AES72 Bertualang di Tanah Pusara Air
finsjournal
Sunday November 12 2023, 12:37 AM
AES72 Bertualang di Tanah Pusara Air

Kami pergi dari Smipa dengan menggunakan dua angkot, rombongan pertama dengan Kak Asep, dan rombongan lainnya bersama saya dan Kak Shafa. Sepanjang perjalanan, teman-teman Bengawan Solo tampak antusias dengan obrolan yang tak henti, tawa riang menemani perjalanan kami. Walaupun sempat nyasar, karena salah belokan… Kami tidak panik dan berusaha tetap tenang (karena hanya Kakak sepertinya yang menyadari bahwa jalannya salah) teman-teman Bengawan Solo tetap bergembira. (^.^)

IMG_8062.JPG IMG_0018.JPG

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh Abah Lamsijan (tokoh tema SD 5) alias Mang Ajo pemilik Leuwi Goeng. Tempat yang kami kunjungi luar biasa asri, tidak menyangka ada tempat seindah ini di tengah kota, jauh dari hingar bingar keramaian area Dago. Setelah menyimpan tas dan perlengkapan, melepas lelah, kami lanjut berkenalan dengan Teh Pila, Mang Mumu, serta Mang Asep yang akan memandu petualangan kami.

Diawali dengan penjelasan dari Mang Ajo, mengapa di Leuwi Goeng tanahnya subur dan tidak kekurangan air. Ternyata sesuai arti tempatnya, ‘Goeng’ yang berasal dari bahasa Sunda artinya ‘air yang berputar’. Terdapat beberapa mata air yang muncul di area Leuwi Goeng, tak peduli debit air kiriman dari PLTA surut, wilayah ini tetap hijau dan kaya hasil kebunnya.

Setelah berkeliling sambil mendengarkan Mang Ajo bercerita, kegiatan dilanjutkan dengan survival game untuk melatih kekuatan fisik serta kekompakan kawanan Bengawan Solo. Seusai istirahat makan, teman-teman dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyusuri tambang batu tepat dibawah tanah Leuwi Goeng, menuruni tebing yang curam, teman-teman memegang tali yang sudah disiapkan Mang Ajo dan mamang-mamang lainnya menuju sungai yang mengalir ke Curug Dago. Pemandangan di bawah sana, luar biasa… Tebing batu dengan pola potongan seperti kristal, meneteskan segarnya air disela bebatuannya. Pohon aren, pohon salak, pohon pisang, pohon kaliandra, dan lainnya berdiri kokoh mempertegas gagahnya alam yang kami datangi.

IMG_8099.JPG IMG_8119.JPG

Muncul perasaan dan pikiran bahwa diri ini tidak ada apa-apanya, kecil diantara alam semesta, dan Tuhan yang memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui ciptaan-Nya. Saya tidak pernah hiking, ada perasaan takut. Namun, entah kenapa, hari itu muncul keberanian dalam diri untuk memasuki hutan, menuruni tebing curam, bersama teman-teman Bengawan Solo.

Sebelum kegiatan terakhir, teman-teman diberi waktu untuk makan bekal camilan serta eksplorasi Leuwi Goeng. Beberapa diantara mereka duduk dan makan camilan dengan tenang, beberapa lagi bermain ayunan ban, sangat menyenangkan. Saya dan Kak Shafa, teralihkan oleh indahnya bunga-bunga yang mekar disekitar kolam tempat anak-anak bermain ayunan, kami memotret beberapa bunganya.

IMG_0302.JPG 

Misi terakhir, teman-teman diberi tantangan untuk memanen singkong, meramban (memetik hasil kebun), serta membuat api untuk memasak menggunakan ‘hawu’ untuk mengukus ubi. Seru sekali melihat bagaimana teman-teman kompak menarik pohon singkong, dan mengarak singkong yang berhasil mereka cabut dari tanah. Sementara kelompok lain sibuk meniup ‘song song’ untuk membuat api, dan kelompok lainnya memetik beri, kecombrang, sereh, dan daun beri untuk diracik menjadi ramuan teh.

IMG_8183.JPG IMG_0322.JPG 20231109_122946.jpg

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, kami berkumpul untuk menikmati sajian hasil panen beri, ubi, dan teh sereh serta daun beri yang memberi kesegaran di kerongkongan. Kami melingkar sambil saling berbagi cerita dan pengalaman yang didapatkan. Mang Ajo, Mang Mumu, Teh Pila, dan Mang Asep pun membagikan petuahnya untuk teman-teman Bengawan Solo. Hal yang membuat momen ini menjadi sangat berharga adalah ketika teman-teman Bengawan Solo menyanyikan dua lagu ciptaan mereka berjudul “Bersama Sahabat” dan “Persahabatan Kita” yang dinyanyikan bersama-sama di bawah naungan langit yang cerah, dan udara yang segar, mencerminkan kondisi yang ingin diceritakan dalam lagu mereka.

Petualangan kami ditutup dengan balutan petuah yang disampaikan; Mang Ajo dan Teh Pila yang menitikberatkan pada fokus dan kompak, Mang Mumu mengatakan untuk terus bergembira dan selalu tersenyum dalam situasi apapun. Serta pesan Mang Asep untuk kita harus bangga dan mempelajari bahasa daerah sebagai bahasa Ibu. Jleb banget… 

IMG_8190.JPG 20231109_125551.jpg 20231109_125610.jpg

Semoga teman-teman Bengawan Solo dapat memaknai setiap kejadian dalam petualangan kali ini. Saya yakin, dengan kekurangan saya sebagai fasilitator, teman-teman Bengawan Solo pasti akan mendapatkan pelajaran dari manapun, dari siapapun. Aamiin.

Kita berteduh di bawah pohon rindang, sambil melihat langit yang indah

Terkadang kami bertengkar dan bermain bersama lagi…

Itulah persahabatan kita…

(penggalan lirik lagu ciptaan Kawanan Bengawan Solo)

notes: beberapa foto hasil jepretan Kak Shafa

  


   / 2
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Luar biasaa. Keren banget proses belajar kalian ini. Semoga nerap ya. Tertanam dalam batin teman² semua. Nuhuun pisan sudah berbagi kisah yang membahagiakan ini. 🙏🏼😊
finsjournal
@finsjournal   3 years ago
sami-sami, Kak Andy... semoga pengalaman belajar dan pemaknaan hidup yang holistik seperti ini bisa terjadi juga di sekolah-sekolah lain ya... semoga teman-teman di Smipa kelak bisa menyebarkan pengalaman berharga ini...
Mega
@mega   3 years ago
Ah, senang sekali mengikuti penceritaannya, kak Fifin, seolah saya ikut hadir sana. Btw, keberanian teman2 ternyata bisa menular yaa... 😁
finsjournal
@finsjournal   3 years ago
bener banget Bu Mega... hahhaha... energinya beresonansi satu sama lain... semoga lebih banyak energi positifnya ya... (>,<)