"Gini caranya, kita ga perlu pergi ke cafe lagi." Kata Nina sambil melahap sepotong focaccia bread dan menyeruput caramel latte yang baru saya buat pagi ini.
"That's the idea." Timpal saya pendek sambil memegang cangkir kopi dan sepotong roti menuju halaman belakang sambil bertelanjang kaki.
Saya duduk di kursi belakang yang berwarna hitam menghadapi dinding batu alam dengan beberapa tanaman keladi hitam diantara bunyi gemericik air yang keluar dari water fountain kecil yang saya letakkan di tengah-tengah.
Memang tinggal di dekat perkampungan padat di kota Bandung tidak mudah menemukan tranquility. Tapi semuanya menurut saya dapat dikondisikan dengan memfokuskan diri pada hal-hal tertentu. Itu intinya. Kita dapat berusaha pergi kemana saja untuk menemukan ketenangan, tapi akhirnya harus kembali kepada diri sendiri. Kita tidak akan pernah menemukan ketenangan jika benak kita kusut dan penuh dengan banyak hal. Kita harus mulai dari dalam lalu perlahan-lahan mempengaruhi kondisi disekitar kita. Kendali ada pada diri sendiri bukan tergantung pada kadaan di luar karena dunia itu sangat bising dan satu-satunya cara adalah menciptakan ketenangan di dalam lalu dipancarkan ke luar.
Bagaimana menciptakan ketentraman di sekitar kita? Ada sebuah iklan pabrik cat yang mengatakan demikian: Ciptakan atmosfir yang kalem, gunakan corak warna yang natural, perabotan yang lembut dan sebagainya. Nah kalau parik cat saja dapat memberikan ide, apalagi mereka yang praktik yoga, guru filsafat, psikolog, bahkan pabrik kopi! Semua yang ada di sekeliling kita memiliki ide masing-masing dalam upaya mencari ketenangan, kedamaian dan ketentraman.
Saya punya versi pribadi yaitu mencari sanctuary, tempat dimana saya dapat menemukan ketenangan, menjadi diri sendiri, dan melakukan hal-hal yang sangat saya sukai. Dulu biasanya saya mencari kedai kopi di sebuah toko buku yang kalau dipagi hari biasanya sangat lengang. Saya dapat menikmati kopi dan kue-kue, merenung, membaca, mendengarkan musik dan menulis. Itu seringkali menjadi highlite dari hari saya.
Ketika saya kembali ke Bandung, hal semacam itu sulit dijumpai. Kedai-kedai kopi di Bandung sangat ramai, banyak perokok, kue-kue dan kopinya termasuk mahal. Saya kehilangan momen-momen spesial ini. Satu lagi, usaha untuk mendatangi tempat-tempat itu juga menuntut perjuangan, jangankan menemukan tranquility, justru sebaliknya saya sudah stress terlebih dahulu sebelum menemukan tempat yang saya sukai. Pikiran saya sudah kacau ketika dalam perjalanan, tubuh saya menjadi tegang dan tense. Ketika tiba di tempat yang dituju sudah penuh sesak. Akhirnya gagal total.
Sanctuary is about freedom, the freedom to be myself! Saya ingin kembali ke nature pribadi dan itu sangat sulit. Saya sudah melakukan berbagai hal dan terus terang saya agak bangga pada diri sendiri bahwa selama ini emosi saya hampir tidak pernah terpengaruh melihat keruwetan jalan raya, tapi saya masih belajar menghilangkan ketegangan. Ini butuh waktu karena karakter orang-orang di jalan raya sangat unik. Sampai di sini saya sadar bahwa saya membutuhkan kondisi yang aman dimana saya dapat melakukan ekplorasi dari berbagai kemungkinan. Kondisi sekarang membuat saya kehilangan banyak waktu dan enerji. Begitu menemukan tempat yang menurut saya nyaman, tubuh serta pikiran saya sudah banyak terekspose hal-hal yang tidak mendukung, semakin sulit untuk menciptaan tranquility!
Orang lain bisa saja berkata bahwa segala sesuatu, semuanya, tergantung dengan kondisi di dalam. Memang betul, tapi tidak semudah yang diomongkan. Silakan coba sendiri. Saya sudah mencoba cara Kung Fu Panda untuk menciptakan inner peace hahahaha.. Sambil mengemudi ketika berhenti di lampu merah atau karena kemacetan saya memejamkan mata dan berbisik inner peace... inner peace.. Begitu menekan pedal gas perlahan-lahan ada sepeda motor nyerobot tanpa memperdulikan keamanan dia sendiri, saya terkejut menginjak pedal rem, dada berdebar-debar, mau marah saya sudah janji untuk tidak ter-kompromise, akhirnya hanya mengelus dada dan berusaha tersenyum. Dalam hati saya mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan orang sembrono tadi dari kecelakaan. Tiba di tempat, kesulitan cari parkir, tiba di dalam bau asap rokok, menemukan tempat duduk sudah terlalu hingar bingar. Kalau kata Ahok akhirnya saya berkata:"Tranquility nenek loe!" Hahahaha
Hampir 8 bulan saya terus berusaha, kadang berhasil tapi seringkali tidak. Akhirnya cuma nongkrong di kedai kopi dan ngobrol. Saya tidak bisa melakukan apa-apa dan kehilangan kebiasaan saya ini. Sedih, kecewa dan seringkali saya jadi senewen karena saya tahu sekali nikmatnya dapat menemukan sanctuary, tranquility ditambah ritual yang saya sukai. Saya bahkan sudah berusaha mencari ke luar kota! Tidak ada jaminan saya dapat berhasil. Akhirnya saya menyerah.
Beberapa bulan lalu saya kemudian menemukan ide. Saya ingin menciptakan itu semua di rumah sendiri. Sesuai dengan kemampuan, sederhana dan diusahakan semurah mungkin. Saya buat kopi sendiri, buat kue-kue sendiri, ada halaman kecil di belakang, bisa memutar musik-musik sesuai selera. Bisa membaca, bisa menulis. Memang tidak seharum di toko buku dimana ada aroma khas kopi bercampur bau buku. Tapi yang pasti sejak bangun tidur saya bisa langsung mengkondisikan berbagai hal.
Ini adalah perjalanan saya dalam menemukan hal-hal penting yang dapat saya nikmati. Saya punya kebebasan untuk menjadi diri sendiri, tidak peduli pada saat ini saya masih memakai piyama, belum mandi dan bertelanjang kaki. Yang penting saya memiliki semua yang saya cintai.
Bunyi gemericik air terus memanjakan telinga, seekor kupu-kupu kecil berwarna kuning terbang mendekat bunga petunia ungu yang tergantung di dahan pohon plumeria. Suara sepeda motor di kampung belakang sama sekali saya abaikan. Cangkir kopi saya angkat mendekati bibir, aroma harumnya tercium, sementara sedikit roti yang gurih dengan keharuman rosemary dan bawang putih memasuki tenggorokan. Saya memejamkan mata dan berbisik: inner peace... inner peace.. dan semuanya mulai dapat terlihat dengan jelas, walau sebagian hanya dalam kalbu.
Foto credit: tranquilitywellnessllc.com