Minggu babarengan Jumat (5 Desember 2025) pekan lalu bertema Pesta Lautan Emas (tema untuk SD kecil). Dress-code minggu babarengan yang berbeda dari yang biasanya saya alami selama menjadi warga Smipa. Kami, orangtua juga diminta untuk datang mengenakan kostum khusus sesuai dengan yang ditentukan. Kelas anak kami diminta untuk mengenakan kostum bertema gurun (selaras dengan tema dua di semester ini). Anak dan orangtua diminta untuk berdiskusi kostum apa yang nanti akan dikenakan. Tidak ketinggalan juga pesan dari kakak, disarankan untuk tidak membeli baru. (Ok, berarti tugasnya ada dua: berdiskusi dan menyiapkan kostum; tidak membeli baru berarti memanfaatkan barang yang ada di rumah. Begitu yang terlintas).
Stimulus tugas kostum minggu babarengan ini keren banget deh. Urusan pakai kostum aja pake diskusi dulu. Kesempatan bagi orangtua dan anak untuk ngobrol, apa yang akan dikenakan, bagaimana cara mendapatkannya, jika kostumnya dibuat sendiri bahan apa saja yang diperlukan? butuh berapa hari kostum itu dibuat? bagaimana orangtua dan anak berstrategi mengerjaan proyek kostum keluarga. (Betul ke arah sana bukan ya? Ataukah saya terlalu serius merespon tugas kostum?). Tidak disarankan membeli baru juga saya maknai sebagai semangat untuk mengurangi potensi sampah. Kalo tidak memungkinkan membuat sendiri kostumnya saya berpikir untuk meminjam kepada orang-orang terdekat.
Singkat cerita setelah saya berdiskusi dengan anak, kami sepakat untuk membuat kostum Kaktus. Suami yang sedang sering bertugas ke luar kota belakangan ini (dan untungnya sudah kembali ke Bandung saat hari babarengan), hanya menyetujui dan mendukung kesepakatan kami. Alhamdulillah juga kostumnya selesai dibuat tepat waktu. Hari Pesta Lautan Emas pun tiba! Saat sampai di sekolah, terasa sekali aura-nya berbeda. Totalitas sekali para orangtua, serius dengan kostum yang dikenakannya. Sambil menunggu dipersilakan menuju area teater (dimana pesta lautan emas di gelar), obrolan antusias, riuh tawa terdengar dari para orangtua, mengapresiasi kostum-kostum yang dikenakan, menghangatkan setiap sudut sekolah. Sambil berjalan menuju area teater, suami nyeletuk “Yang lain Antroposentris, kita yang Ekologis, menarik”. Memang jika diamati, sebagian besar menggunakan kostum dengan manusia sebagai sentral. Hanya sebagian kecil yang merepresentasikan alam, hewan, tanaman sebagai kostumnya.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan pilihan kostum itu. Celetukan spontan itu membuat saya jadi kepikiran: Boleh dong segala elemen alam, hewan dan tumbuhan juga berpesta? Sama-sama menikmati dan merayakan kehidupan. Memang dalam pesta hanya manusia yang bisa bergembira?
Saya jadi teringat kejadian tetangga yang ribut karena ada orang lain yang membuang sampah makanan busuk di lahan tempat ia suka berkebun (dan lahan itu bukan lahan miliknya tapi lahan kompleks). Dia mengomel karena merasa dirugikan. Lucunya, setiap seminggu sekali dia membawa sekantong plastik berisi sampah dari dalam rumahnya untuk dibuang secara liar. Ia begitu tekun berkebun karena hal itu mendatangkan hasil untuk dirinya. Namun tidak merawat tanah, tidak peduli dengan alam dan segala kehidupan disana, malah meracuni dengan sampah. Ia ingin mendapat manfaat dari alam namun tidak menjaga kelestarian alam. Sungguh antroposentris!
Melihat peristiwa bencana besar yang baru-baru ini terjadi di tanah Sumatera, lagi-lagi tema antroposentris terasa. Siklon tropis tidak biasa muncul di garis khatulistiwa. Bencana banjir bandang dan tanah longsor itu seharusnya tidak terjadi. Ia muncul karena perbuhanan iklim, akumulasi aktivitas manusia yang tidak harmonis dengan alam. Yang saat ini kita lihat sebagai bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bukan terjadi tiba-tiba tapi akibat perilaku antroposentris yang nyata: deforestasi, tata kelola yang lemah dan kebijakan yang tidak pro-lingkungan. Seperti fenomena dalam pesta lautan emas yang didominasi oleh kostum antroposentris. Saatnya memberi ruang bagi alam. Saya merasa diingatkan bahwa alam bernilai pada dirinya sendiri dan harus dijaga bukan melulu alam penting karena bermanfaat bagi manusia.
Terima kasih Gina. Tulisan ini menyajikan perspektif yang menarik - antara manusia dan alam. Antroposentris dan Ekologis. Semoga tulisan ini bisa jadi catatan reflektif yang bermanfaat untuk kita semua. 🙏🏼🌱