada harus kembai berganti pakaian dan berjalan keluar rumah menembus udara dingin, lebih baik beristirahat. Itu yang akhirnya kami lakukan.Lagi-lagi esok harinya ramai dengan berbagai foto Aurora Borealis. Lagi-lagi kami menyesal karena tidak menyempatkan diri keluar rumah.
Hari Minggu sore kami pergi keluar kota karena ada salah seorang sahabat kami yang ditahbiskan menjadi seorang imam. Sahabat kami kalau tidak salah dulu adalah seorang mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di kampus sini, lalu mendapat panggilan dan begitu lulus sarjana dia masuk seminari. Hari Sabtu kemarin sesudah selama sekitar 7 tahun belajar dan hidup di seminari, akhirnya ditahbiskan menjadi seorang imam muda. Misa pertama diadakan hari Minggu sore. Kami memutuskan untuk menginkuti misa itu.
Ada lebih dari 25 imam yang ikut berkonselebrasi di misa itu. Imam-imam itu berdatangan dari berbagai penjuru dunia, ada yang dari Mesir, Italia, berbagai states di Amerika bahkan ada yang dari Indonesia. Bayangkan betapa syahdu dan indahnya misa ini. Saya tidak mempu menahan air mata apalagi ketika dengan terbata-bata imam muda sahabat kami ini menyampaikan ungkapan syukur dan rasa terimakasihnya kepada semua orang yang sudah menjadi bagian dari perjalanan imannya. Luar biasa! Belum pernah saya menghadiri misa seindah ini.
Kami tiba di rumah sudah larut malam. Lalu timbul ide untuk berburu Aurora Borealis ini, mumpung belum mulai merasa nyaman berada di rumah. Akhirnya sekitar pukul 11 malam kami memutuskan untuk pergi. Sayangnya patang tadi turun hujan, jadi masih ada tersisa awan di langit. Kami masih mempunyai harapan dan pergi ke utara melewati batas state of Colorado menuju Wyoming. Ada sebuah kota kecil di sana yang beberapa kali sudah kami kunjungi hanya sekedar menikmati sushi di sebuah restoran milik seorang kenalan kami. Nah kali ini tujuan kami bukan makan tapi berburu fenomena alam.
Langit mulai cerah, awan menghilang berganti dengan bulan sabit dan ribuan bintang-bintang. Kami menyusuri interstate 25 yang sebetulnya menjulur dari Wyoming hingga New Mexico sejauh 1700 km. Dari tempat kami ke Wyoming tidak terlalu jauh, hanya sekitar 45 menit perjalanan. Nah di malam hari perjalanan harus sangat hati-hati karena interstate ini melalui padang dan pertanian yang sangat luas dan tidak memiliki penerangan. Ini lokasi yang sangat cocok sekali jika ingin menyaksikan hujan meteor atau fenomena alam lainnya di langit karena hampir tidak ada polusi cahaya sama sekali.
Kota Chayenne sudah kami lewati. Mungkin ini kali ke-2 kami melewati kota ini terus kesebelah utara. Dulu saya mengemudi melewati kota ini ketika akan ke Mount Rushmore, bukit yang dipahat 4 wajah presiden Amerika di South Dakota. Itu beberapa tahun yang lalu. Nah kali ini di malam hari dengan tujuan berburu Aurora Borealis.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, akhirnya kami keluar dari interstate dan berhenti di sebuah padang yang gelap entah di mana, jauh dari keramaian dan tidak ada suara apapun. Sepi dan hitam gelap pekat. Sunroof kendaraan dibuka, jendela dibuka agar tidak menutupi pandangan. Sekali-kali ada bintang jatuh.. indah sekali tapi tidak ada sama sekali tanda-tanda Northern Light yang kami damba-dambakan. Hanya kegelapan dan cahaya bulan dan bintang di langit.
Kami menunggu beberapa lama lewat tengah malam.
"I have to work tomorrow morning!" Kata Kano
"Yeah, me too." Kata saya
"I have training too at 9." Kata Nina
Dengan kecewa akhirnya kami pulang. Masih harus menempuh perjalanan panjang ke rumah, setidak-tidak hampir 1 jam. Artinya kami baru akan tiba di rumah sekitar pukul 1 pagi. Itu masih bisa dihadapi, tapi karena ditambah kekecewaan, suasana menjadi tidak seru lagi. Kano berdiam diri di belakang, mungkin bahkan sempat terlelap. Saya harus berusaha konsentrasi mengemudi disamping juga menjaga agar mata saya tertap terbuka dan tidak tertidur. Sangat berbahaya jika mengantuk sambil mengemudi dengan kecepatan sangat tinggi. Saya sudah ingin segera tiba di rumah dan beristirahat karena harus bangun pukul 5 pagi untuk menyiapkan obat-obatan Nina disamping juga berangkat kerja lebih pagi dari Nina maupun Kano.
"At least we tried." Kata saya. Ada sedikit rasa sesal kenapa 2 hari sebelumnya kami tidak berusaha lebih keras untuk mencoba mencari dan menundanya hingga hari ini. Akhirnya kami tidak melihat apa-apa. Mungkin belum jodoh!
Foto credit: 9news.com