Bisnis listrik di Indonesia, sepenuhnya dikendalikan / dimonopoli oleh PLN. Amanat undang undangnya begitu. Dan itu tidak salah karena tujuannya baik, agar uangnya kembali ke negara karena menyediakan tenaga listrik bagi rakyatnya adalah salah satu kewajiban negara.
Ketika kami di Bandung sudah mulai berprogres membuat steam turbine, maka pengguna utama yang didorong pemerintah untuk menggunakannya adalah PLN.
Maka dibuatlah MoU antara Siemens Bandung dengan PLN untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap pertama buatan anak bangsa diberbagai tempat di Indonesia dengan pilot project di Timika, Papua, dayanya 4 X 7 Megawatt - dengan total perkiraan investasinya sekitar 1.5 juta USD/megawatt saat itu (sekitar 25 milyar rupiah/megawatt dengan kurs saat ini).
Proyek besar ini dikenal dengan nama Proyek PLTU MERAH PUTIH. Beritanya dimuat mana mana.
Untuk menghasilkan listrik itu, butuh alat, butuh teknologi, maka alangkah baiknya bila bisnis alat alat pembangkit listrik, juga melibatkan perusahaan negara dan perusahaan lokal lain di Indonesia.
Itulah pemikirian besar dibalik dikawinkannya perusahaan BUMN (PT NTP) dengan Siemens yang menguasai teknologi pembangkit listrik ketika itu. Agar perusahaan di Indonesia belajar sehingga kelak kita bisa mandiri membuat teknologi pembangkit listrik sendiri.
Steam turbine sendiri, terdiri dari ribuan komponen. Dan tidak ada perusahaan di Indonesia yang pernah membuatnya dalam skala besar.
Kehadiran Siemens di Bandung menjadi pelopor bagi industri pendukung manufacture komponen critical untuk juga ikut tumbuh dan belajar tentang teknologi ini.
Karena tidak pernah ada yang membuat teknologi ini sebelumnya, maka ketika ribuan komponen itu disebarkan ke berbagai perusahaan di Indonesia untuk membuatnya, perusahaan lokal tersebut juga perlu belajar, perlu berinvestasi pada mesin baru, teknologi baru dll yang sesuai dengan standard quality yang ditentukan Siemens.
Alhasil, komponen komponen yang dibuat oleh perusahaan Indonesia tersebut, harganya sekitar 2-3 kali lipat lebih mahal dibandingkan jika komponen itu dibuat di China atau India.
Dan itu wajar sekali dari sisi teknis, karena memang saat itu industri steam turbine kita baru belajar, sementara raw material, mesin dan teknologi untuk membuatnya masih diimport dari negara lain.
Beda dengan industri energi dan pembangkit listrik di India atau China yang sudah establish, sudah berpengalaman dari hulu ke hilir sehingga mereka bisa membuat berbagai produk skala masif yang harganya jauh lebih murah.
Dan dari sinilah masalahnya dimulai.
(Bersambung)
https://industri.kontan.co.id/news/pln-akan-bangun-pltu-merah-putih-15-unit