"Percuma, ga bisa nulis." Kata saya.
"Kenapa?" Tanya Nina
"Orang yg di depan gua gerak terus jadi laptopnya kedorong-dorong" kata saya sambil mematikan laptop, melipatnya lalu berdiri membuka kompartmen di atas kepala saya dan memasukkan laptop itu kedalam ransel. Saya padahal ingin sekali menulis sebab menurut saya ini keren sekali. Bayangkan saja saya menulis entah berapa ribu meter di atas Kopenhagen! Kapan lagi bisa begitu? Hahaha..
Baiklah, memang hampir 30 jam terakhir ini saya melakukan sesuatu yang seru dan belum pernah dilakukan sebelumnya. Ini sekedar seru-seruan saja ya, tidak ada maksud apa-apa, sekaligus juga ingin mencatatkan bahwa ini semua pernah saya lakukan dalam hidup.
Yang pertama, saya pipis di atas Columbo! Hahahaha... Ya tidak memipisi Columbo tentunya tapi memang secara lahiriah saya pipis dan secara lahiriah juga saya sedang berada di atas Columbo. Ketika saya memikirkan ini pada saat pipis, jadi terasa lucu.
Itu yg pertama, yang berikutnya ini juga seru. Saya sarapan di Bandung bersama teman-teman, makan siang di cengkareng lalu dilanjutkan dengan makan malam di atas Badgad! Jauh banget khan? Hahaha.. Tapi ya memang begitu. Saat itu saya memang sedang terbang menuju Istanbul.
Menu saat itu adalah nasi dengan ayam bumbu bali, lumayan lah masih bisa saya terima, hanya saja anehnya saladnya tidak disertai dressing, untungnya ada beet yang masih ada rasanya sedikit. Saya lupa pencuci mulutnya apa karena saat itu sudah sangat mengantuk karena makan malamnya hampir jam 11 malam Waktu Indonesia Barat yang berarti saya sudah diluar rumah lebih dari 14 jam.
Saya kemudian sarapan omelet dan pancake di atas Teluk Persia, lalu makan siang di Istanbul dengan menu doner kebab, sup ayam lalu ditutup dengan baklava dan kopi Turki. Nah baklava yang dibuat dengan pistaschio serta diguyur sirup gula yang pekat memang luar biasa manis sehingga sangat cocok dengan kopi Turki yang kental dan kencang. Ini makan siang luar biasa dan membuat saya terpejam ngeri ketika tahu harganya. Kebab yang panjangnya tidak lebih dari 30cm, dengan keju yang lumer ditambah pickle, sekantong ukuran medium kentang goreng, 1 mangkuk sup dan segelas soda tanpa gula, nol kalori membuat saya merogoh dompet untuk membayar makanan seharga 6 digit! Harganya hampir 2600 Lira atau hampir 60 US Dollar! Kalau memperhitungkan harga menurut saya sangat tidak sepadan. Kualitasnya saya beri angka 7 dari sekala 10. Tapi menurut saya harganya sangat mahal jika dalam Rupiah, yaitu sekitar 1 juta Rupiah. Ya sudah, bukan makanannya yang penting, melainkan pengalaman. Doner kebab sudah sering saya nikmati tapi ini merupakan yang pertama kalinya langsung di Turkiye.
Pengalaman saya belum berakhir, saya kemudian makan malam. Dimana? Di udara, di langit antara Prague dan Berlin!!! Menunya ayam dengan bumbu rosemary dan lemon, Terong dengan daging sapi cincang, smoke salmon celeriac salad, yogurt dengan mentimun dinner roll dengan butter dan cream cheese, ditutup dengan cake coklat ditemani segelas Cabernet Sauvignon.
Perjalanan panjang ini memang sangat membingungkan karena melintasi banyak garis waktu. Saya terbang ke arah Barat sehingga seolah-olah sedang berlomba dengan gerakan Matahari. Berangkat dari Turkiye hampir pukul 3 sore, lalu terbang selama hampir 12 jam ke Denver menyeberangi Eropa dan Canada tapi tiba pukul 5 sore waktu Denver. Memang tidak sekacau ketika saya terbang dari Jakarta ke Jepang lalu mendarat di Hawaii dimana seolah-olah saya kembali ke masa lampau karena saya berangkat dari Jakarta pukul 1 siang dan tiba pukul 12 tengah hari, jadi seolah-olah saya kembali ke masa lalu. Nah, kali ini saya bingung karena baru makan malam dan ketika tiba saya sudah harus makan malam lagi hahahaha.. Di atas Kanada yaitu diantara Ontario dan danau Winnipeg saya mendapat menu makan malam ala Turkiye yaitu Kofte ditemani tomato bulgur. Kofte adalah daging sapi atau lamb cincang yang dibentuk seperti baso lonjong, atau mungkin lebih tepat seperti sate buntel yang dicampur biasanya dengan bawang dan parsley cincang lalu dicampur dengan rempah rempah lalu dipanggang atau dibakar. Sedangkan bulgur tomat adalah bulgur, sejenis nasi yang dimasak dengan tomat sehingga berwarna merah. Bulgur ini sangat lazim dikonsumsi di Timur Tengan maupun Asia selatan, bentuknya agak seperti nasi walau lebih berserat, berprotein dan vitamin tinggi dan jauh lebih sehat daripada nasi. Nah 30 jam terakhir ini saya isi dengan makan, makan dan makan di atas berbagai negara dari Asia, Eropa hingga benua Amerika bagian Utara. Pengalaman yang seru sekaligus melelahkan. Itu baru cerita tentang makan, yang berikutnya akan menyusul. Saya harus balas dendam tidur dulu karena selama itu jadwal tidur saya sangat berantakan.
Foto credit: istockphoto.com