AES206 Oh gak bisa, yaudah.
leoamurist
Tuesday March 22 2022, 8:09 PM
AES206 Oh gak bisa, yaudah.

Seperti peminta-minta yang walau tampaknya seakan mengerti soal kejelasan, padahal sangat takut padanya sampai lebih senang meributkan ketidak jelasan. Pun setelah mendapatkan kejelasan akan merengek menggunakan teori usang yang selama ini berhasil diulang-ulang mempersoalkan ketidak sesuaian keinginan. Yang bahkan tidak mengerti keinginannya apa.

Yang diketahui hanya pengulangan, makanya ketidak jelasan selalu jadi hambatan. 'Oh gak bisa, yaudah' demikianlah mantranya. Kembali kepada kemudahan, kembali kepada kenyamanan yang mudah. Tidak mampu memenuhi tantangan naik pangkat menjadi yang memudahkan. Padahal kemampuan hanya soal mengubah mantra, dampaknya akan lebih cerah terasa.

Mantra 'Oh gak bisa, yaudah' itu terasa remang seperti lampu bohlam kuning lima watt jaman perjuangan. Sekarang sudah tidak relevan, karena perjuangan sudah terlampaui dan narasi produktivitas sudah beralih kepada kreativitas. Bukan pabrik produksi kan, justru manusia berkreasi lah anak dari jaman sekarang. Transformasi ini perlu mulai dari rekonstruksi definisi internal.

Belum lagi narasi profesionalisme yang usang, berganti vokasionalitas yang lebih aktual. Makanya, rasa lampu bohlam lima watt sudah perlu berganti kepada LED lima watt rasa delapan belas watt. Ramah lingkungan dan efisien energi dalam menghadapi dan berkerja bersamanya. Lagi-lagi kembali kepada narasi dasarnya, kalau masih profesionalisme kemasan vokasionalitas ya percuma.

Lampu lima watt generasi terbaru tidak ada residu gerutu, tanpa efek samping pusing, dengungan pun hampir tidak terdengar. Narasinya pun lebih positif, meluas dan menyegarkan. Seperti Oh gak bisa, yaudah berganti jadi Oh gak bisa begitu ya, kalau begini cukup membantu kah. Sehingga tidak berlindung dibalik ketidak jelasan yang selalu jadi alasan gerutuan dan lebih berani menerima kejelasan.

Memangnya, berani menerima kejelasan itu seperti apa? Jawabannya ya baca lagi paragraf sebelumnya saja. Jadi teringat hukum cara berpikir sistem yang ke delapan, highest area of leverage often the least obvious. Pertama-tama adalah menerima outcome alih-alih membela diri dengan output karena persoalan ada pada input. Karakternya lima watt atau delapan belas watt.