AES002 Sekolah Yang Bisa Bolos
Gilangfhj
Monday September 18 2023, 9:13 PM
AES002 Sekolah Yang Bisa Bolos

"Alah, naon deui?" Itu pertanyaan yang muncul, saat aku sedang menulis judul. Ada kategori "New Value", yang belum mau aku cari tahu dulu . Tapi hari ini ternyata "Blog Category" nya sudah terisi otomatis ya?. Cukup dulu tentang teknologi, mari lanjut. 

Gagasan tersebut muncul kembali saat anaku sakit 2x (1x/bulan) saat masa sekolah di SMIPA. Kedua sakitnya memang jelas penyebab, faktor risiko, dan penanganannya. Masih seputar infeksi, udara, dan komunal. Keluargaku memang jarang memberikan obat kimia untuk sakit-sakit seperti itu atau sesuatu yang bukan mendesak. 

Semisal untuk kejadian demam, secara teori yang kami yakini dan didukung oleh habit DSA (Dokter Spesialis Anak) anak kami. Teori kedokteran barat menyebutkan bahwa demam merupakan gejala yang muncul berupa peningkatan suhu tubuh (> 37,2° C) dalam rangka "menanggapi" sesuatu baik internal atau eksternal, salah satu sumber eskternal misalnya kuman (bakteri, virus, jamur, dst). Demam pun dibutuhkan dalam kadar tertentu untuk pembelajaran tubuh agar dapat menghasilkan imun/pertahanan tubuh. Kami diajarkan oleh DSA kami, selama demam tidak dalam keadaan darurat; disertai kejang, sesak, tidak masuk makan dan minum, lebih dari 40,2° C, dan atau refrakter lebih dari 3x 24 jam, maka kami bisa berpegangan pada prinsip dasar/indikasi pemberian obat penurun demam, yaitu ketika suhu lebih dari 38,5 yang disertai anak rewel, ya betul, j.i.k.a disertai anak rewel. Semakin terbiasa tubuh beradaptasi dengan demam dan semakin tidak cepat diberikan penurun demam, maka demam bisa turun kembali. Ada hal yang menarik berkaitan dengan ini, yaitu semakin terburu-buru kita memberikan penurun demam, maka tubuh akan lebih lama sembuh...

Kejadian anak kami, dengan demam berkaitan infeksi, udara, dan komunal. Sejak bayi, kami betul-betul mempraktik-kan prinsip tadi. Kami sampai pada kesimpulan bahwa tanpa obat apapun, anak kami rata-rata menyelesaikan pembelajarannya dengan "sakit" pada durasi 1 minggu-an. Hal tersebut tentunya di awal memerlukan kekuatan mental untuk bertahan tidak memberikan obat terlalu dini, tapi kami bersyukur karena dipasangkan - didukung dengan anak kami yang hampir tidak pernah menunjukkan tanda kedaruratan, rewel, dan perubahan signifikan sekalipun dia dengan demam 42°C. 

Tentunya kami tidak mengklaim terbaik dan mendiskreditkan pilihan keluarga lain, namun begitulah cerita keluarga kami . Nah, mari masuk pada topik utama, "Sekolah yang bisa bolos". Berbicara tentang itu, salah satu gagasan kami dalam mencarikan metode belajar/sekolah untuk anak kami adalah fleksibilitas waktu. Mungkin dari sisi abah lebih berkaitan dengan teknis dan mata pelajaran, sehingga abah sejak awal memang mendambakan "homeschooling" untuk anak kami. Tapi tentunya hal tersebut berbenturan denganku hahaha. Aku tidak merasa cukup ilmu, mental, tenaga, dan waktu untuk menjalankannya. Walau di luar mungkin terlihat akur, anak-ku dan aku hampir seperti "Tom and Jerry" dengan abah yang menjadi wasitnya . Namun ternyata ketika berkaitan dengan kesehatan, seringkali aku mendambakan sekolah yang bisa bebas bolos sekolah dengan bertanggung jawab. Adakah yang merasakan hal yang sama dengan kami? . Bertanggung jawab disini yang aku bayangkan adalah dengan konsep dimana orang tua dan anak mengejar atau mengkompensasi ketertinggalan (jika memang ada) secara mandiri. Mungkin terdengar seperti gagasan kasar tapi itu murni yang kami rasakan dan dambakan . Sehingga tidak ada lagi jurang kesenjangan yang terlalu dalam berkaitan dengan topik kehadiran-bolos membolos di sekolah. Serta tidak menjadi topik alergi dan iritatif lagi di dunia pendidikan kita .

Mudah-mudahan kita semua sehat selalu 🍀.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Mantap ini tulisan keduanya. Terima kasih banyak. Waktu ngetik ini, saya juga lagi istirahat di rumah karena lagi sakit. Kenapa dulu bolos jadi sesuatu yang alergik - sepertinya karena sekolah dulu tidak menyenangkan - jadi harus dipaksa - dengan berbagai bentuk sanksi. Tapi sejauh sekolah itu menyenangkan dan bermakna, anak-anak akan bolos kalau ada sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Orang kerja juga sama. Yang penting orangtua di smipa bersedia komunikasi untuk membantu apa yang tertinggal dari proses anak di sekolah.
@joefelus punya pandangan? Gilang, oom Joe ini dulu juga guru loh... Salam.
joefelus
@joefelus   3 years ago
Setuju Kak Andy! Anak saya dulu kalau sakit malah sedih karena harus bolos. Satu hal yang ingin saya bagikan soal "mengejar ketinggalan". Nah perkataan ini menurut saya sangat mengecilkan arti pendidikan. Saya pernah diskusi dengan anak saya dalam perjalanan pulang kerja, dia bilang banyak membuang waktu di sekolah karena "mengejar ketinggalan" pelajaran yang pada akhirnya tidak digunakan dalam keseharian. Dia bilang sekolah harusnya lebih ke pendidikan karakter seperti di Smipa (dia bilang gitu loh) karena dia bilang itu yang membentuk dia dan mendorong dia untuk memiliki work ethic yang terpuji. Mangkanya dalam 2 bulan dia sudah dapat promosi. Ini testimoni sungguhan, kisah nyata hehehehe...
Gilang FHJ
@gilangfhj   3 years ago
Wah...Abah kalau baca ini rasanya pasti seperti punya suporter deh :D. Yang keukeuh dengan pendidikan karakter/kemanusiaan sebelum akademik di keluarga kami adalah Abah. Juga yang keukeuh ikutan gelar griya sejak paka usia 2.5 tahun (kalau ngga salah), itu Abahnya. Emak masih di posisi "angin-angin-an" kala itu hahaha, padahal Emak yang lebih punya masalah berkaitan dengan kehadiran di sekolah, namun Abah duluan yang mengerti bahwa solusi untuk masalahku adalah sekolah yang menyenangkan dan memanusiakan peserta didiknya :D.